Berita

KPK, Century Kasus Sederhana!

SENIN, 27 MEI 2013 | 20:03 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Untuk kesekian kalinya komitmen Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntaskan megakorupsi bailout Bank Century dipertanyakan. KPK dinilai mengulur-ulur penanganannya, padahal indikasi korupsi dalam kasus yang merugikan keuangan negara Rp 6,7 triliun itu sudah terang benderang.

"Pertama, Bank Century dana pihak ketiganya kurang dari Rp 2 triliun, itupun kalau dana Budi Sampoerna dimasukkan. Kalaupun benar alasan mengamankan Bank Century berakibat sistemik dan lain-lain, maka dana Rp 2 triliun sudah cukup. Tapi mengapa justru yang dibayarkan jadi Rp 6,7 triliun. Dari sini saja aspek kriminalnya sudah jelas," kata ekonom senior yang juga Menteri Kordinator Perekonomian era Presiden Gus Dur, DR. Rizal Ramli, kepada wartawan, Senin (27/5).

Indikasi megakorupsi kedua, kata Rizal, terkait pengucuran dana bailout yang dilakukan dengan cara dicicil selama delapan bulan. Padahal di negara manapun di seluruh dunia, penyelamatan bank  hanya butuh waktu paling lama dua hari.


Ketiga, sebagian besar bailout untuk Bank Century dibayarkan dengan transaksi tunai. Ini jelas sangat aneh karena di seluruh dunia bailout menyelamatkan bank cukup dilakukan dengan transfer.

"Kita jadi bingung dengan KPK. Jelas-jelas kasus ini sangat sederhana," imbuh Ketua Aliansi Rakyat Untuk Perubahan itu.

Dia  menduga tersendatnya penuntasan mega korupsi ini karena beberapa komisioner KPK punya hubungan cukup erat dengan kekuasaan. Akibatnya mereka tidak sungguh-sungguh melakukan penyelidikan dan penyidikan.

Selain itu, faktor penyidik di KPK jadi penyebab lain tersendatnya penanganan kasus Century. Penyidik yang menangani kasus ini diganti setiap enam bulan sekali yang  membuat pemahaman tim penyidik selalu mulai dari awal lagi.

"Ini tidak mungkin tanpa permainan satu atau dua pimpinan di KPK. Ini kasus tidak sulit-sulit amat, tapi ada yang mau ditutup-tutupi, ada yang mau dilindungi," demikian Rizal yang belum lama ini dinobatkan jadi capres paling reformis versi survei Lembaga Pemilih Indonesia (LPI). [dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya