Berita

Politik

CENTURYGATE

Tidak HMP, Akar Masalah Benturan Timwas DPR dan KPK

JUMAT, 07 JUNI 2013 | 15:15 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pakar hukum tata negara Irman Putra Sidin tidak aneh dengan sering terjadinya benturan antara KPK dan Timwas Century DPR. Akar terjadinya benturan bermula dari pilihan DPR menyerahkan penyelesaian masalah Century ke penegak hukum yang salah satunya adalah KPK.

"Level KPK dan Timwas itu sama, makanya sering bentrok. Saya pernah mengingatkan kepada DPR agar level yang mereka miliki dinaikkan ke konstitusi, selesaikan masalah Century dengan mekanisme konstitusional dengan Hak Menyatakan Pendapat. Bukan dengan menyerahkannya ke penegak hukum," kata dia.

Irman menuturkan sejak lama dirinya mempertanyakan kenapa DPR tidak menyelesaikan Century dengan mekanisme hak menyatakan pendapat (HMP). Penyerahan penuntasan ke penegak hukum akan memunculkan ketegangan baru. DPR seolah-olah menodongkan pistol di kepala Istana, dan Istana pun tidak mau kalah dengan menodongkan pistol di perut DPR, sementara yang disuruh menarik pelatuknya penegak hukum.


"Akibatnya, ketika masalah Century ditindaklanjuti oleh fungsi-fungsi DPR lainnya maka akan mengalami benturan karena akan berdebat di level undang undang seperti yang terjadi sekarang ini," imbuhnya.

Irman mengatakan Timwas Century DPR dan KPK selevel, namun perdebatan di level undang undang yang membuat kedua intitusi ini seringkali bentrok. Sementara kalau DPR menaikkan levelnya dari angket ke penggunaan hak menyatakan pendapat maka persoalan tersebut tidak akan ada. Bahkan, paling kasus Century akan terselesaikan hanya dalam waktu enam bulan.

"Selesai bukan berarti Boediono terjungkal dari posisinya sebagai wakil presiden. Tapi ada kepastian hukum dari lembaga kepresidenan secara konstitusional. Tujunanya agar perjalanan kita lima tahun ke depan tidak diperdebatkan dalam persoalan ini terus. Itulah kenapa saya mempertanyakan kenapa DPR tidak menyelesaikan masalah Century dengan mekanisme konstitusional," tandas Irman.


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya