Berita

ilustrasi: net

Tiga Faktor Radikalisme Tumbuh Subur di Kalangan Kaum Muda

JUMAT, 05 JULI 2013 | 22:31 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Fenomena radikalisme di Indonesia sungguh mencemaskan. Semakin memprihatinkan, radikalisme menyasar pelaku sekaligus korbannya di kalangan generasi muda di dunia pendidikan.

Sosiolog yang juga Direktur Youth Studies Center (YouSure) Universitas Gajah Mada, Muhammad Najib Azca, Ph.D, menjelaskan, setidaknya ada tiga faktor yang bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena radikalisme di kalangan kaum muda. Pertama, dinamika sosial politik di fase awal transisi menuju demokrasi yang membuka struktur kesempatan politik (political opportunity structure) yang baru di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian.

Najib Azca mengungkapkan itu dalam diskusi dan peluncuran Jurnal MAARIF edisi terbaru yang mengangkat tema utama “Menghalau Radikalisasi Kaum Muda: Gagasan dan Aksi” di kantor MAARIF Institute, Jakarta, kemarin.


Selain Najib Azca, juga hadir mengupas secara mendalam tentang radikalisasi kaum muda Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irjen (Purn) Ansyaad Mbai dan Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Dra. Retno Listyarti, M.Pd.

Kedua, sambung Najib Azca melanjutkan, transformasi gerakan radikal Islam yang sebagian memiliki geneologi pada awal kemerdekaan. Ketiga, tingginya angka pengangguran di kalangan kaum muda di Indonesia. “Ketiga faktor inilah yang berjalin berkelindan menyebakan radikalisme mendapat tempat yang subur di kalangan generasi muda,” ungkap Najib Azca, yang juga kontributor Jurnal MAARIF tersebut.

Sementara bagi Retno Listyarti, peran guru dalam proses pembelajaran sangat vital bagi upaya membendung radikalisme di kalangan generasi muda.

“Sejak awal, para guru perlu menyadari peran pentingnya dalam menanamkan pendidikan kewargaan yang multikultural dan anti kekerasan. Kita perlu mendiskusikan secara bernas berbagai persoalan radikalisme keagamaan dan mendorong peran aktif para siswa dalam menghalau tumbuh suburnya fenomena radikalisasi di kalangan mereka,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Riset MAARIF Institute Ahmad Fuad Fanani menjelaskan, sebagai ikhtiar untuk membendung radikalisme di kalangan kaum muda, kita memang sudah seharusnya memperhatikan secara serius proses radikalisasi kaum muda di berbagai lembaga pendidikan, baik di tingkat dasar, menengah, maupun perguruan tinggi.

Terlebih, radikalisasi kaum muda sering terjadi melalui proses pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Kurangnya diskursus keagamaan (keislaman) di kalangan siswa bahkan sebagian guru, menjadikan mereka sangat terbuka untuk menerima berbagai ideologi radikal yang dihembuskan tanpa melakukan proses filterisasi yang kritis.

"Agar kita tidak hanya mengutuk radikalisasi kaum muda tanpa mencari jalan keluar untuk mengatasinya, maka perlu dilakukan langkah-langkah nyata. Kita tidak cukup hanya mengutuk kegelapan, tapi harus segera menyalakan 'lilin-lilin' kecil untuk masa depan bangsa ini," ungkap Fuad yang juga Pemimpin Redaksi Jurnal MAARIF ini.
 
Wujud 'lilin-lilin' itu misalnya bisa berupa pengalaman advokasi, pendampingan, dan penyadaran yang dilakukan oleh lembaga-lembaga masyarakat sipil seperti MAARIF Institute dalam rangka membendung arus radikalisasi yang terjadi di lingkungan sekolah umum negeri. Selain itu, memperkuat sinergitas antara masyarakat sipil dan Negara dalam menghalau fenomena ini merupakan kebutuhan yang penting yang harus segera dilakukan. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya