Berita

rachel corrie/ist

Dunia

Sepuluh Tahun setelah Rachel Corrie Tewas Dibuldozer Tentara Israel

MINGGU, 17 MARET 2013 | 12:24 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Kemarin dunia mengenang kematian aktivis perdamaian Rachel Aliene Corrie. Sepuluh tahun lalu, 16 Maret 2003, ia tewas mengenaskan. Tubuhnya remuk dan wajahnya koyak dilindas buldozer yang digunakan tentara Israel untuk menghancurkan pemukiman orang Palestina di Rafah, Jalur Gaza.

Rachel Corrie baru berusia 24 ketika itu. Bungsu dari tiga bersaudara ini lahir di kota Olympia di negara bagian Washington, Amerika Serikat, pada 10 April 1979. Di kampung halamannya ia dikenal sebagai aktivis perdamaian dan kemanusiaan. Tamat dari Capital High School, ia melanjutkan pendidikan ke Evergreen State College. Ia sempat menjadi sukarelawan Korps Konservasi Washington dan kerap mengunjungi pasien yang mengalami gangguan mental.

Di Evergreen State College, Rachel Corrie bergabung dengan kelompok Olympian untuk Perdamaian dan Solidaritas. Lalu bergabung dengan Gerakan Solidaritas International (ISM) yang mempromosikan cara non-kekerasan dalam menghadapi kebijakan represif Israel di Jalur Gaza.


Menjelang akhir studi di Evergreen State College, Rachel Corrie mengajukan proposal studi independen ke Gaza. Dia berencana bergabung dengan aktivis IMS lainnya dari berbagai negara untuk menghentikan penggusuran pemukiman orang Palestina ketika itu. Ia juga berinisiatif membangun hubungan sister city antara kota kelahirannya dengan Gaza. Sebelum berangkat ke Gaza, Rachel sempat mengorganisir aktivitas sahabat pena antara anak-anak Gaza dan Olympia.

Rachel Corrie berangkat ke Gaza pada 22 Januari 2003. Setelah menginap satu malam di Jerusalem Timur, ia mengikuti pelatihan sigkat di markas ISM di Tepi Barat, sebelum akhirnya berangkat ke Rafah untuk bergabung dengan aktivis ISM lainnya.

Bersama seorang temannya yang juga berasal dari Olympia, William Hewwit, Rachel Corrie tiba di Jalur Gaza melalui pos pemeriksaan Erez pada 27 Januari.

Rachel berada di Gaza pada masa yang kemudian dikenal sebagai Intifada Kedua. Ini adalah gelombang perlawanan besar bangsa Palestina sepanjang konflik dengan Israel yang dimulai pada akhir 1940an. Intifada Kedua terjadi antara 2000 hingga 2005, di akhir masa pemerintahan Ehud Barak dan sepanjang masa pemerintahan Ariel Sharon dari kubu konservatif.

Sebelum Intifada Kedua, sempat terjadi "negative peace" atau keadaan tanpa kekerasan antara pihak Israel dan pejuang Palestina yang cukup lama sejak Intifada Pertama yang dimulai pada 1987 berakhir di tahun 1993. Sekitar 3.000 orang Palestina dan 1.000 orang Israel tewas dalam gelombang kekerasan itu. Sejumlah catatan menyebutkan jumlah tewas dari kalangan sipil lebih banyak dibandingkan dari kalangan kombatan terlatih yang siap menghadapi pertempuran.

Dua hari sebelum kematiannya, dalam wawancara dengan Middle East Broadcasting, Rachel mengatakan pihak Israel menghancurkan pertahanan orang-orang Palestina secara sistematik.

"Terkadang saat sedang makan malam bersama orang-orang (Palestina) pasukan militer (Israel) mengelilingi kami hendak membunuh orang-orang yang sedang makan malam bersama saya," ujarnya.

Dua hari setelah wawancara itu, sore hari, Rachel Corrie bersama tujuh temannya berhadap-hadapan dengan dua buldozer Catepilar D9R lapis baja milik tentara Israel yang hendak menghancurkan rumah Samir Nasrallah di kawasan Hai as Salam.

Sebagai aktivis ISM, Rachel Corrie memahami betul protap dalam aksi menghadapi represifitas tentara Israel. Misalnya, mengenakan jaket berbahan fluorescent, tidak lari, menggunakan megaphone untuk berkomunikasi dengan tentara, dan memastikan tentara mengetahui kehadiran aktivis di lapangan.

Seorang saksi mata mengatakan, Rachel bahkan sempat memanjat sisi buldozer dan meminta agar buldozer dihentikan. Ia terjatuh dan kemudian berdiri berhadapan dengan buldozer.

Tentara Israel yang mengendarai buldozer itu tak peduli. Ia terus memacu buldozernya ke arah Rachel.

Tubuh Rachel dilindas dua kali.

Ambulan Bulan Sabit Merah tiba di lokasi sekitar pukul 17.05. Menurut paramedis, saat itu Rachel masih bernafas. Namun dalam perjalanan Rachel menghembuskan nafas terakhir. Ia diumumkan meninggal dunia pada pukul 17.20.

Menurut Direktur RS Rafah, hari itu tentara Palestina juga menembak mati 240 orang Palestina. 78 di antaranya adalah anak-anak.

Tubuh Rachel dikafani dan peti matinya diselubungi bendera Amerika Serikat, dan dikirimkan kembali ke tanah kelahirannya.

Sabtu siang (16/3) di Olympia, seratusan orang berkumpul di Taman Sylvester untuk mengenang sepuluh tahun kematian Rachel.

Sepuluh tahun setelah kematiannya, pihak Israel masih tidak mau bertanggung jawab atas kejadian itu. Bulan Agustus tahun lalu pengadilan Israel menyatakan kematian Rachel adalah kecelakaan biasa.

Dalam video yang dimuat di website RacheCorrieFoundation.Org kedua orang tua Rachel, Craig dan Nancy, menitipkan pesan kepada Presiden Barack Obama yang akan mengunjungi Timur Tengah dan berkunjung ke Tepi Barat.

"Tolong hubungi Gedung Putih, dan beritahukan kepada mereka agar Presiden Obama meminta pertanggungjawaban terhadap semua kekerasan yang dialami warganegara Amerika yang menggunakan senjata Amerika yang diekspor oleh pihak militer lain (Israel)," ujar Nancy Corrie.

"Ingatkan Presiden Obama bahwa uang kita (Amerika Serikat) sebenarnya merusak proses perdamaian dan peluang perdamaian di Timur Tengah," sambungnya.

Obama, katanya lagi, harus diingatkan untuk mengatakan kepada pemerintah Israel bahwa senjata Amerika tidak boleh digunakan untuk menghancurkan rumah dan menyerang warga sipil.

"Katakan kepada Presiden Obama bahwa pajak yang kita bayarkan harus digunakan untuk membangun perdamaian, bukan untuk dijadikan bahan bakar konflik," demikian Nancy. [guh]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

UPDATE

Donald Trump Buka Peluang Bertemu Mojtaba Khamenei

Jumat, 05 Juni 2026 | 08:19

Dolar AS Melemah dari Level Tertinggi Imbas Prospek Damai Timur Tengah

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:52

Emas dan Perak Menguat Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:40

BEI Bidik Dana Besar dari Dalam dan Luar Negeri demi Topang IHSG

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:17

Bursa Eropa Hijau, Saham Bank dan Airbus Pimpin Reli

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:06

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Kenaikan Bahan Baku Berimbas terhadap Industri Makanan dan Minuman

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:54

Artis Fabiola Gabung Sindikat Penipuan Online

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:43

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:28

Inflasi Kehormatan Letkol Teddy Indra Wijaya

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:08

Selengkapnya