Berita

dipo alam/net

Politik

Dipo Alam: Jangan Jadi Pemimpin Mentang-mentang

JUMAT, 12 JULI 2013 | 15:57 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Seluruh komponen bangsa diingatkan untuk senantiasa mengedepankan konsensus dasar dalam berdemokrasi. Rakyat perlu belajar dari kudeta Presiden Mesir Mohammad Morsy oleh militer, bahwa seorang pemimpin mestinya tidak mentang-mentang.

Meski terpilih secara demokratis dengan perolehan suara 52,49 persen, setelah menang Morsy lebih mementingkan partainya, bukan  menjalankan agenda reformasi seperti janjinya dalam kampanye.

"Intinya kita harus merangkul semua kekuatan, golongan. Jangan mentang-mentang terpilih sebagai presiden, dia hanya mementingkan pihak partainya saja," ujar Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam, di Jakarta, Jumat (12/7).


Diakui Dipo Alam, dalam menjalankan pemerintahan koalisi tidak semudah seperti yang kini terjadi di Indonesia. Pada intinya, siapapun yang berkuasa, yang menginginkan perubahan, dia harus tetap mengedepankan konsensus dasar atau fundamental consensus. Selain itu, seorang pemimpin harus membuka ruang dialog guna memberi kesempatan bagi mereka yang ingin menyampaikan aspirasinya dengan tidak menyalahgunakan ruang dialog.

Dia menceritakan peristiwa yang terjadi saat Presiden SBY memberi kesempatan kepada 12 tokoh agama untuk berdialog, dimana kelompok yang menamakan diri dari lintas agama itu justru memanfaatkan kesempatan untuk melemparkan tudingan kebohongan terhadap pemerintah. Menanggapi pernyataan tokoh lintas agama itu,  Dipo Alam saat itu menyebut para pemuka agama itu sebagai burung gagak hitam pemakan bangkai yang tampak seperti merpati berbulu putih.

"Jangan mentang-mentang sudah dibuka dialog atas nama demokrasi lalu mereka mengatasnamakan rakyat menuduh presiden berbohong," kata Dipo ketika itu.

Dipo Alam menyesalkan tindakan ke-12 tokoh agama itu yang secara terbuka menuduh Presiden telah melanggar konstitusi sehingga layak untuk dilengserkan. Sementara, katanya, pemberhentian presiden dan atau wakil presiden sesuai Pasal 7A Undang-Undang Dasar 1945  hanya dimungkinkan jika ada pelanggaran hukum.

Menanggapi gerakan kelompok lintas agama yang mengatasnamakan agama masing-masing itu, Dipo  balik menuding mereka sebagai bermuatan politis. Apalagi ketika mereka kemudian membentuk Badan Serikat Pekerja Gerakan Tokoh Lintas Agama Melawan Pembohongan Publik, yang merangkul  para rektor dan mengajak mahasiswa untuk bergerak. Saat itu Di Tugu Proklamasi, Jakarta, Syafii Maarif menghasut rakyat untuk bergerak, dengan membaca apa yang disebutnya 'Surat Terbuka Kepada Rakyat', yang dibacakannya bersama beberapa tokoh lintas agama.  Tapi, kata Dipo Alam, forum rektor, mahasiswa, ataupun rakyat  tidak bergerak.

"Jangan mentang-mentang dialog dibuka mereka malah membuat deklarasi kebohongan. Mereka mengatasnamakan rakyat bahwa presiden berbohong," ungkap Dipo seperti disirakan setkab.go.id.

Demikian juga, masih kata Dipo, kelompok militer yang menjatuhkan Presiden Mursi dengan mengultimatum pihak oposisi, dan mengatasnamakan rakyat melakukan kudeta. Dia mengatakan Indonesia lebih maju dari Mesir, perubahan melalui gerakan reformasi berlangsung dengan tetap berlandaskan pada konsensus dasar 4 pilar.

"(Kudeta militer Mesir) ini juga tidak dibenarkan. Dengan kekuatan militernya mentang-mentang, dan meng-impeach presiden, serta menghapus konstitusi," pungkas Dipo. [dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya