Berita

ilustrasi

Kenaikan BBM Persekongkolan Jahat Pemerintah dengan Mafia Migas!

JUMAT, 14 JUNI 2013 | 23:44 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Penolakan atas rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi kian meluas. Masyarakat nelayan yang berhimpun dalam Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membatalkan kebijakan tersebut karena akan memukul rakyat, khususnya para nelayan yang hampir 60 persennya mengeluarkan biaya produksi untuk penyediaan BBM.

"Kami menyadari negara terpuruk dalam utang namun jawabanya bukan menaikan BBM. Melainkan berantas mafia migas dan koreksi secara fundamental kesalahan penghitungan harga migas yang berakibat Indonesia dijebak dalam skema harga pasar dan menderita kerugian sangat besar," ujar Dewan Pembina Dewan Pembina KNTI, M. Riza Damanik, dalam keterangannya kepada Rakyat Merdeka Online, Jumat (14/6).

Selain itu, kata dia, harusnya pemerintah juga menghentikan pemborosan dan korupsi dalam program rakyat, termasuk proyek pengadaan 1000 kapal dan revitalisasi tambak Denfarm Pantura Jawa. Bukan terhadap seluruh salah urus ini rakyat kemudian dipaksa membayarnya melalui skema utang luar negeri dan penghapusan subsidi BBM.


Riza membeberkan alasan kenapa nelayan dan petambak tradisional yang merupakan tulang punggung pemenuhan pangan dan perekonomian nasional mendesak rencana menaikkan harga BBM harus dibatalkan. Pertama, secara klimatologi, naiknya harga BBM pada semester II 2013 tidak tepat. Sebab, saat ini Indonesia tengah dipengaruhi oleh maiden-julian oscillation dan dipole mode negatif di Samudera Hindia, membuat musim hujan dan kemarau makin tidak menentu waktunya. Dalam situasi seperti ini ekonomi nelayan mengalami pelambatan.

Kedua, secara ideologis naiknya harga BBM adalah praktik ketidakadilan dan melanggar Konstitusi. Sebab kenyataannya, pemerintah belum pernah sungguh-sungguh menyelenggarakan sistim logistik terpadu untuk nelayan dan petambak.

Terbukti, kata Riza, selama ini BBM bersubsidi belum tersalurkan, bantuan modal usaha tidak terselenggara, sistem informasi produksi, pemasaran, hingga perlindungan usaha bagi nelayan dan petambak tidak tersedia.

"Atas kondisi ini, kenaikan BBM akan memicu naiknya nilai impor pangan perikanan hingga sebesar 40 persen, angka kemiskinan di kampung nelayan bertambah 50 persen, dan pencurian ikan berpeluang naik 40 persen dari yang terjadi tahun 2012," pungkas dia.[dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya