Berita

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

MANUFACTURING HOPE 75

Fokus Baru Untuk Sela-sela Hutan Jati

Oleh: Dahlan Iskan, Menteri BUMN
SENIN, 29 APRIL 2013 | 09:16 WIB

. Sudah dimulai: penanaman porang secara masal untuk meningkatkan penghasilan petani di sekitar hutan jati. Lokasinya di Mrico Kecut, kawasan hutan yang terletak antara kota Blora dan Cepu.

Sabtu pagi lalu, lebih 1.000 orang berkumpul di tengah hutan jati tersebut. Mereka terdiri dari 120 kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 10 orang. Ketua kelompoknya adalah karyawan Perhutani yang sudah dididik bagaimana menanam porang yang benar.

Perum Perhutani, BUMN yang mengelola hutan jati di seluruh Jawa dan Madura, memang memiliki program untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk di sekitar hutan. Terutama untuk memanfaatkan tanah di selasela pohon jati.


Berbagai tanaman sudah dicoba: jagung, empon-empon, ketela, jarak, dan banyak lagi. Tapi hasilnya sangat minim. Para petani tetap melakukan itu mengingat sesedikit apa pun hasilnya tetap lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Setahun terakhir ini direksi Perhutani terus mengevaluasi tanaman apa yang sebenarnya paling cocok untuk petani di sekitar hutan jati. Emponempon (temulawak, kunyit, kunyit putih, jahe) sebenarnya tumbuh dengan sangat baik. Misalnya di hutan jati dekat Randublatung. Sabtu siang itu saya diagendakan melakukan panen empon-empon tersebut. Hasilnya sangat baik. Tapi harga empon-empon tidak terlalu menjanjikan. Pasarnya pun terbatas. Proses pasca panennya pun tidak mudah. Terutama proses pengeringannya yang harus standar. Ini karena empon empon tersebut akan dipergunakan untuk jamu.

Seorang petani yang selama ini menanam jagung juga senasib. “Satu hektar paling besar bisa menghasilkan jagung senilai Rp 500.000,” katanya di acara temu petani tersebut.

Ta­naman jarak, seperti yang di­la­kukan di Purwodadi, lebih kecil lagi: hanya Rp 150.000 per hektar. Bahwa mereka tetap me­nanam komoditi-komoditi ter­sebut hanyalah karena dari­pada tidak ada penghasilan sama sekali.

Mengingat luasnya hutan jati milik Perhutani, tetap saja harus ditemukan cara terbaik untuk memanfaatkannya. Daripada di sela-sela pohon jati itu hanya di­tumbuhi rumput liar. Di Ka­bu­paten Blora sendiri, seperti di­ke­mukakan Bupati Blora saat itu, hampir separo (49 persen) wi­layah kabupaten itu adalah hu­tan jati Perhutani.

Setelah setahun diskusi dan evaluasi dilakukan, jatuhlah kesimpulan: tanaman porang adalah tanaman yang paling tinggi nilai ekonominya. Satu hektar bisa menghasilkan Rp 30 juta per tahun. Ini berdasarkan pengalaman para petani porang di hutan jati Nganjuk, Jatim. Padahal satu petani bisa saja menanam porang sampai tiga hektar. Bahkan di Nganjuk itu, petani porangnya sudah menjadi juragan kecil-kecilan: mempe­kerjakan buruh panen dari wi­layah lain. Ini karena kian lama hasil porangnya kian banyak dan petani tidak sanggup lagi memanennya sendiri.

Masalahnya: untuk penana­man pertama, hasilnya baru bisa dipanen dua tahun kemudian. Se­lama menunggu dua tahun itu­lah yang perlu dipikirkan pe­tani dapat hasil dari mana. Se­dang tanaman jagung bisa panen dalam waktu empat bulan.

Tim Perhutani, seperti di­ke­mu­kakan Dirutnya, Bambang Sukmananto,  akhirnya mene­mu­kan cara ini: bagi hasil. Pe­tani, seperti di hutan Mrico Ke­cut tadi, melakukan penanam terus-menerus setiap hari. Me­reka akan dibayar sesuai dengan luasan tanaman yang mereka kerjakan. Kian rajin mereka me­nanam kian besar bayarannya. Tiap bulan, petani akan men­da­pat bayaran sekitar Rp 700.000. Bisa lebih besar kalau rajin dan bisa turun kalau malas. Selama dua tahun menunggu, mereka hidup dari bayaran ter­sebut. Saat panen tiba, mereka mendapat ba­gian separo dari hasil porangnya.

Porang (sejenis umbi-umbian suweg) relatif mudah penangan­annya. Tidak banyak hama dan tidak perlu perawatan yang be­rat. Cukup hanya mem­bersihkan rum­putnya. Bayaran Rp 700.000 per bulan itu memang kecil, tapi jam kerja mereka juga tidak pan­jang. Mereka bekerja hanya em­pat jam sehari. Sisa jam ke­r­janya bisa tetap untuk mencari penghasilan lainnya.

Perhutani juga akan men­di­ri­kan pabrik porang di Blora. Tahun depan pabrik itu mulai dikerjakan, sehingga di tahun 2015, saat panen porang per­tama dilakukan pabriknya su­dah berdiri. Bupati Blora sangat ber­suka cita. Inilah industri per­tama yang akan berdiri se­panjang se­jarak Kabupaten Blora modern.

Bagi Perhutani mendirikan pabrik porang tidak lagi sulit. Perhutani sudah mulai berpe­ngalaman. Sudah setahun ini memiliki pabrik tepung porang kecil-kecilan di Pare, Kediri. Kapasitasnya memang baru 500 ton per hari tapi hasil usahanya sangat baik. Tepung porangnya memenuhi standar inter­nasio­nal. Pembelinya sampai antre. Ter­uta­ma dari Tiongkok dan Jepang. Tepung porang memang menjadi bahan baku kue, kos­metik, dan obat-obatan. Praktis, pa­sar te­pung porang tidak terbatas.

Karena baru ada satu pabrik tepung porang, maka pasar luar negeri tidak sabar. Seorang pe­ngusaha dari Malaysia dan be­berapa pedagang dari Tiongkok terus datang ke Indonesia: ingin investasi di porang. Saya sudah minta kepada Perhutani untuk tidak membuka pintu dulu. Ma­sih terlalu banyak petani kita yang perlu ditolong.

Mesin-mesinnya pun bisa dibuat di dalam negeri. Seperti mesin yang di Pare itu buatan Sidoarjo, Jatim. “Sudah setahun ini tidak pernah rewel,” ujar Pak Kasim pimpinan pabrik porang di Pare itu. Bahkan Kasim bisa mengoperasikan pabriknya se­tahun penuh tanpa berhenti. Padahal, menurut peren­ca­na­an­nya dulu, pabrik itu akan mirip pabrik gula: hanya bekerja enam bulan setahun.

Memanfaatkan sela-sela ta­naman jati di hutan yang be­r­juta-juta hektar luasnya itu akan terus menjadi fokus Perhutani. Bahkan, bisa jadi, hasil tanaman selanya ini bisa lebih besar dari hasil hutan jatinya. Ini me­ngi­ngat jati baru bisa dipanen se­te­lah 20 atau 30 tahun. Saya bertekad kabupaten Blora yang miskin bisa menjadi penghasil porang terbesar di dunia.

Ini akan melengkapi identitas Blora yang selama ini lebih di­kenal sebagai tempat kelahiran tokoh-tokoh besar seperti Pra­moedya Ananta Toer, Benny Murdani, dan tentu wartawan pertama Indonesia: sang pe­mula, Adisuryo!

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Purbaya Soal Pegawai Rompi Oranye: Bagus, Itu Shock Therapy !

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:16

KLH Dorong Industri AMDK Gunakan Label Emboss untuk Dukung EPR

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:05

Inflasi Jakarta 2026 Ditargetkan di Bawah Nasional

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:04

PKB Dukung Penuh Proyek Gentengisasi Prabowo

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:57

Saham Bakrie Group Melemah, Likuiditas Tinggi jadi Sorotan Investor

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:51

Klaim Pemerintah soal Ekonomi Belum Tentu Sejalan dengan Penilaian Pasar

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:50

PN Jaksel Tolak Gugatan Ali Wongso pada Depinas SOKSI

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:48

Purbaya Optimistis Peringkat Utang RI Naik jika Ekonomi Tumbuh 6 Persen

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:32

IHSG Melemah Tajam di Sesi I, Seluruh Sektor ke Zona Merah

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:27

Prabowo Dorong Perluasan Akses Kerja Profesional Indonesia di Australia

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:16

Selengkapnya