Berita

ginandjar kartasasmita/net

Ginandjar Kartasasmita Tersanjung Disebut Paling Layak Jadi Wapres

RABU, 17 JULI 2013 | 22:28 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Politikus senior Partai Golkar Ginandjar Kartasasmita terkejut namanya disebut paling diinginkan masyarakat menjadi wakil presiden, berdasarkan survei kualitatif Institute for Transformation Studies (Intrans) yang dirilis Minggu kemarin.

"Saya sungguh surprised bahwa nama saya diangkat. Karena rasanya saya tidak pernah berbuat atau berkata sesuatu yang mengindikasikan minat ke arah itu," kata Ginandjar, seperti dimuat dalam wawancara di Harian Rakyat Merdeka edisi hari ini (Rabu, 17/7).

Penelitian Intrans yang digelar pada Mei-Juli 2013 ini mengukur persepsi dan sikap pemilih terhadap asosiasi atribut kandidat capres dan cawapres 2014. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif yang melibatkan 150 responden yang dibagi dalam 10 kelompok focus group discussion (FGD).

Nama Ginanjar keluar sebagai cawapres paling diinginkan karena dianggap teruji, berpengalaman serta kemampuan berdiplomasi. "Saya tentu tersanjung dan sangat menghargai adanya pandangan publik yang baik mengenai saya itu. Tapi memang selama ini saya tidak pernah berpikir ke arah sana," ungkapnya.

Seandainya ada capres yang meminta Anda jadi cawapres, bagaimana? "Ah, banyak calon lain yang sudah siap dan berminat. Kalau saya punya minat ke situ, sebagai kader Golkar dari dulu saya sudah ikut konvensi Golkar, dong. Tapi kan tidak," jawabnya.

Board of Advisor CSIS Jeffrie Geovanie sebelumnya menilai PDIP harus menggandeng tokoh senior Golkar untuk menjadi pasangan Joko Widodo. Tokoh Golkar itu harus punya kemampuan diplomasi luar negeri yang baik, mengingat Jokowi akan fokus mengurus dalam negeri. Sang cawapres juga harus punya latar belakang militer yang baik. Dan yang lebih penting, tokoh yang akan digaet itu punya peluang memimpin Golkar pasca 2015.

"Agar memiliki dasar untuk mengambil alih Golkar pada munas 2015 dan kemudian Golkar pasca munas tersebut akan berkoalisi dengan PDIP. Kalau itu terjadi, maka partai penguasa pasca 2014 adalah PDIP didukung Golkar dengan partai penyeimbang pemerintahan yang dipimpin Demokrat," tandas Jeffrie. [zul]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak Demi Penataan Kawasan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:59

Lahan Huntap Korban Bencana Harus Segera Dituntaskan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:52

Ini Identitas Delapan Orang dan Barbuk OTT Pejabat Pajak Jakut

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:12

Larangan Tambang Emas Rakyat, Kegagalan Baca Realitas

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:58

Pelapor Pandji Dianggap Klaim Sepihak dan Mencatut Nama NU

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:30

Romantisme Demokrasi Elektoral dan Keliru Baca Kedaulatan

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:08

Invasi AS ke Venezuela Bisa Bikin Biaya Logistik Internasional Bengkak

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:45

Khofifah Ajak Pramuka Jatim Sukseskan Ketahanan Pangan dan MBG

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:23

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Klok Dkk Siap Melumat Persija Demi Amankan Posisi

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:40

Selengkapnya