Berita

Tri Dianto, si Lugu yang Bisa Bikin Kecewa Biang Kerok di Partai Demokrat

SABTU, 19 OKTOBER 2013 | 12:14 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampaknya tak akan mudah "menaklukkan" Tri Dianto, loyalis Anas Urbaningrum dan mantan Ketua DPC Partai Demokrat di Cilacap, Jawa Tengah.

Tri Dianto sedianya diperiksa KPK kemarin (Jumat, 18/10) sebagai saksi dalam kasus suap proyek pembangunan pusat olahraga nasional di Hambalang, Sentul, Jawa Barat, yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, mantan Ketua Umum Anas Urbaningrum dan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng.

Tri Dianto urung datang memenuhi panggilan KPK karena tersinggung dengan cara KPK yang menurutnya tidak elok dan tidak profesional. KPK mengirimkan surat panggilang ke alamat tiga istri Tri Dianto di Cilacap.


Tri Dianto mengatakan, tak akan memenuhi panggilan KPK sampai KPK meminta maaf atas perbuatan yang mengganggu privasi dan kenyamanan keluarganya itu.

Bahkan Tri Dianto lebih memilih dipanggil paksa daripada harus melenggang ke KPK sebelum KPK meminta maaf.

Jurubicara KPK Johan Budi Sapto Prabowo tampaknya underestimate atau menyepelekan keberatan Tri Dianto.

"Urusan dia lah ngambek," ujar JBSP ringan dalam pesan pendeknya.

Orang-orang yang mengenal dekat Tri Dianto dari dekat tahu bahwa pengusaha jamu dari Tegal itu bukan lelaki sembarangan dan kacangan. Ada Tri Dianto "yang lain" di balik penampilannya yang biasa saja, lugu dan apa adanya.

Dia sudah lebih dahulu masuk ke Partai Demokrat, bahkan jauh sebelum Anas Urbaningrum masuk ke partai yang didirikan SBY itu. Dia adalah votegather konkret di lingkungan tempat tinggalnya. Dia bukan tokoh yang tak berakar.

Kekecewaannya pada pimpinan tertinggi Partai Demokrat bukan karena karier politik Anas Urbaningrum dipermainkan untuk selanjutnya dihinakan. Melainkan karena dipicu oleh kesewenang-wenangan yang terjadi di tubuh partai.

Tri Dianto kerap berkata kepada kawan-kawannya bahwa satu faktor pendorong utama mengapa ia memilih segera bergabung dengan Partai Demokrat tak lama setelah partai itu berdiri adalah keinginannya menjadi bagian dari sebuah mesin politik yang sehat, yang mengutamakan kerja keras untuk rakyat.

Belakangan, harapan itu memudar dan akhirnya musnah sama sekali.

Tri Dianto tidak main-main mengatakan dirinya akan melawan kesewenangan Partai Demokrat. Dia tidak main-main karena ia mengenal dengan baik biang kerok di balik semua keruwetan yang melilit Demokrat dan mengorbankan Anas Urbaningrum dan teman-temannya.

Orang-orang yang mengenal dekat Tri Dianto tentu pernah mendengar cerita mengenai prilaku Nazaruddin yang mengalir dari mulutnya. Sesungguhnya Tri Dianto tengah menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan cerita itu demi membongkar tuntas topeng Nazaruddin dan permainan di balik kasus Hambalang ini juga kasus-kasus lain yang melibatkan orang-orang terdekat dengan lingkaran utama di Partai Demokrat.

Lantas bagaimana dengan cerita mengenai ketiga istrinya?

Untuk yang satu ini, orang-orang terdekat dengan Tri Dianto juga mengerti bahwa hubungan Tri Dianto dan ketiga istrinya berserta masing-masing keluarga mereka baik-baik saja.

Keempat orang itu, Tri Dianto dan ketiga istrinya, hidup rukun dan harmonis. Tri Dianto kerap memperlihatkan foto dirinya bersama ketiga istrinya yang manis-manis itu dalam pose yang menarik dan harmonik.

Tri Dianto memperlihatkan aura terganggu oleh surat panggilan KPK itu sekadar untuk memanaskan suasana, menciptakan drama, sebelum nanti dia membongkar borok di bekas partainya itu.

KPK bisa kecele kalau terlalu menganggap enteng Tri Dianto. Begitu juga dengan siapapun yang memulai kerusakan di Partai Demokrat.

Wallahualam. [dem]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya