Berita

kereta rel listrik (KRL) kelas ekonomi

KRL Ekonomi Dihapus Rakyat Kecil Pun Teriak

Tiket Commuter Line 3 Kali Lebih Mahal
SELASA, 26 MARET 2013 | 09:44 WIB

Rencana penghapusan kereta rel listrik (KRL) kelas ekonomi ditentang pengguna kereta. Kebijakan itu dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil yang banyak menggunakan moda transportasi murah dan cepat ini.

KRL Ekonomi merupakan tumpuan jutaan masyarakat commuter yang bekerja di Jakarta. Desi, seorang warga Depok misalnya. menyatakan, dia sangat keberatan jika KRL Ekonomi benar-benar dihapuskan. Pasalnya, harga tiket KRL Commuter Line lebih mahal tiga kali lipat daripada KRL Ekonomi. Untuk Depok-Jakarta, harga tiket KRL Ekonomi hanya Rp 2.000, sedangkan Commuter Line Rp 8.000.

“Satu kali beli tiket Commuter Line bisa untuk dua hari pulang pergi naik KRL Ekonomi. Saya tetap naik KRL Ekonomi karena pertimbangan harga,” ujarnya saat ditemui di Stasiun Depok Baru, kemarin.


Desi yang sehari-hari naik kereta menuju Tebet ini juga mengeluhkan sedikitnya jumlah rangkaian KRL Ekonomi yang beroperasi. Akibatnya, dia tidak bisa naik KRL Ekonomi setiap kali dibutuhkan.

Hal senada dikatakan Saepul, warga Bogor yang ditemui di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Menurutnya, rencana penghapusan KRL Ekonomi memberatkan rakyat kecil. Seharusnya, kata Saepul, pemerintah berkaca dan melihat penderitaan rakyat.

“Yang banyak naik kereta kan rakyat kecil. Bayangkan apa jadinya jika KRL Ekonomi dihapuskan. Beban kami jadi semakin berat,” keluhnya.

Mestinya, kata Saepul, pemerintah memberikan bantuan subsidi bagi penumpang kelas ekonomi. Sebab, setiap BUMN punya misi PSO (Public Service Obligation) atau kewajiban melayani masyarakat.

Sebagai informasi, mulai Juli 2013, seluruh rangkaian KRL Ekonomi yang melintasi wilayah Jabodetabek akan dihapuskan. Nantinya KRL Ekonomi akan diganti KRL AC yang pengoperasiannya dilakukan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek. Mulai April ini dua rute KRL Ekonomi akan dihapus.

Kepala Humas PT KAI Daerah Operasi 1 Jakarta Agus Sutijono menjelaskan, sebelum penghapusan KRL Bogor, tahap awal pihaknya akan menghapus KRL Ekonomi lintas Bekasi dan Serpong pada April 2013. Lalu dilanjutkan penghapusan KRL Bogor secara bertahap sampai Juli 2013.

Penggantian KRL Ekonomi ke AC ini, kata Agus, tidak akan mengganggu jadwal perjalanan. KRL Ekonomi tidak akan hilang karena akan langsung diganti KRL Commuter Line.

Salah satu alasan penarikan KRL Ekonomi ini karena usia kereta yang sudah tua. Rata-rata kereta yang dibuat tahun 1974 ini, memiliki kendala perawatan. Seperti sudah langkanya spare part (suku cadang) kereta di pasaran, bahkan sudah tidak diproduksi lagi.

“Kami pun harus melakukan sistem kanibal dengan spare part kereta yang sudah tidak beroperasi,” ujar Agus.

KRL Ekonomi, lanjutnya lagi, juga kerap kali mogok di tengah perlintasan rel, sehingga mengganggu seluruh perjalanan KRL di lintasan Jabodetabek.

Sepanjang 2012 misalnya, ada 1.228 perjalanan KRL Ekonomi yang terganggu. Akibatnya, sebanyak 4.217 perjalanan KRL AC atau pun KRL Commuterline terganggu hingga akhir 2012.

“Penyebab kereta mogok itu bervariasi, mulai dari motor penggerak serta mesin kereta yang mendadak mati,” tambahnya.

Selain itu, penumpang yang menggunakan KRL Ekonomi sejak 2010 sudah menurun. Terhitung mulai 2009, warga yang menggunakan KRL Ekonomi sebanyak 86,6 juta penumpang. Lalu pada 2010 menjadi 69,3 juta penumpang.

Tahun 2011 kembali turun menjadi 56 juta dan pada 2012  turun lagi menjadi 46,5 juta penumpang.

Suku Cadang Sudah Tak Ada Di Pasaran


Rencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) menghapus kereta rel listrik (KRL) Ekonomi di Jabodetabek dinilai perlu mempertimbangkan para penumpang.

Pengamat kereta api dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Aditya Dwi Laksana mengatakan, penghapusanKRL Ekonomi secara tidak langsung akan berdampak kepada ongkos yang akan dikeluarkan penumpang yang notabene wong cilik.
 
Dia menilai, subsidi pemerintah bisa dilakukan dengan menambah dana public service obligation (PSO) yang sudah ada. Menurutnya, selama ini dana PSO suka terlambat cairnya dan tidak 100 persen mampu diserap. Hasilnya, PT KAI kerap menalangi biaya operasional kereta kelas ekonomi.

Alternatif lainnya, kata Aditya, dengan menaikkan tarif KRL Ekonomi. Namun, itu sulit mengingat dari sisi armada, KRL Ekonomi sudah tidak layak. Dari sisi harga pun, sebesar Rp 2.000 dinilai terlalu murah dibanding armada darat lainnya.

“Padahal dari sisi jarak tempuh, jangkauannya cukup jauh untuk armada Jabodetabek,” katanya.

Rencana penarikan KRL Ekonomi, menurut Aditya, bagaimana pun patut disambut.

Mengingat kondisi kereta itu sudah tidak layak dari sisi keselamatan maupun kenyamanan. Namun, beranekaragamnya pengguna kereta api, disebut-sebut menjadi penyebab kereta itu juga layak dipertahankan.

“Kalau di luar negeri kereta sudah single class. Semua sudah memakai AC,” tandasnya.

PT KAI menyatakan sudah mulai menarik KRL Ekonomi di Jabodetabek, seperti di Tangerang. Menurut Kepala Humas PT KAI Mateta Rijalulhaq, kereta ekonomi yang sekarang masih beroperasi sudah tidak andal lagi. Kereta buatan tahun 1974 itu sudah berlubang di mana-mana dan suku cadangnya sudah tidak ada.

“Keputusan penghapusan KRL Ekonomi diambil demi memprioritaskan keselamatan penumpang. Kondisi KRL Ekonomi sangat memprihatinkan, sehingga kami mengajak penumpang memanfaatkan KRL Commuter Line walau harga tiketnya lebih mahal,” jelas Mateta.

PT KAI, lanjut Mateta, berharap penarikan seluruh KRL Ekonomi selesai dilakukan pada Juni, seiring penerapan tiket elektronik oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) serta sterilisasi stasiun. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya