Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA diingatkan untuk tidak sibuk mempermasalahkan sidang isbat penentuan tanggal 1 Syawal yang dipimpin Menteri Agama.
"Sebaiknya, semua bekerja dan berkomentar dengan kapasitas masing-masing. I'maluu ala makaanaitikum inni aamil," ujar Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka, KH. Maman Imanulhaq mengutip Quran surat Al An'am ayat 135.
Kyai Maman, begitu ia biasa dipanggil, mengatakan bahwa sidang isbat tetap perlu diadakan. Ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari sidang isbat. Selain kehati-hatian dalam ibadah dan menjalin ukhuwah, sidang isbat juga mengandung nilai menjaga kewibawaan negara (pemerintah) dalam meminimalisasi perpecahaan.
"Tentu, saya tidak setuju dengan dana (isbat) yang begitu fantasis, pemborosan! Tapi, coba kalau semua ormas tetap melakukan rukyah dengan keyakinan masing-masing lalu pemerintah lewat Menag memfasilitasi semua," katanya kepada
Rakyat Merdeka Online, Rabu (14/8).
Tokoh muda NU itu tekankan, dalam sidang isbat Negara hanya berperan sebagai fasilitator dan mengumumkan hasil rukyah masing-masing ormas. Jadi, dalam hal ini, tidak ada ketetapan khusus dari pemerintah.
Denny JA sebelumnya mengatakan tahun depan tidak perlu lagi dilakukan sidang isbat penentuan 1 Syawal. Menurut dia, sidang isbat yang dibiayai uang pajak yang dibayar rakyat itu memperlihatkan kepada dunia internasional seolah-olah umat Muslim Indonesia bodoh. Semestinya di jaman serba canggih seperti sekarang, tanggal 1 Syawal dapat ditentukan jauh-jauh hari.
Masyarakat luas, menurut Denny JA, pada dasarnya menunggu kepastian dari kaum ulama dan cendekia untuk berijtihad mencari kepastian tentang waktu Lebaran sehingga tak perlu menunggu sidang isbat maghrib di H-1.
[dem]