Berita

mega-sby

Megawati harus Tunjuk Jokowi sebagai Capres Kalau Tak Mau Jadi Oposisi Lagi

SELASA, 11 JUNI 2013 | 22:23 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri termasuk tokoh yang percaya pada hasil survei yang menggunakan metodologi ilmiah.
 
Karena itu, Megawati diyakini akan menunjuk Joko Widodo sebagai calon presiden dari partainya. Alasannya, elektabilitas Gubernur DKI Jakarta itu paling moncer berdasarkan temuan hampir semua lembaga survei.

Apalagi, ujar Direktur Eksekutif Institute for Transformation Studies (Intrans) Saiful Haq (Selasa, 11/6), saat ini Mega juga sedang gencar menyiapkan kader mudanya untuk jadi pemimpin.


"Ibu Mega sudah melakukan itu dengan mencalonkan kader-kader mudanya, misalnya Ganjar Pranowo di (Pilgub) Jawa Tengah, dan Rieke Diah Pitaloka di Jawa Barat. Saya pikir itu menunjukkan Mega sedang menyiapkan generasi lapis baru PDIP. Itu sangat positif untuk perkembangan politik Indonesia," jelas Saiful Haq.

Menurut Saiful Haq, kalau Mega jika memang tidak ingin lagi jadi oposisi, tidak ada jalan lain kecuali mencalonkan Jokowi. "Kalau dia melaunching capresnya sebelum pemilihan legislatif 2014, PDIP diyakini menjadi pemenang mayoritas," imbuhnya.

Sama dengan Mega, sambung Saiful Haq, Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono juga sangat percaya dan bahkan selalu menggunakan survei sebagai landasan dalam menentukan sikap politik. "Ini berbeda dengan tokoh-tokoh senior lain yang tidak percaya pada metodelogi ilmiah dalam menentukan pilihan politik," imbuhnya.

Sejak pilpres 2004 lalu sampai saat ini, Saiful Haq menjelaskan, SBY secara konsisten percaya dan terus mengamati hasil-hasil  survei yang ada.

Karena itu, SBY pasti tahu bahwa saat ini dua figur yang memiliki elektabilitas tinggi dibanding tokoh-tokoh lain. Yaitu, Jokowi dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.  "Satu karakternya sangat merakyat. Kedua, karakternya tipikal Orde Baru. tegas, cepat, sedikit otoriter," ungkapnya.

SBY, dalam hemat Saiful Haq, akan memilih figur yang berbeda karakternya dengan Jokowi dan Prabowo atau mungkin juga sebagai jalan tengah di antara kedua figur tersebut.

"Otomatis pilihan SBY, pada figur muda, punya background pendidikan yang bagus, lebih santun, berwibawa. Kalau kita melihat survei, nama Gita Wirjawan ada di 10 besar. Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan) sangat berpeluang menjadi kuda hitam Demokrat untuk menghadapi Jokowi dan Prabowo. Apalagi Gita punya karakter hampir sama dengan SBY," ungkapnya.

Meski begitu, lanjut Saiful Haq, masih terbuka kemungkinan apakah Jokowi dan Gita akan berhadap-hadapan atau menjalin komunukasi untuk bersama-sama di Pilpres 2014. Kemungkinan itu menurutnya fifty-fifty.

"Nggak ada yang nggak mungkin dalam politik. Saya pikir PDIP harus rasional. Kalau pun dia meraup suara di legislatif 30 persen misalnya, dengan mencalonkan Jokowi, akan sangat sulit menjalankan kebijakan di parlemen. Makanya harus menggandeng partai politik empat besar. Menggandeng Golkar, Aburizal Bakie, berat. Jadi ada peluang untuk berkoalisi (PDIP-Demokrat)," tandasnya.

Board of Advisor CSIS (Center for Strategic and International Studies) Jeffrie Geovanie, sebelumnya menyebutkan bahwa Pilpres 2014 akan menjadi pertarungan para tokoh-tokoh muda. Dua di antara tokoh muda itu adalah Gita Wirjawan dan Joko Widodo.

Gita maju sebagai capres tak lepas dari terobosan SBY yang menerapkan metode konvensi. "Dugaan saya, Megawati pun akan iklas melepaskan tiket pencapresan PDIP pada Jokowi yang semakin melejit elektabilitasnya saat ini," imbuh Jeffrie. [zul]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya