Berita

Sayang, Belum Ada Lembaga Survei yang Munculkan Kriteria Capres yang Lebih Substansial

SENIN, 09 SEPTEMBER 2013 | 16:27 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Maraknya publikasi survei calon presiden belakangan ini dinilai semakin mempertajam persaingan antar kandidat. Survei-survei tersebut secara konsisten telah memunculkan satu nama yang kuat tetapi juga tiba-tiba bisa memunculkan nama lainnya.

Namun sayangnya belum ada survei yang memunculkan kriteria yang lebih substansial, yaitu kriteria kepemimpinan yang mengarah pada kemampuan dalam memecahkan persoalan bangsa.

Ketua DPP PAN Bara Hasibuan menilai walaupun survei-survei tersebut dilakukan dalam jangka waktu tidak terlalu berbeda dan dengan metode serta responden yang sama, survei-survei tersebut cenderung hanya mengukur popularitas dan elektabilitas.
"Sebetulnya, yang lebih penting dari itu adalah bagaimana para kandidat yang namanya disurvei mampu menunjukan kemampuan dan menawarkan ide-ide kongkrit dalam memecahkan berbagai persoalan yang tengah dihadapi bangsa ini, khususnya mengenai persoalan ekonomi," ungkap Bara (Senin, 9/9)..

"Sebetulnya, yang lebih penting dari itu adalah bagaimana para kandidat yang namanya disurvei mampu menunjukan kemampuan dan menawarkan ide-ide kongkrit dalam memecahkan berbagai persoalan yang tengah dihadapi bangsa ini, khususnya mengenai persoalan ekonomi," ungkap Bara (Senin, 9/9)..

Sejalan dengan itu, para kandidat seharusnya dapat menjadikan moment Pemilu yang saat ini berbarengan dengan situasi ekonomi yang tidak menentu untuk menunjukan ide kongkrit sebagai ukuran utama publik dalam menilai layak atau tidaknya seseorang menjadi orang nomor satu di negeri ini.

"Capres-capres yang ada saat ini harus menyampaikan pikiran dan gagasannya kepada publik. Gagasan yang konkret, yang tidak terlalu normatif, termasuk juga bagaimana implementasinya," papar Bara.

Politikus muda ini setuju dengan analogi dan anggapan bahwa survei merupakan panggung pertontonan. Namun semestinya, panggung itu dipenuhi dengan berbagai atraksi yang mencerdaskan.

"Sehingga publik dapat menilai siapa yang betul-betul mampu membawa bangsa ini lepas dari berbagai persoalan, membawa kita semakin sejahtera dan sejajar dengan bangsa lainnya, pada abad 21 yang sangat kompetitif ini," jebolan Universitas Harvard, Amerika Serikat ini. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya