Berita

ilustrasi/ist

Politik

Boneka Baru Didandani Monyet Lama Bersolek Lagi

MINGGU, 05 MEI 2013 | 21:52 WIB | OLEH: M. HATTA TALIWANG

APAKAH pihak asing (kapitalis global) cuek terhadap pemilu baik Pileg maupun Pilpres di Indonesia? Tentu tidak. Hampir pasti ada pertarungan kepentingan antara "penguasa lama dunia" yang dipimpin Amerika Serikat dengan "calon penguasa baru dunia" yang dipimpin Republik Rakyat Cina.

Terlalu dungu bagi mereka membiarkan Pemilu berlangsung "apa adanya" dengan membiarkan kekuatan nasional Indonesia menentukan sendiri secara demokratis arah kemimpinan dan kepentingan nasionalnya.

Apalagi, membiarkan kekuatan nasional untuk membawa bangsa ini tumbuh mandiri berdikari berdasarkan cita-cita para founding fathers Soekarno dan Hatta. Itu sesuatu yang mustahil. Karena penguasa dunia telah merasakan nikmatnya menguras minyak,  emas, gas, batu bara, hasil hutan, uang dan lainnya yang tidak pernah kering dari perut bumi Indonesia, dimana elit-elit dan mayoritas rakyatnya bangga menjadi antek, babu dan kuli yang mengabdi untuk tuan asing.


Penguasa dunia dengan segala ilmu premannya tidak sudi negeri cantik ini jatuh dalam orbit "pesaingnya", dan tidak akan membiarkan negeri surga ini diatur sendiri oleh  pejuang-pejuang nasionalistik. Karena, hanya dari tiga jenis sumber daya alamnya yaitu minyak, gas dan batubara saja bernilai 56 ribu triliun. Bahkan tiap tahun Indonesia dikuras untuk asing senilai lebih kurang Rp 14 ribu triliun namun tidak pernah bangkrut.

Jadi tidak penting bagi preman dunia apakah di sini terjadi pertumpahan darah, bila perlu terus diadu domba, terjadi kemiskinan luar biasa atau apapun. Yang mereka butuhkan adalah secara terkalender lima tahun sekali lahir calon antek baru yang mengabdi pada kepentingan keserakahan mereka.

Pileg dan Pilpres yang katanya perwujudan demokrasi, tidak lebih hanya proses seleksi antek baru yang perannya cuma sebagai Gubernur Jenderal zaman penjajahan Belanda, mungkin sekaligus daur ulang penjahat-penjahat yang menggerogoti negara.

Mulai tampak gelagat boneka-boneka baru sedang didandani, monyet-monyet lama bersolek lagi untuk siap kontes. Indonesia  mau (dibawa) kemana, tuan?[***]

Penulis adalah Direktur Eksekutif Institut Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH)

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Ruang Digital Kondusif Faktor Penting Jaga Stabilitas Ekonomi dan Politik

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:03

Dibungkam Maung Bandung 2-1, STY Sebut Pemain Persija Belum Maksimal

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:43

Kuliah Koperasi untuk Feri Amsari

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:18

Gagasan Anti-Penjajahan Soemitro jadi Modal Bangsa Hadapi Dinamika Global

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:55

BRI Gelar Kick-Off BRIncubator 2026 Songsong Akselerasi UMKM Naik Kelas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:33

Ziarahi Makam Bung Karno, Muzani Tegaskan Indonesia Rumah Bersama

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:12

Penentu Tingkat Kesuksesan suatu Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:43

Ikan Gabus Baik untuk Ibu Pascamelahirkan, Begini Penjelasannya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:17

Indonesia-Thailand Makin Mantap Jaga Kawasan Selat Malaka

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:58

Utang Pinjol Warga RI Naik 25,88 Persen, Tembus Rp105 Triliun Hingga Juni 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:30

Selengkapnya