Berita

teguh soedarsono/ist

Politik

LPSK Tolak Tak Independen Lindungi Lim Shan Ce

RABU, 15 MEI 2013 | 15:40 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Anggota Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Teguh Soedarsono membantah lembaganya tak independen melindungi Sanusi Wiradinata alias Lim Shan Ce. LPSK melindungi Sanusi sejak adanya keputusan Rapat Paripurna LPSK 1 April 2013 lalu karena kapasitasnya sebagai whistleblower.

"Permohonan perlindungan yang diajukan SW telah memenuhi syarat formil dan materiil permohonan perlindungan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, sehingga SW layak masuk dalam program perlindungan LPSK," kata Teguh dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Rabu (15/5).

Dijelaskan dia, LPSK memberikan perlindungan terhadap Lim Shan Ce bukan selaku tersangka kasus perkosaan, melainkan karena posisinya sebagai whistleblower kasus dugaan korupsi yang saat ini sedang ditangani aparat penegak hukum. Perlindungan diberikan LPSK karena informasi penting yang dimiliki, dan tingkat ancaman yang dialaminya dalam kasus tindak pidana korupsi yang melibatkan sejumlah pejabat dalam lingkaran mafia hukum. Dalam posisinya sebagai whistleblower, Lim Shan Ce berhak mendapatkan jaminan perlindungan dari LPSK sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.


"Sejumlah peraturan perundang-undangan telah mengatur suatu penghargaan dan jaminan perlindungan terhadap seorang whistleblower, dan menurut penilaian LPSK, dia telah memenuhi syarat sebagai whistleblower," imbuhnya.

Teguh menyayangkan sikap sejumlah pihak yang menilai Lim Shan Ce tidak layak dilindungi LPSK karena posisinya sebagai tersangka kasus dugaan perkosaan yang saat ini ditangani Polda Metro Jaya. Proses hukum yang sedang dijalani Lim Shan Ce sebagai tersangka sedang ditangani aparat penegak hukum dan saat ini sedang berjalan tentunya di luar kewenangan LPSK.

"LPSK berharap aparat penegak hukum terkait dapat memperhatikan posisi dia sebagai whistleblower yang saat ini masuk program perlindungan LPSK, karena dikhawatirkan munculnya berbagai upaya untuk membungkam dalam membongkar kasus korupsi yang diketahuinya," imbuh Teguh.

Teguh pun mengingatkan tudingan yang dilayangkan sejumlah pihak atas perlindungan yang diberikan LPSK kepada seorang whistleblower dapat dipidana. Tindakan yang menghalang-halangi atau memaksakan kehendak agar seorang saksi tidak memperoleh perlindungan dapat dikenai pidana sesuai ketentuan Pasal 37 dan Pasal 38 Undang-Undang No 13/2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban dengan ancaman pidana maksimal tujuh tahun.

Sebelumnya diberitakan, Safersa Yusana Sertana, bekas sekretaris pribadi di kantor advokat Lucas SH  melaporkan Sanusi Wiradinata ke Polda Metro Jaya pada 3 Mei 2012 atas dugaan pemerkosaan dan penganiayaan. Sementara Sanusi meruapakan pengusaha yang dekat dengan Lucas, dan disebut-sebut hendak mengungkap praktek mafia hukum yang dilakukan Lucas.[dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

BRI Catat 6.022 Debitur KUR di Pangkalpinang, Didominasi Petani Sawit

Senin, 29 Juni 2026 | 22:23

Mengenal Emission Trade System

Senin, 29 Juni 2026 | 22:06

KPK Perpanjang Penahanan ASN BPK Sumsel Titin Rita Lestari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:52

DPR Minta Polisi Segera Penjarakan Penganiaya Caddy di Tangerang

Senin, 29 Juni 2026 | 21:36

Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Perkuat Resiliensi Media demi Pembangunan Papua

Senin, 29 Juni 2026 | 21:34

Ahmad Muzani Bicara Potensi Wisata Religi Saat Temui Ketua MPR Uzbekistan

Senin, 29 Juni 2026 | 21:32

Bupati Muara Enim Edison Masih Nginep di Rutan KPK dalam 40 Hari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:14

DMO dan RKAB Harus jadi Prioritas Amankan Pasokan Batu Bara

Senin, 29 Juni 2026 | 20:44

Hampir Rampung, Sekolah Rakyat Kementerian PU di Bekasi Usung Gentengisasi

Senin, 29 Juni 2026 | 20:36

Brasil vs Jepang: Duel Raksasa di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Senin, 29 Juni 2026 | 20:28

Selengkapnya