Berita

ilustrasi, Petani

Bisnis

Bank Sepelekan Petani, Produksi Pangan Nasional Terus Merosot

Penyaluran KUR Ke Sektor Pertanian Cuma 7,73 Persen
SABTU, 16 FEBRUARI 2013 | 08:04 WIB

Para petani masih sulit mendapatkan kredit modal dari pemerintah atau perbankan. Karena itu, banyak petani yang bergantung kepada rentenir.

“Kami tidak berpikir murah, tapi mudah. Di rentenir itu mahal tapi mudah. Petani tidak dipusingkan dengan persyaratan-persyaratan,” tegas Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan Nasional Winarno, kemarin.

Menurut dia, peran pemerintah dalam memberdayakan petani seharusnya besar. Tapi yang ter­jadi saat ini malah terkesan lepas tangan, bahkan menyalah­kan pe­tani jika terjadi gagal panen.


Karena itu, dia tidak heran pro­duksi pertanian menurun karena mereka banyak beralih ke peker­jaan lain. “Peralihan petani saat ini bukan karena keinginan tapi terpaksa,” kata Winarno.

Jika pemerintah ingin mening­katkan produksi pertanian, seha­rusnya tidak hanya memberikan kemudahan memberikan modal tapi juga insentif atau subsidi agar petani bisa lebih produktif.

“Di Korea Selatan, pemerin­tah­nya memberikan subsidi untuk mem­beli penggilingan beras. Ka­lau harga penggilingannya Rp 1 mi­liar, pemerintah kasih Rp 600 juta dan Rp 400 juta dari kita (pe­tani) itupun hasil pinjam, dibayar ci­cil selama 4 tahun,” jelasnya.

Apalagi perbankan juga terka­dang enggan melayani petani. Karena itu, dia mengusulkan per­lu dibuat bank khusus guna men­dukung kinerja dan pro­duk­tivitas pertanian dalam negeri.

Direktur Pengembangan De­par­temen Kredit, Bank Perkre­ditan Rakyat (BPR) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Bank Indonesia Santoso Wibowo me­nga­ta­kan, dari Rp 526,4 triliun kredit untuk UMKM, penyaluran KUR terbesar ke sektor perda­gangan mencapai 47,2 persen. Se­dangkan penyaluran KUR ke sek­tor pertanian hanya 7,73 per­sen atau Rp 40,70 triliun.

Nah, dari Rp 40,70 triliun untuk sektor pertanian tersebut 56,29 persennya disalurkan ke sektor perkebunan seperti kelapa sawit dan tebu. Sedangkan sek­tor pa­ngan hanya 8 persen, horti­kultura mencapai 6persen dan peternakan 17,94 persen.

Menurut Santoso, rendahnya penyaluran kredit di sektor per­tanian karena perbankan meng­anggap sektor ini punya risiko tinggi. Apalagi, sektor pertanian juga sering terjadi gagal panen, fluktuasi harga dan faktor cuaca.
Selain itu, sangat sulit meng­hi­tung cash flow secara akurat dan tidak memiliki jaminan yang memadai.

Anggota Komisi IV DPR Viva Yoga Mauladi menyatakan, per­syaratan pengajuan kredit oleh bank yang diberikan kepada pe­tani saat ini cukup rumit. Perlu suatu perubahan, atau penghi­la­ngan beberapa persyaratan agar petani dapat diuntungkan.”Harus ada political will dengan mengu­rangi persyaratan agar tidak terlalu ketat,” katanya.

Belum lagi, ada kekhawatiran dari bank itu sendiri terhadap para petani. Maksudnya, tidak sedikit bank yang seolah mendis­kri­minasi dengan para petani. Petani sering kali tidak digubris.

“Duh gimana ya nanti bayar­nya. Kalau perlente, berdasi pasti dilayani bank,” sindirnya.

Karena itu, politisi PAN ini me­ngusulkan kepada pemerintah agar sektor pertanian diberikan kebijakan khusus atau lex spe­cialist. “Di luar badan hukum apa­pun, apakah itu bank atau koperasi dia perlu kebijakan lex spe­cialist,” katanya.

Direktur Produksi PT Pertani Agung Darmawan mengatakan, petani di Indonesia masih dipan­dang sebelah mata sehingga para petani sulit mendapatkan kredit dari perbankan.

Menurut dia, petani sangat memerlukan lembaga keuangan dan perbankan untuk mem­berikan modal pekerjaan. Pem­biayaan untuk petani bisa dilaku­kan melalui subsidi bunga dan kredit pangan.

Pertani juga menginginkan ada asuransi tanaman bagi petani. Hal ini sangat dibutuhkan bila ada risiko gagal panen karena peru­bahan cuaca atau hama.

“Kita ingin agar petani tidak rugi, kita usulkan ada asuransi tanaman. Asuransi ini bertujuan bila terjadi gagal panen para petani dapat gantinya,” pung­kasnya. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Sidang Bluray Cargo Ungkap Kode-kode Suap untuk Kementerian/Lembaga

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58

Duel Raksasa Eropa Prancis Hadapi Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37

Adian Napitupulu: Kehadiran Buku Anotasi KUHAP Penting bagi BAM DPR

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25

Pengacara Bantah Don Ritto Terlibat dalam Megakorupsi Bersama Febrie

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00

Harga Minyakita Masih di Atas HET, Kemendag Bakal Perketat Distribusi Lewat BUMN

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45

Revisi UU Zakat, FOZ Dorong Skema Zakat sebagai Pengurang Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37

Sinopsis Film Kung Fu Soccer, Comeback Stephen Chow Raup Rp1,3 Triliun dalam Dua Hari

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33

Menag Ajak Alumni PTKIN Berkontribusi di Pemerintahan Prabowo

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13

Ade Ginanjar Bela Bahlil: Polemik Batu Bara Jangan Digiring ke Ranah Politik

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10

Spesifikasi Lengkap Samsung Galaxy A27 5G Indonesia, Segini Harganya

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09

Selengkapnya