Berita

ilustrasi/ist

Reformasi Dibajak Kekuatan Neolib!

RABU, 22 MEI 2013 | 16:46 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Setelah reformasi berlangsung 15 tahun, kesejahteraan rakyat tetap rendah, penegakan hukum lemah, sementara korupsi makin merajalela. Hanya dalam bidang politik saja agenda reformasi tidak melenceng jauh. Demokrasi dan kebebasan berpendapat tumbuh mengalami kemajuan.

Begitu antara lain catatan Ketua Aliansi Rakyat Untuk Perubahan, DR. Rizal Ramli, dalam pernyataan tertulis kepada wartawan, Rabu (22/5), terkait kondisi kekinian kehidupan bangsa setelah reformasi sukses melengserkan rezim Soeharto Mei 1998 lalu.

"Secara makro pertumbuhan ekonomi kita bagus, tapi rakyat tidak "makan" yang makro ini. Rakyat butuh pekerjaan, butuh daya beli lebih baik, butuh harga-harga terkendali dan dalam hal ini banyak terjadi kemunduran," ungkap dia.


Di kawasan Asean, tingkat kesejahteraan rakyat di Indonesia berdasarkan indikator index pembangunan manusia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), terendah setelah Philipina, Thailand, Malaysia dan Singapura. Angka pengangguran sangat tinggi. Klaim pemerintah statistik pengangguran sebesar 6 persen muncul dari kriteria bekerja hanya 1 jam dalam seminggu. Sementara bila mengacu definisi bekerja di negara-negara lain, yaitu 35 jam per minggu, angka pengangguran Indonesia bisa sekitar 30 persen. Atau satu dari tiga orang Indonesia hidup menganggur.

Di lain hal, penguasaan asing  terhadap aset-aset produktif di Indonesia seperti tambang, perbankan dan lain-lain semakin luas. Asing dapat menguasai 50 hingga 70 persen di sektor-sektor tersebut.

"Pengingkaran-pengingkaran ini terjadi karena reformasi dibajak oleh kekuatan ekonomi neolib. Terjadi missing link antara tujuan reformasi yang indah-indah dengan yang terjadi sekarang," kata Rizal Ramli yang juga anggota tim Panel Ahli PBB.

Sistem ekonomi neolib, katanya, membajak reformasi melalui agenda amandemen UUD 45 yang drafnya sejak awal memang dipersiapkan pihak-pihak asing, diterjemahkan, kemudian digolkan di DPR MPR. Peraturan perundangan setelahnya banyak yang merupakan pesanan asing, yang kepentingannya bukan untuk rakyat.

Calon Presiden paling ideal versi Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) ini menambahkan, setelah 15 tahun reformasi, praktik korupsi makin gawat. Uang rakyat digerogoti bahkan sejak masih dalam pembahasan anggaran. Pejabat pemerintah dan anggota DPR kongkalikong mencuri triliunan uang negara. Namun penegakan hukum masih tajam ke bawah tumpul ke atas. Indonesia, katanya, sangat demokratis tapi hukum tidak jalan dengan baik. Singapura tidak demokratis tapi hukumnya jalan. Untuk rakyat dan investor, penting sekali demokrasi juga ada law enforcement karena dengan begitu akan merasa dilindungi. 

Menteri Kordinator Perekonomian era Pemerintahan Abdurrahman Wahid ini tegaskan, tidak banyak harapan kesejahteraan rakyat akan bisa diwujudkan pemerintahan sekarang karena jelas-jelas sangat neolib. Penunjukkan Chatib Basri sebagai menteri keuangan menambah daftar panjang "kemesraan" rezim SBY dengan pola pikir neolib. Chatib menganggap nasionalisme sebagai barang tidak penting dan harus dimasukkan ke kantong.

Harapan reformasi bisa membawa manfaat buat rakyat dan demokrasi dirasakan manfaatnya oleh rakyat, tegas capres alternatif versi The President Center ini, ada di pemerintahaan yang baru. Begitu juga dengan law enforcement. Pemerintahan yang datang harus betul-betul memperjuangkan kepentingan nasional, dorong pertumbuhan ekonomi di atas 10 persen dan di saat bersama dibarengi dengan kebijakan sosial yang agresif di bidang kesehatan, pendidikan, perumahan, kebutuhan pokok dan dasar masyarakat.

"Ini kunci agar semangat reformasi benar-benar dirasakan rakyat," pungkas Rizal Ramli. [dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya