Partai Keadilan Sejahtara terkenal dengan kesolidan massanya. Pasalnya, PKS merupakan partai kader.
Karena itu, kasus suap impor daging sapi yang membelit mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq tak akan menggoyahkan para kadernya, justru malah menguat dan semakin solid.
Demikian disampaikan pengamat politik Rico Marbun kepada Rakyat Merdeka Online (Jumat, 24/5).
"Kalau saya melihat ada perbedaan antara efek krisis politik pada PKS dan pada Demokrat. Karena PKS kental dengan nuansa sebagai partai kader, krisis ini justru dianggap sebagai serangan terhadap eksistensi kader secara personal. Sehingga justru kader PKS terlihat menyatu," jelasnya.
Kesolidan itu pula yang membuat PKS berhasil memenangkap pemilihan gubernur Jawa Barat dan Sumatera Utara. Padahal, kasus suap impor daging sapi meledak pada Januari sementara kedua pilgub tersebut digelar masing-masing Februari dan Maret.
"Kalau perilaku solid diperlihatkan terus oleh PKS, bisa jadi mereka akan bertahan elektabilitasnya," jelas akademisi dari Universitas Indonesia ini.
Hal ini terlihat dari hasil Media Survei Nasional (Median) yang dirilis belum Jumat pekan lalu. Elektabilitas PKS tetap tertahan.
"Sebenarnya karena
margin of error, bisa dikatakan urutan 1 dan dua diperebutkan oleh Golkar dan PDIP. Nomor 3 diperebutkan oleh PKS, Demokrat dan Gerindra," sambung sambung Direktur Eksekutif ini.
Hasil survei Median menunjukkan Golkar berada di urutan pertama dengan 17,1 persen, Kedua PDIP (16,7 persen), PKS peringkat ketiga dengan (7,2 persen), diikuti Partai Demokrat (7,1 persen), Partai Gerindra (6,5 persen), Partai Kebangkitan Bangsa (5,6 persen), Partai Persatuan Pembangunan (5,2 persen), Partai NasDem (3,7 persen), Partai Amanat Nasional (3,5 persen), Partai Hanura (1,3 persen), Partai Bulan Bintang (0,6 persen) dan PKPI (0,1 persen).
"Bisa juga ini menurut saya karena
swing voter di PKS sedikit, lebih banyak pemilih loyalnya. Itulah kenapa suaranya relatif stabil, walau tidak naik," ungkapnya.
Pada Pemilu 2009 lalu, hanya PKS dan Partai Demokrat yang mengalami kenaikan jumlah prosentase suara dibanding Pemilu 2004. Meski peningkatan suara PKS tidak sesignifikan Partai Demokrat. Saat itu, PKS meraup suara 7,8 persen (berada di urutan empat); sedangkan Demokrat 20,85 persen, menjadi pemenang Pemilu.
[zul]