.Meninggalnya beberapa orang sakit yang tidak mendapatkan kamar di rumah sakit Jakarta, menjadi salah satu topik diskusi dies natalis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia awal bulan ini.
Sejak diberlakukannya Kartu Jakarta Sehat (KJS), jumlah orang yang datang ke rumah sakit memang meningkat tiga kali lipat. “Ibaratnya, digigit nyamuk pun sekarang masuk rumah sakit,†ujar seorang dokter di forum itu. “Akibatnya, yang sakit sungguhan tidak kebagian tempat,†tambahnya.
Saya mencatat seluruh pemikiran para dokter hari itu. Ini karena PT Askes (Persero) yang sekarang masih di bawah Kementerian BUMN harus bisa menyiapkan diri untuk menyambut era baru: mulai 1 Janurai 2014 nanti 86 juta orang miskin harus dilayani keperluan kesehatannya secara gratis. Pertanyaan besarnya: siapkah Askes?
Dirut PT Askes yang baru, Dr dr Fachmi Idris, beserta seluruh jajarannya, hari-hari ini konsentrasi penuh untuk mempersiapkan semua itu.
Waktu tidak banyak lagi. Internal masih banyak masalah yang harus diselesaikan: bagaimana status pegawai Askes nanti setelah Askes bukan lagi BUMN, bagaimana jenjang karirnya, dan seterusnya.
Ketika menyaksikan mereka tampil dengan penuh percaya diri (ada yang bicara dalam baÂhasa Mandarin, Canton, dan sebagian lagi dalam bahasa IngÂgris), saya angkat topi pada para TKW itu. Juga kepada para insÂtruktur yang sudah berhasil memÂbuat mereka berubah.
Antonius Tanan, Rektor UniÂversitas Ciputra EntÂreÂpÂreÂneurÂship Center dan timnya rupanya tiÂdak hanya telah mengajar tapi lebih-lebih telah memotivasi mereka.
Antonius rupanya berhasil menemukan faktor utama untuk memotivasi mereka: keluarga. Semua wanita yang pergi ke Hongkong untuk menjadi TKW itu adalah mereka yang berjuang untuk keluarga.
Lebih dari 2/3 yang ikut proÂgram ini berstatus ibu rumah tangÂga. Mereka meninggalkan anak yang masih kecil dan suami mereka. Hanya dorongan yang amat kuat untuk memperbaiki ekonomi keluargalah yang memÂbuat mereka rela berpisah berÂtahun-tahun.
Tentu anak-anak mereka amat sedih tumbuh tanpa ibu. Anak-anak itu juga amat rindu pada kasih sayang ibunda. Kesedihan dan kerinduan anak-anak yang ditinggal di kampung itulah yang direkam dalam bentuk video dan diputar di depan kelas. Kelas bisnis itu hening. Lalu terdengar isak tangis. Mereka menangis. Juga saya. Juga Dirut Bank ManÂdiri Zulkifli Zaini.
Tapi di kelas itu Antonius tidak mau menimbulkan kesan bahwa mereka adalah ibu-ibu yang tega. Antonius lebih memÂberikan gambaran betapa Sang Ibu sebenarnya juga amat sedih meninggalkan anak-anak kecil mereka. Sang Ibu meninggalkan anak-anak itu bukan karena tega tapi justru demi anak itu sendiri. Demi masa depan mereka. PenÂdidikan mereka. Meninggalkan anak untuk anak itu sendiri.
Memang kenyataannya baÂnyak ibu yang lantas tergantung pada penghasilan sebagai TKW. Selesai kontrak dua tahun meÂreÂka balik lagi ke Hongkong dua taÂhun berikutnya. Berikutnya lagi. Begitu seterusnya hingga baÂnyak yang sudah delapan taÂhun masih juga belum bisa kemÂbali berkumpul dengan anak.
Bisnislah yang akan bisa memÂbuat mereka kembali berÂkumpul dengan keluarga. KeÂrinduan akan keluarga itu harus jadi motivasi utama untuk meÂmulai bisnis.
Ilmu diberikan. Cara disiÂmuÂlaÂsikan. Jalan ditunjukkan. TaÂbuÂngan ada. Kemampuan diÂmunÂculÂkan. Percaya diri sudah tingÂgi. Tekad sudah membaja. TeÂrÂutÂama tekad untuk kumpul keluarga.
Melihat semua itu, hari itu, saya putuskan tidak jadi pidato. Tidak jadi mengajar. Pidato suÂdah tidak akan penting lagi. MeÂreka sudah begitu siap memulai bisnis di kampung masing-maÂsing. Saya hanya menyampaikan keyakinan bahwa mereka bisa.
Bisnis itu yang paling sulit adaÂlah memulainya. Sedang meÂreka sudah sangat siap memulai. Yang juga sulit adalah menguÂbah sikap dari seorang peÂngangÂgur atau seorang pekerja menjadi seorang pengusaha. Sedang meÂreka sudah siap berubah.
Orang yang sulit berubah akan sulit jadi pengusaha. Padahal meÂreka adalah orang-orang yang suÂdah membuktikan bahwa diriÂnya pernah membuat perubahan besar dalam hidupnya. Yakni wakÂtu mereka memutuskan berani meninggalkan kampung haÂlaman untuk pergi ke Hongkong.
Itu adalah sebuah perubahan yang amat besar yang pernah meÂreka buat. Ini modal penting unÂtuk perubahan berikutnya: dari pekerja ke calon juragan pekerja.
Waktu saya tamat Madrasah Aliyah (SMA) dan memutuskan meninggalkan kampung halaÂman di pelosok desa di Magetan untuk merantau ke Kaltim, itulah perubahan terbesar dalam hidup saya. Waktu memutuskan itu raÂsanya dunia seperti mau kiamat.
Gelap dan kalut. Putuslah semua akar kehidupan. Apalagi harus meninggalkan Aishah.
Padahal para TKW itu tidak seÂkadar ke Kaltim yang hanya beda propinsi, melainkan ke neÂgara orang lain dengan bahasa dan budaya yang amat berbeda.
Program Bank Mandiri ini suÂdah berlangsung tiga angkatan. Berarti sudah 1.500 TKW yang suÂdah dan siap berubah jadi peÂngusaha. Lulusan angkatan pertama yang kini sudah jadi pengusaha sapi perah dan resto lesehan di Purwokerto, Kartilah, ditampilkan sebagai
role model. Ia juga membawa anaknya yang kini sudah SMA, yang dulu berÂtahun-tahun ditinggalkannya.
“Waktu saya kembali dari Hongkong mengakhiri status sebagai TKW saya tidak langÂsung pulang,†ujar Kartilah deÂngan gaya yang sudah benar-beÂnar pengusaha. “Saya langsung ke pasar sapi. Beli sapi,†katanya.
“Kalau pulang dulu, bisa-bisa tertarik beli-beli yang lain dan gaÂgal jadi pengusaha,†tambah KarÂtilah. Itu menandakan kuatÂnya moÂtivasi untuk menjadi pengusaha.
Salah seorang peserta proÂgram ini, yang juga sudah siap bisnis di Malang, punya perminÂtaan ke Bank Mandiri: agar ada pendiÂdikan serupa untuk para suami mereka di kampung. Dia khawatir usaha mereka tidak lancar hanya karena suami tidak mendukung.
Program Bank Mandiri ini saÂngat membanggakan. Begitu inÂtensifnya program bisnis ini samÂpai-sampai saya merasa seperti tidak sedang di tengah-tengah TKW. Saya lebih merasa sedang dalam kelas MBA yang besar!
“Kami akan lanjutkan proÂgram ini,†ujar Zulkifli Zaini. TeÂpuk tangan menggemuruh.
Bank Mandiri yang juga meÂmiliki program besar Wirausaha Muda Mandiri untuk mahasiwa, akan terus diberkahi oleh Yang MaÂhakuasa. Kini labanya menÂcaÂpai rekor terbesar dalam sejaÂrah Bank Mandiri: Rp 15,5 triliun.