Wajah revolusioner Kuba Ernesto "Che" Guevara banyak terpampang dalam kaos anak muda di Indonesia, khususnya para mahasiswa. Bahkan tak jarang gaya ala Che Guevara dengan rambut ikal terurai ditambah topi berlambang bintang banyak ditiru.
Ini menyiratkan bahwa semangat pemimpin gerilya Kuba itu telah merasuki jiwa muda Indonesia yang ingin perubahan. Pasalnya Che telah berhasil memberikan perubahan bagi rakyat Kuba. Sebagai komandan tentara revolusioner Barbutos, Che berhasil menggulingkan rezim Fulgencio Batista.
Pria bernama lengkap Ernesto Guevara Lynch de La Serna ini lahir di Rosario, Argentina, 14 Juni 1928, atau tepat 85 tahun lalu. Di usia yang masih muda, Che telah rajin melahap literatur Karl Marx, Engels dan Sigmund Freud. Inilah yang membuat darah pergerakannya berbau kiri dan anti kapitalis.
Awal karir perjuangan Che bermula saat ia pindah ke Meksiko pada September 1954 untuk bekerja di sebuah rumah sakit. Disana ia bertemu dengan sosok yang akan membawanya menjadi agen perubahan di negeri Kuba. Sosok nitu ialah Raúl Castro dan Fidel Castro.
Ia kemudian bergabung dengan pengikut Castro di rumah-rumah petani tempat para pejuang revolusi Kuba dilatih perang gerilya secara keras dan profesional oleh kapten tentara Republik Spanyol Alberto Bayo di Havana, tahun 1959. Bayo ternyata tidak hanya mengajarkan pengalaman pribadinya tetapi juga ajaran Mao Ze Dong yang berbau revolusioner kiri. Tentu ini menambah semangat bagi Che yang telah mengenyam literatur Marx di usia muda.
Pada bulan Juni 1956, saat kelompok Fidel Castro menyerbu Kuba, Che ikut ambil bagian dengan menjadi seorang dokter. Namun seiring berjalannya waktu dan atas kegigihannya, Che kemudian diangkat sebagai komandan tentara revolusioner Barbutos. Ia yang paling agresif dan pandai dan paling berhasil dari semua pemimpin gerilya dan yang paling bersungguh-sungguh memberikan ajaran Lenin kepada anak buahnya. Di arena inilah ia mendapatkan reputasi atas kekejamannya yang berdarah dingin dalam eksekusi massa pendukung fanatik presiden yang terguling Batista.
Pada saat revolusi dimenangkan, Guevara merupakan orang kedua setelah Fidel Castro dalam pemerintahan baru Kuba. Ia jugalah yang menggiring Castro ke dalam komunisme yang menuju komunisme merdeka bukan komunisme ortodoks ala Moskow yang dianut beberapa teman kuliahnya.
Che kemudian mengorganisasi dan memimpin "Instituto Nacional de la forma Agraria", yang menyusun hukum agraria yang isinya menyita tanah-tanah milik kaum feodal (tuan tanah), mendirikan Departemen Industri dan ditunjuk sebagai Presiden Bank Nasional Kuba dan menggusur orang orang komunis dari pemerintahan serta pos-pos strategis. Seperti disadur dari
Wikipedia, Che mengantarkan perekonomian Kuba begitu cepat ke komunisme total, menggandakan panen dan mendiversifikasikan produksi yang ia hancurkan secara temporer.
Di tahun 1965, Guevara meninggalkan Kuba untuk terlibat dalam perjuangan revolusioner internasional. Ia mengembara hingga ke Afrika dan akhirnya ikut berperang di Kongo. Usai dari Kongo ia melanjutkan perjuangan revolusionernya ke Bolivia pada 1967. Gagasannya masih sama, yaitu mengorganisir pemberontakan dan berharap menjatuhkan pemerintahan militer Bolivia yang pro AS dan memasang pemerintahan komunis di sana.
Namun nasib berkata lain. Pada 8 Oktober 1967 di dekat Vallegrande, Guevara tertangkap oleh pihak militer Bolivia. Atas perintah Presiden Bolivia Barrientos, Che pun akhirnya dieksekusi mati teoat di usia 39 tahun. Selepas kematiannya, sosok Guevara bukannya tenggelam, malah figurnya semakin kuat, dan menjadi simbol perlawanan terhadap praktik penindasan sistem kapitalis yang dikuasai Barat.
Dan tepat di hari ini waktu Kuba (Jumat, 14/6), pejuang revolusioner itu merayakan hari jadinya yang ke 85 tahun. Ya, selamat ulang tahun Bung Che Guevara.
[ian]