Berita

FOTO:NET

Politik

Subsidi BBM Bohong Belaka, Visi Indonesia Tuntut Petral Dibubarkan Saja

RABU, 06 NOVEMBER 2013 | 19:20 WIB | LAPORAN:

Dugaan permainan mafia minyak dalam impor bahan bakar minyak (BBM) di tubuh anak perusahaan PT Pertamina, Pertamina Energy Trading Limited (PETRAL) sudah sangat memprihatinkan.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Visi Indonesia mendapatkan informasi dari sumber di Pertamina yang mengungkap istilah 'subsidi' ternyata hanya kebohongan pemerintah belaka.

"Mendapat cerita tersebut kami sangat merasa pedih menyaksikan kerakusan para pejabat pemerintah pusat dan pejabat di Pertamina yang berkongsi dengan mafia minyak Mr. Mohammad Reza Chalid," tutur Rusdiansyah selaku Direktur Eksekutif Visi Indonesia melalui keterangannya, Rabu (6/11).
 

 
Data yang diperoleh Visi Indonesia dari sumber tersebut, beber Rusdiyansyah, menunjukkan bahwa harga premium dan solar dari Russian Oil cuma 424 Dolar AS per metrik ton atau kurang dari Rp 4.300 per liter. Lalu melalui Petral angka senilai 425 Dolar AS itu di-mark up 300 Dolar AS sehingga menjadi 725 Dolar AS. Dan dimark-up lagi oleh Pertamina hingga mencapai 950 Dolar AS. Angka inilah yang kemudian disebut sebagai harga pasar yang mengharuskan adanya istilah ‘subsidi’ dan menarik anggarannya dari APBN.

"Setiap hari, Indonesia mengimpor 350 ribu barel minyak mentah dan 400 ribu barel BBM. Bisa kita bayangkan dan hitung berapa nilai kerugian negara yang dibayarkan lewat 'subsidi' illegal ini," tekannya.

Dengan fakta yang ada ini, Visi Indonesia berpandangan bahwa pembelian BBM melalui Petral merupakan pemborosan anggaran, perampokan APBN dan tindakan memperkaya mafia BBM bersama kroni-kroninya. Untuk itulah pihaknya mendesak KPK harus cepat dan tegas memburu serta menangkap para mafia migas di Pertamina seperti Mohammad Reza beserta kroni-kroninya yang selama ini berpesta pora di atas penderitaan rakyat Indonesia. Pertal pun sebaiknya dibubarkan saja.
 
KPK juga harus menjadikan pemeriksaan kepada Direktur Utama PT.Pertamina, Karen Agustiawan, dalam kasus suap mantan kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini, sebagai pintu masuk untuk membongkar mafia minyak di Petral.

"Karen Agustiawan sangat mengenal dan sangat faham mengenai track record dari operasional Petral dan para pihak yang terkait dengan trading minyak, karena Petral berada di bawah kewenangan  PT.Pertamina, perusahaan yang dipimpin Karen," terang Rusdiansyah.[wid] 

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

TNI Gandeng Bulog Hadirkan Program Pangan Murah di Puncak Jaya

Kamis, 02 April 2026 | 03:59

Jadwal KA Ciremai Dipastikan Kembali Normal

Kamis, 02 April 2026 | 03:46

KUR dan Salah Arah Subsidi Negara

Kamis, 02 April 2026 | 03:20

Gugatan Forum Purnawirawan TNI Bertujuan agar Kasus Ijazah Jokowi Rampung

Kamis, 02 April 2026 | 02:55

Umrah Prajurit dan ASN TNI

Kamis, 02 April 2026 | 02:39

Ledakan SPBE Cimuning Turut Porak-Porandakan Pemukiman Warga

Kamis, 02 April 2026 | 02:16

JK: Kalau BBM Murah, Orang akan Pakai Seenaknya

Kamis, 02 April 2026 | 01:59

AS Beri Sinyal Belum Ingin Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 01:37

Wamen Fajar: Model Soal TKA Cocok buat Kebutuhan Masa Depan

Kamis, 02 April 2026 | 01:12

Danantara Didorong Percepat Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy

Kamis, 02 April 2026 | 00:54

Selengkapnya