.Asosiasi Pedagang Daging Sapi Indonesia mensinyalir daging sapi langka dan mahal karena importir melakukan praktik monopoli. Mereka memborong produksi lokal.
Ketua Umum Asosiasi PedaÂgang Daging Sapi Indonesia, DaÂdang Iskandar menegaskan, seÂÂsuai kebijakan Dirjen PeterÂnakan Kementerian Pertanian, importir hanya dibolehkan meÂnyerap 10 persen produksi lokal. Tapi di laÂpangan aturan tersebut tidak jalan.
“Di lapangan mereka banyak menyerap. Mereka yang menguaÂsai sapi impor dan sapi lokal,†ungÂkap Dadang saat audiensi dengan Komisi IV DPR di GeÂdung DPR Senayan Jakarta, kemarin.
Untuk itu, dia minta, DPR menÂcabut reÂÂgulasi tersebut. Jika tidak, geÂjoÂlak harga daging tidak akan bisa diÂkendalikan. Dia ingin importir dibatasi menangani daÂging impor saja. Sementara, peÂdagang mengÂuÂrusi perdagaÂngan produksi lokal.
Selain itu, usulannya tersebut perlu diberlakukan guna menÂjaga keseimbangan antara pedaÂgang lokal dan importir. MeÂnuÂrutÂnya, saat ini, pedagang lokal tak mamÂpu bersaing dengan imÂportir yang
notabene pengusaha besar. KaÂrena pedagang kecil tidak sangÂgup melawan para importir yang banyak uang dan infraÂstruktur yang lengkap.
Dadang mengungkapkan, geÂjolak harga daging sapi belakaÂngan ini telah membuat 40 perÂsen pedagang di Jawa Barat gulung tikar.
Selain pembenahan kebijakan, Dadang usul pemerintah impor sapi trading siap potong untuk meÂnurunkan harga. Karena sapi jeÂnis itu lebih murah dari daging beku dan bakalan. MekanismeÂnya, pemerintah bisa menyisihÂkan 10 persen dari 80 persen jatah kuota impor daging sapi tahun ini.
Sekadar informasi, sapi
trading merupakan istilah untuk sapi siap potong. Sedangkan sapi bakalan itu sapi dapat diÂpotong, namun perlu proÂses pengemukan selama tiga bulan. “Sapi
trading hargaÂnya lebih murah, rasa dan kualitas sama,†imbuhnya.
Anggota Komisi VI DPR Ferarri Romawi menuturkan, duÂgaan importir borong produksi daÂging lokal mengindikasikan pengawasan dilakukan pemerinÂtah lemah. Dia menilai, aturan terÂÂsebut sebenarnya sudah bagus namun penerapannya kurang pas.
Namun demikian, untuk menÂciptakan sistem yang lebih baik menurutnya tidak ada salahnya aturan yang ada dikaji ulang dan diperkuat. “Kebijakan daging perlu ditata ulang untuk mengaÂtasi masalah daging saat ini. masa kondisi sekarang mau didiamkan saja,†kata politisi Demokrat ini.
Ferrari ingin aturan baru mengÂaÂtur secara komperhensif keÂbiÂjakan penjualan daging. MuÂlai dari kuota impor sampai pengÂendalian harga.
Saat ingin dikonfirmasi masaÂlah ini, Dirjen Peternakan KeÂmenÂtan Syukur Iwantoro tidak bisa dihubungi. Telepon selularÂnya tidak aktif.
Sementara, pasokan daging di pasar sampai kemarin masih miÂnim. Hal tersebut diungkapkan Sulastri, pedagang daging di paÂsar Jati Rawasari, Cempaka PuÂtih, Jakarta Barat.
“Dulu sih bisa jual 25-30 kilo sehari, sekarang cuma 10 kilo. Lagi kacau sekarang, alasannya sapi kosong, permainan orang atas ini,†kata Sulastri seperti diÂkutip mediaonline, kemarin.
Sulastri mengatakan, harga daÂging saat ini Rp 90 ribu per kiloÂgram. Harga ini masih jauh lebih rendah dari harga sebelumnya yang sempat menyentuh angka Rp 110 ribu per kilogram. [Harian Rakyat Merdeka]