Hasil survey Lingkaran Survei Indonesia tentang penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri sedikit mengejutkan. Pasalnya, selama ini ada semacam opini yang sengaja dikembangkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia menginginkan penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri ditetapkan melalui sidang itsbat. Hasil survey ternyata membuktikan lain. Mayoritas masyarakat Indonesia justru menginginkan kepastian penentuan Ramadan lebih awal. Dan tuntutan itu hanya bisa dipenuhi melalui metode hisab.
"Mereka yang mengikuti sidang itsbat kan kelihatannya sangat percaya diri bahwa apa yang mereka lakukan sesuai dengan keinginan masyarakat. Nah, melalui survey ini terlihat secara jelas bahwa masyarakat menginginkan sesuatu yang berbeda. Ini membuka mata hati kita lah," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Saleh Partaonan Daulay, kepada Rakyat Merdeka Online, Minggu (18/8).
Kajian ilmiah seperti ini, kata dia, semestinya bisa dijadikan sebagai rujukan. Apalagi, survey diyakini dilakukan secara objektif tanpa muatan politik apa pun. Karena itu, para pengambil kebijakan tidak ada salahnya menjadikan hasil survey itu sebagai referensi dan pertimbangan utama dalam melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan sidang itsbat yang secara rutin dilakukan kemenag bersama ormas-ormas Islam.
"Saya tidak melihat sedikit pun indikasi bahwa LSI dan Denny JA punya kepentingan dibalik survey tersebut. Apalagi, Denny tidak tercatat berafiliasi dengan salah satu ormas Islam di Indonesia. Malah, dia adalah pekerja profesional yang sudah mendapat pengakuan dari berbagai kalangan. Dugaan saya, survey ini adalah salah satu bentuk charity yang dibiayai secara mandiri oleh Mas Denny," imbuh Saleh.
Selain itu, lanjut Ketua Komisi Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia, survey ini juga dirilis pada saat momentum hari kemerdekaan. Tema persatuan dan kebersamaan tentu sangat relevan pada hari-hari belakangan ini.
"Sangat wajar bila kemudian niat baik LSI dan Denny JA ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak," pungksanya.
[dem]