Denny JA kembali membuat terobosan. Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) ini membuat survei mengenai sidang itsbat penentuan Hari Raya Idul Fitri.
Ini adalah survei pertama di Indonesia dan di dunia tentang isu agama. Isu agama yang sensitif pula.
Hasil survei yang diumumkan hari ini (Minggu, 18/8), disebutkan bahwa selama ini perdebatan dan polemik mengenai kapan seharusnya Idul Fitri hanya terjadi di kalangan elit kaum agamawan. Sementara publik selama ini menjadi silent majority.
"Namun kita belum pernah mengeksplorasi bagaimana persepsi mayoritas publik Indonesia mengenai polemik awal puasa dan Lebaran. Persepsi publik ini penting diketahui pemerintah dan pimpinan ormas untuk kebijakan dikemudian hari," demikian tertulis dalam halaman pertama laporan hasil survei itu.
Survei dilakukan melalui
quick poll pada tanggal 13 dan 14 Agustus 2013 dengan metode
multistage random sampling terhadap 1.200 responden dan
margin of error sebesar +/- 2.9 persen. Survei dilaksanakan di 33 propinsi di Indonesia.
Untuk memperkuat data dan analisa, LSI juga melengkapi survei dengan penelitian kualitatif dengan metode analisis media, FGD, dan
in depth interview.
Kesimpulan survei ini mengatakan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia, tentu yang merayakan Idul Fitri, lebih percaya pada metode hisab atau perhitungan daripada metode rukyat atau melihat rembulan.
Selain itu, survei ini menyebutkan sebagian besar umat Muslim menginginkan pemerintah hanya berperan minim dalam urusan ini.
[dem]