Berita

Chun Doo-hwan/net

LAPORAN DARI KORSEL

Teror di Makam Aung San Masih Terbayang

KAMIS, 10 OKTOBER 2013 | 06:27 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

. Tiga dekade telah berlalu. 9 Oktober 1983, pagi hari sekitar pukul 10.30 sebuah bom meledak di makam pemimpin Myanmar, Aung San. Sebanyak 21 pejabat Korea Selatan tewas dalam serangan itu.

Di antara korban tewas adalah Kepala Staf Presiden Ham Beong-seok, Deputi Perdana Menteri Seo Seok-jun, Menteri Luar Negeri Lee Bem-seok dan Menteri Perdagangan Kim Dong-hwi.

Presiden Chun Doo-hwan selamat dari serangan karena tiba di lokasi beberapa menit kemudian.


Jeong Won-yeob dalam laporannya di Harian Jonggang hari ini mengatakan kenangan akan peristiwa itu masih membekas di memori keluarga korban.

"Tetapi banyak remaja hari ini dan masyarakat yang berusia 20an tahun tidak memiliki konsep yang jelas tentang teror (di makam) Aung San itu," tulisnya dalam artikel yang dimuat di halaman dua.

Pemerintah Korea Selatan, tulis Jeong, masih berdialog dengan pemerintah Myanmar untuk mendirikan monumen di lokasi serangan akhir tahun ini. Pihak Kementerian Luar Negeri yang dikutip Jeong mengatakan pembicaraan mengalami penundaan.

Monumen yang akan didirikan oleh Yayasan Saejong itu dijadwalkan selesai dibangun pada 12 Desember mendatang. Namun disebutkan bahwa tanggal ini pun masih belum pasti.

Salah satu penyebab dari tertundanya pembangunan monumen teror di makam Aung San adalah karena pemerintah Myanmar sedang berdialog alot dengan Turki.

Pemerintah Turki ingin membangun sebuah monumen untuk mengenang tentara Turki yang gugur dalam Perang Dunia Pertama. Namun masyarakat Myanmar yang mayoritas umat Buddha keberatan dengan rencana itu.

Serangan di makam Aung San diperacaya dilakukan oleh agen dinas rahasia Korea Utara. Seorang di antaranya ditembak mati sehari setelah serangan. Seorang lainnya tewas di tiang gantungan. Adapun orang ketiga yang menyiapkan serangan dihukum 25 tahun penjara. Ia meninggal dunia karena kanker hati 2008 lalu.

Pemerintah Korea Utara yang membantah terlibat dalam serangan itu menolak pemulangan jenazahnya. [guh]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

UPDATE

Donald Trump Buka Peluang Bertemu Mojtaba Khamenei

Jumat, 05 Juni 2026 | 08:19

Dolar AS Melemah dari Level Tertinggi Imbas Prospek Damai Timur Tengah

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:52

Emas dan Perak Menguat Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:40

BEI Bidik Dana Besar dari Dalam dan Luar Negeri demi Topang IHSG

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:17

Bursa Eropa Hijau, Saham Bank dan Airbus Pimpin Reli

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:06

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Kenaikan Bahan Baku Berimbas terhadap Industri Makanan dan Minuman

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:54

Artis Fabiola Gabung Sindikat Penipuan Online

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:43

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:28

Inflasi Kehormatan Letkol Teddy Indra Wijaya

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:08

Selengkapnya