Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akhirnya menerima perwakilan massa pendemo dari Rakyat Jahit Mulut Ahok (Rajjam).
Suasana pertemuan jauh berbeda dibandingkan ketika diterima Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Kukuh Hadi Santoso di ruang Crisis Center Balai Kota DKI. Bertemu Ahok, perwakilan massa pendemo terlihat lebih tenang dan santai.
Di hadapan perwakilan massa pendemo, Ahok pun menegaskan bahwa tidak boleh ada anggota DPRD yang menjadi beking terhadap penertiban pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Tanah Abang. Terkait pernyataannya yang dianggap menyinggung Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Lulung Abraham Lunggana, Ahok mengatakan, hubungan mereka sudah cukup dekat. Karenanya ia yakin Lulung pasti bisa memahami perkataannya.
"Saya memang sakit jiwa, tetapi lulus karena ikut semua tapi lolos. Saya ketemu dengan Haji Lulung kan cium pipi kanan dan kiri. Makanya saya berani ngomong seperti itu. Saya tidak mau terlibat seperti ini. Karena saya yakin, beliau tidak mungkin melanggar Perda," kata Ahok di ruang kerjanya lantai 2 gedung Balaikota, Jakarta, Senin (29/7) petang.
Dalam kesempatan itu, Ahok juga sempat menelpon Lulung dan meminta maaf atas ucapannya yang mendeskritkan politisi PPP itu. Percakapan Ahok dan Haji Lulung diperdengarkan keras menggunakan loudspeaker.
"Iya Pak Haji Lulung, saya Ahok," sapa Ahok.
"Jujur saja, sampai saat ini saya tidak merasa menjadi pejabat publik. Kalau sikap saya, saya sudah jauh lebih baik. Saya juga tidak mau seperti ini," kata Ahok kepada Lulung.
Haji Lulung kemudian mengajak Ahok berdiskusi dengan PKL Tanah Abang untuk mencari solusi tepat terkait rencana relokasi mereka ke Blok G.
"Setuju seribu persen. Yang datang juga kalangan urban. Tapi untuk penataannya saya sarankan coba ajak tokoh-tokohnya yang ada di sana. Kita persepsikan bersama. Persoalannya mereka tersinggung karena mereka dengar soal omongan tentang saya nggak tahu tentang Perda," ujar Haji Lulung.
"Saya ingin Pak Ahok menyikapi UU 32/2004 tentang Wakil Gubernur dan norma menjalankan pemerintahan. Terlalu banyak komentar yang berkembang di luar," lanjut Haji Lulung.
"Begini saja Pak, Kalau kita bicara, akan bicara terus. Kita ketemuan saja, ngomong berdua," tanggap Ahok.
Haji Lulung memotong pembicaraan Ahok. "Jangan sampai institusi saya (DPRD) juga ngomong. Kalau Bapak sudah ngerti, itu kan Bapak ngomongin soal bego dan gila. Jadi saya bilang ke anak-anak silakan demo asal jangan rasis," ujar Lulung merespon.
"Kalau rasis saya lawan sampai mati. Terima kasih sudah tidak rasis. Tolonglah Bapak lebih mengerti, nanti kita ketemuannya ngopi-ngopi lah," timpal Ahok.
"Bapak juga jaga omongannya jangan sembarangan bilang tolol. Jangan kayak gitu," kata Lulung.
"Iya iya. Saya tahu Jakarta memang lebih banyak orang pintar. Kita ketemu biar masalah selesai, tidak panjang, stop berargumen," kata Ahok.
"Iya. Oke," jawab Lulung.
Percakapan keduanya selesai. Pendemo lantas pamitan dan Ahok membagi-bagikan kartu nama.
[wid]