Berita

syahganda nainggolan/net

Akil dan Kaum Munafikun

JUMAT, 04 OKTOBER 2013 | 11:15 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

DITANGKAPNYA Akil Mocthar dua hari yang lalu menghiasi headline media baik cetak, online dan elektronik.

Semua tokoh-tokoh bermunculan mengecam Akil dan MK, menghina dan bahkan tak kalah ganasnya Prof Jimly  meminta Akil di hukum mati. Masyarakat pun bergunjing bahwa wakil tuhan sudah tidak dipercaya lagi. Mirip ketika Professor dari kampus ITB ditangkap tempo hari, gunjingan muncul bahwa pendidikpun sudah tak suci.

Namun, apa makna dari semua ini?


Ada tiga hal penting yang perlu kita cermati. Pertama, apakah kasus AM ini adalah sebuah fenomena rangkaian efek gunung salju atau the snowball effect? Kedua, apakah kasus-kasus ini dapat memicu kesadaran kolektif bangsa untuk adanya reformasi jilid ke-2? Ketiga, bagaimana keluar dari lingkaran setan?

Kasus AM adalah rangkaian the snowball effect. Permulaannya adalah keberanian kita meninggalkan sila ke-4 Pancasila yang bersumber luhur pada budaya asli kita musyawarah dan mufakat.

Kita memilih demokrasi liberal dengan harapan partisipasi rakyat dalam politik. Kita kuatkan demokrasi liberal ini dengan desentralisasi dan otonomi daerah. Akhirnya, kita masuk pada perangkap politik uang dan transaksional dalam semua proses politik, khususnya menjadikan rakyat memilih pemimpinnya berdasarkan uang, uang dan uang.

Alhasil, setiap elit, yang berkuasa karena representasi dari partai politiknya, baik langsung maupun tidak, menjadi avant garde dalam mencari uang. Uang untuk membeli kekuasaan dan kekuasaan untuk uang.

Lalu, siapakah kita yang senang betepuk tangan ketika KPK menangkap koruptor?

Dalam bahasa kiri, kita adalah kaum reaksioner, yang tidak pernah melihat sesuatu di luar permukaan yang tampak. Kita tidak bisa melihat beyond the wall. Dalam bahasa agamanya kita adalah kaum munafikun. Kita tidak mengubah keadaan. Karena sesungguhnya kita tahu kita tidak sedang berubah.

Apakah kasus ini akan membangun kesadaran kolektif untuk perubahan? Jawabannya pasti tidak. Bahkan ketika Akil dipotong jarinya atau di hukum mati. Karena kita ada dalam suatu kaum atau bangsa munafik. Rakyat sebagai pemilih pemimpinnya suka menghujat pemimpinnya yang salah, tapi sadar bahwa dia memilih pemimpin yang salah, yang dia lakukan demi sejumlah rupiah.

Apakah ada jalan keluar? Jalan kelaurnya hanya mungkin terjadi jika ada kekuatan yang dibangun di luar sitem demokrasi yang ada sekarang. Kekuatan ini yang harus diperbesar agar mengalami efek bola salju positif yang mampu mengimbangi kekuatan sosial politik yang ada saat ini. Kekuatan ini yang harus menjadi pembeda antara yang salah dan benar. Kekuatan ini yang harus melawan dan menghancurkan kekuatan kaum munafikun yang ada.

Jika tidak, maka bangsa ini akan menemui kehancurannya.

Penulis adalah Ketua Dewan Pembina Sabang Merauke Circle


Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

UPDATE

ASEAN di Antara Badai Geopolitik

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:44

Oknum Brimob Bunuh Pelajar Melewati Batas Kemanusiaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:32

Bocoran Gedung Putih, Trump Bakal Serang Iran Senin atau Selasa Depan

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:24

Eufemisme Politik Hak Dasar Pendidikan

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:22

Pledoi Riva Siahaan Pertanyakan Dasar Perhitungan Kerugian Negara

Minggu, 22 Februari 2026 | 18:58

Muncul Framing Politik di Balik Dinamika PPP Maluku

Minggu, 22 Februari 2026 | 18:22

Bank Mandiri Perkuat UMKM Lewat JuraganXtra

Minggu, 22 Februari 2026 | 17:51

Srikandi Angudi Jemparing

Minggu, 22 Februari 2026 | 17:28

KPK Telusuri Safe House Lain Milik Pejabat Bea Cukai Simpan Barang Haram

Minggu, 22 Februari 2026 | 16:43

Demi Pengakuan, Somaliland Bolehkan AS Akses Pangkalan Militer dan Mineral Kritis

Minggu, 22 Februari 2026 | 16:37

Selengkapnya