Berita

presiden sby/ist

Antara SBY, Kopassus dan Presiden Sipil

JUMAT, 12 APRIL 2013 | 09:22 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

SELANG dua pekan setelah pembunuhan Sleman yang melibatkan Kopassus, SBY memberikan pendapat bahwa presiden hasil Pilpres 2014 baiknya dari sipil.

Lalu muncullah polemik sipil vs militer dalam capres mendatang. Bersamaan dengan rencana SBY malakukan konvensi capres. Spekulasi muncul bahwa SBY tidak mendukung Prabowo, mantan danjen Kopassus yang diproyeksikan menang tahun 2014. Namun, ini juga dapat berarti SBY mengobarkan rivalitas lama antara dirinya dengan militer tipe Wiranto.

Sejarah mencatat bahwa korps militer "intelektual" dalam group (alm) Agus Wirahadikusumah, SBY dan Saurip Kadi menjadi bahan olok-olokan militer di akhir masa Suharto. Group ini mewacanakan militer kembali ke barak dan profesional, jauh dari politik. Bahkan, mereka meminta Kodam dibubarkan.


Letjen (p) Syarwan Hamid, misalnya, memahami sifat SBY yang suka mendebatnya sebagai atasan kala itu karena SBY mendapatkan pendidikan elit militer di USA. Namun, dia menyayangkan isu pembubaran Kodam.

Meskipun SBY menantu  pendiri Kopassus dan iparnya eks Danjen kopassus, namun secara psikologis SBY lebih menikmati posisinya sebagai militer "intelektual".

Oleh karenanya, kekejaman Kopassus di Sleman boleh jadi menggugah kesadaran SBY betapa bahaya bila kepemimpinan nasional jika jatuh di tangan eks petinggi Kopassus, maupun TNI garis keras seperti Wiranto.

Dalam "public lecture" di hadapan pemuda (KNPI) beberapa bulan lalu, SBY pun mengatakan demokrasi tidak butuh pemimpin yang kuat.

Sikap SBY ini, sebagai presiden yang berkuasa, tentu akan mempengaruhi politik 2014. Setidaknya, konvensi capres Partai Demokrat akan menghasilkan kalangan sipil sebagai kandidat capres. Dan ini akan mempengaruhi pertarungan capres, khususnya isu demokrasi, sipil dan militer. [***]

Penulis adalah aktivis politik, Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle, dan mahasiswa program doktoral Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia (UI).

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya