.Kasus kematian akibat serangan jantung pada usia muda semakin sering ditemukan. Kebiasaan merokok, mengkonsumsi alkohol dan makanan berlemak dan kurang olahraga merupakan faktor risiko gangguan jantung koroner.
Sebelumnya, presenter olahraga kondang, Ricky Jo (43), meninggal di usia yang masih relatif muda akibat serangan jantung.
Penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian utama di Indonesia. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan, sekitar 29 persen atau 17,1 juta pasien meninggal tiap tahunnya di dunia, karena sakit jantung.
Di Indonesia, angkanya tak jauh beda. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional (SKRTN) pada tahun 1991 menyebutkan, angka kematian mencapai 16 persen. Namun, pada tahun 2001, melonjak menjadi 26,4 persen. Angka kematian diperkirakan mencapai 53,5 per 100.000 penduduk di Indonesia.
Menurut Direktur Utama Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPD) dr Hananto Andriantoro, serangan jantung arteri koroner terjadi karena adanya penyempitan pada pembuluh darah. Hal disebabkan oleh plak akibat timbunan kolesterol yang terlalu tinggi dalam darah.
“Jika penyempitan pembuluh darah koroner mencapai 80 persen, maka hanya 20 persen saja yang dapat dilewati darah. Kondisi ini menyebabkan darah mengental atau menggumpal. Sehingga tidak ada darah yang bisa lewat ke jantung,†paparnya di acara peluncuran Absorb Bioresorbable Vascular Scaffold, di Jakarta, Kamis (11/4).
Dia mengingatkan, penyempitan pembuluh darah, tidak memandang usia. Biasanya serangan penyakit ini ditandai dengan gejala rasa sakit dan berat di tengah dada, napas pendek, rasa sakit pada rahang atau lengan, mulas, mual, muntah dan berkeringat.
Hananto menyebutkan, lakilaki paling rentan terkena serangan jantung dibanding wanita. “Kaum wanita jarang sekali terkena serangan jantung mendadak di kisaran umur 40 tahun bahkan hampir tidak pernah ditemukan,†katanya. Dia menjelaskan wanita yang terkena serangan jantung sebagian besar di atas 10 tahun setelah masa menopause.“Hampir dipastikan wanita tidak akan terkena jantung koroner pada usia produktif,†katanya lagi.
Hananto menjelaskan, ada dua faktor risiko dari kematian mendadak penyakit jantung. Pertama, faktor keturunan atau genetik. Kedua, faktor usia dan jenis kelamin.
“Keduanya memiliki risiko penyakit jantung berbeda-beda pada setiap orang. Untuk faktor genetik, tergantung pada kadar lipoprotein dalam darah. Semakin kuat faktor genetik mempengaruhi bila kadar protein tinggi. Semakin tinggi kadar protein, maka semakin tinggi risiko serangan jantung,†jelasnya.
Agar terhindar dari serangan jantung, dia menyarankan, menjaga gaya hidup dengan menghindari makanan berlemak, rokok, alkohol dan rajin olahraga.
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJNHK), Dr Doni Firman mengatakan, ada sekitar 35-40 persen yang meninggal karena serangan jantung.
Sementara gejala lainnya, seperti sakit dada, lalu menjalar ke lengan kiri dan leher seperti tercekik sekitar 60 persen. Bahkan penyakit ini gejalanya mirip masuk angin, yaitu sakit di ulu hati, kadang-kadang diiringi kembung yang disertai dengan denyut nadi yang lemah, cepat dan banyak keringat.
Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler (PP Perki) Dr dr Rochmad Romdoni meminta pemerintah agar melakukan pencegahan terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah ini.
Salah satunya, dengan memproteksi jenis makanan yang terlalu banyak mengandung lemak dan gula. Selain itu, proteksi terhadap makanan yang banyak mengandung alkohol dan rokok.
Menurutnya, upaya preventif pemerintah menangani penyakit jantung dinilai masih kurang dibanding dengan negara lain, seperti Amerika Serikat, Australia dan Finlandia.
“Padahal jumlah penderita penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia terus meningkat sekitar 20 persen,†katanya.
Ppenderita penyakit jantung tidak selalu harus diberikan pengobatan. Penyuluhan akan bahaya dan pencegahan dinilai sangat efektif untuk menurunkan risiko penyakit jantung.
Batuk Diyakini Dapat Normalkan Denyut JantungBatuk ternyata bisa menormalkan irama denyut jantung seorang yang mengalami serangan jantung.
Hal tersebut diungkapkan, pakar penyakit jantung dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKU), dr Iwan Dakota, di acara peluncuran Absorb Bioresorbable Vascular Scaffold, di Jakarta, Kamis (11/4).
Menurut Iwan, dengan irama denyut jantung yang stabil, maka aktivitas pembuluh darah dapat normal kembali.
“Si penderita disuruh batuk terlebih dahulu, karena dengan begitu jantung akan terangsang dan kembali normal,†sarannya.
Namun, batuk bukan satusatunya cara awal menangani serangan jantung mendadak. Jika serangan jantung terjadi, si penderita sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit untuk ditangani lebih lanjut. Hal ini juga untuk menghindari
sudden death (kematian mendadak).
Direktur Utama Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPD), dr Hananto Andriantoro menambahkan, saat ini, teknologi penanganan penyakit yang menyerang organ vital ini makin canggih. Bahkan teknologi Indonesia diklaim terbaik di Asia Pasifik.
“Di Rumah Sakit Harapan Kita misalnya, terdapat teknik ablasi. Proses ini diklaim mampu menghancurkan jaringan atau membuat parutan di bagian jaringan yang dicurigai menghalangi sinyal listrik jantung, yang menyebabkan serangan mendadak,†terang dr Hananto.
Dia menerangkan, teknik ablasi ini pertama kali digunakan di Indonesia, dan bersaing dengan negaranegara Asia. “Kita harus belajar banyak dari Taiwan dan Jepang yang lebih unggul menggunakan teknik tersebut,†ungkapnya.
Selain teknik ablasi, metode pemasangan cincin atau
stent di pembuluh darah juga bisa dilakukan. Pemasangan stent ini, merupakan tindakan minimum invasif untuk menanggulangi sumbatan pada pembuluh darah.
“Penggunaan
stent tujuannya untuk membuka pembuluh darah yang tersumbat. Resiko dari tindakan ini lebih kecil dari pada operasi
by pass yang merupakan operasi besar,†ujarnya.
Menurut Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJNHK), dr Doni Firman, keputusan pemasangan cincin atau operasi
by pass harus berdasarkan pada parahnya sumbatan.
“Meskipun tindakan minimum invasif lebih kecil risikonya, namun ada keadaan-keadaan tertentu yang dapat menyebabkan kegagalan tindakan tersebut. Hal ini yang harus diantisipasi oleh pasien,†tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]