Berita

nasaruddin umar

AWAL RAMADHAN

Wamenag Berlebihan Sebut yang Tak Ikut Pemerintah Tak Taat Ulil Amri

SENIN, 08 JULI 2013 | 15:43 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Pernyataan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam sebuah wawancara di televisi soal awal Ramadhan terus menuai protes.

Karena dia menyebut pihak yang tidak taat terhadap keputusan pemerintah dalam penentuan awal puasa dianggap tidak mengakui ulil amri atau pemimpin.

"Berlebihan beda puasa dianggap tidak taat ulil amri. Pernyataan Wamenag Nasaruddin Umar yang menyebut bahwa mereka yang berbeda puasa dengan Pemerintah dinilai tidak taat pada ulil amri terlalu berlebihan," ujar pengurus pusat PP Muhammadiyah Mamun Murod Al Barbasy (Senin, 8/7).


Berlebihan pertama, jelas Mamun, karena Wamen baru kali ini, yaitu terkait puasa, menyeret-nyeret al-Qur'an terkait ulil amri. Kalau Wamenag mau fair gunakan juga istilah ulil amri pada masalah-masalah lain.

"Beda puasa atau Lebaran tak ada kaitan dengan soal ketaatan atau delegitimasi pada ulil amri. Ini murni soal ikhtilaf yang bersifat metodologis," ungkap bekas politikus Partai Demokrat ini.

Kedua, Mamun Murod, menjelaskan kata ulil amri yang terdapat al-Qur'an Surat An-Nisa: 59. "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu."

Menurutnya, ketika hanya berhenti pada kata ulil amri, tidak tepat. Harusnya berhenti di kata minkum atau ulil amri minkum yang artinya pemimpin di antara kamu.

 'Di antaramu' oleh sebagian mufasir ditafsir sebagai 'di antara orang-orang yang beriman.' Jadi ulil amri konteks ayat tersebut adalah ulil amri yang beriman. Maka mafhum mukhalafah-nya, jelas Mamun, kalau sekiranya ulil amri-nya tidak beriman maka tak ada kewajiban taat.

"Nah, apakah ulil amri Indonesia masuk kategori beriman? Ini tentu ikhtilaf juga, bergantung siapa yang menafsir," jelas Mamun.

Karena itu,  pemerintah sebaiknya memang tidak masuk pada wilayah keagamaan yang bersifat ikhtilaf dan furu'.

"Apalagi pemerintah sampai menunjukkan keberpihakan pada kelompok tertentu, ditambah masuk pula nuansa politis di dalamnya. Pembelajaran atas beberapa beda puasa dan Lebaran, sebaiknya ke depan Menteri Agama tidak berasal dari partai tertentu," tandasnya. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya