Chelsea berhasil memastikan gelar juara Liga Europa setelah mengalahkan Benfica 2-1 (0-0) dalam laga final Liga Europa di Amsterdam Arena, Belanda, dini hari kemarin WIB. Persembahan indah Rafael Benitez sebagai manajer yang bakal hengkang dari Chelsea.
Dua gol Chelsea dihasilkan Fernando Torres menit 59 dan Branislav Ivanovic di masa injury time. Benfica sempat menyamakan skor lewat penalti Oscar Cardozo menit 68.
Sukses itu tak lepas dari perhatian para suporter klub. Dengan fair, para pendukung ‘Si Biru’ memberi tepuk tangan sambil berdiri untuk Benitez dan para pemain Chelsea yang melakukanparade kemenangan di atas lapangan.
Terkait hasil laga dan apresiasi dari para fans, menurut Rafa harus ada suatu pembuktian terlebih dahulu sebelum mengharapkan apresiasi dari orang lain.
Selain itu, dia menilai asuhnya telah menunjukan komitmen yang kuat di masa-masa transisi klub saat ini.
“Ini adalah sebuah tim yang sedang dalam transisi dengan para pemain muda jadi cukup sulit di awal. Saya cukup puas ketika mereka memiliki seorang manajer yang mereka tahu akan pergi di akhir musim, mereka tetap memperlihatkan komitmen. Kami sudah mencetak 145 gol dan itu adalah rekor di klub. Anda mesti menang sebelum orang mengapresiasi pekerjaan yang Anda lakukan,†kata Rafa.
Sekadar catatan, datang ke Stamford Bridge bulan November lalu dengan predikat sebagai mantan manajer Liverpool, sejumlah suporter Chelsea langsung memberikan reaksi negatif atas Rafa. Buruknya hubungan antara Rafa dengan suporter Chelsea di masa lalu menjadi alasannya.
Tekanan dari suporter itu bahkan membuat Benitez berjanji akan pergi akhir musim nanti, alias tidak akan berusaha mendapatkan kontrak sebagai manajer permanen. Alhasil, Benitez berhasil menuntaskan musim ini justru dengan trofi, menjadi pembuktian kemampuan dirinya kepada fans dan pihak-pihak lain yang sudah meragukan kemampuannya.
Sedangkan di kubu lawan, meski menelan kekalahan pelatih Benfica, Jorge Jesus mengaku tetap bangga dengan tim besutannya. Penilaiannya, Benfica sudah tampil sangat baik, lebih baik daripada Chelsea, karena Benfica tampil lebih dominan dan lebih banyak membuat peluang.
“Saya bangga ketika Johan Cruyff memeluk saya di akhir pertandingan dan bilang kepada saya bahwa Benfica adalah tim sebenarnya, memainkan sepakbola dengan gaya yang dia sukai. Para pemain merasa tidak pantas kalah. Di akhir pertandingan mereka merasa ditembak mati,†ungkapnya di situs UEFA. [Harian Rakyat Merdeka]