Maraknya publikasi survei calon presiden belakangan ini dinilai semakin mempertajam persaingan antar kandidat. Survei-survei tersebut secara konsisten telah memunculkan satu nama yang kuat tetapi juga tiba-tiba bisa memunculkan nama lainnya.
Namun sayangnya belum ada survei yang memunculkan kriteria yang lebih substansial, yaitu kriteria kepemimpinan yang mengarah pada kemampuan dalam memecahkan persoalan bangsa.
Ketua DPP PAN Bara Hasibuan menilai walaupun survei-survei tersebut dilakukan dalam jangka waktu tidak terlalu berbeda dan dengan metode serta responden yang sama, survei-survei tersebut cenderung hanya mengukur popularitas dan elektabilitas.
"Sebetulnya, yang lebih penting dari itu adalah bagaimana para kandidat yang namanya disurvei mampu menunjukan kemampuan dan menawarkan ide-ide kongkrit dalam memecahkan berbagai persoalan yang tengah dihadapi bangsa ini, khususnya mengenai persoalan ekonomi," ungkap Bara (Senin, 9/9)..
"Sebetulnya, yang lebih penting dari itu adalah bagaimana para kandidat yang namanya disurvei mampu menunjukan kemampuan dan menawarkan ide-ide kongkrit dalam memecahkan berbagai persoalan yang tengah dihadapi bangsa ini, khususnya mengenai persoalan ekonomi," ungkap Bara (Senin, 9/9)..
Sejalan dengan itu, para kandidat seharusnya dapat menjadikan moment Pemilu yang saat ini berbarengan dengan situasi ekonomi yang tidak menentu untuk menunjukan ide kongkrit sebagai ukuran utama publik dalam menilai layak atau tidaknya seseorang menjadi orang nomor satu di negeri ini.
"Capres-capres yang ada saat ini harus menyampaikan pikiran dan gagasannya kepada publik. Gagasan yang konkret, yang tidak terlalu normatif, termasuk juga bagaimana implementasinya," papar Bara.
Politikus muda ini setuju dengan analogi dan anggapan bahwa survei merupakan panggung pertontonan. Namun semestinya, panggung itu dipenuhi dengan berbagai atraksi yang mencerdaskan.
"Sehingga publik dapat menilai siapa yang betul-betul mampu membawa bangsa ini lepas dari berbagai persoalan, membawa kita semakin sejahtera dan sejajar dengan bangsa lainnya, pada abad 21 yang sangat kompetitif ini," jebolan Universitas Harvard, Amerika Serikat ini.
[zul]