Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Rentan Katarak, Rabun Pada Mata Rawan Bikin Kebutaan

Gangguan Penglihatan Mata Di Indonesia Capai 3,6 Juta Jiwa
JUMAT, 08 FEBRUARI 2013 | 08:22 WIB

.Gangguan penglihatan atau rabun pada mata harus diwaspadai. Sebagian besar disebabkan oleh penyakit katarak. Jika dibiarkan bisa menyebabkan kebutaan kronis.

Sekitar 1,5 persen atau sebe­sar 3,6 juta penduduk Indonesia mengalami kebutaan. Penyakit mata seperti, katarak, kelainan refraksi, kornea, gangguan retina, glaukoma dan gangguan lainnya, menjadi penyebab utama tinggi­nya angka kebutaan di Indonesia.

Bahkan berdasarkan data Sis­tem Informasi Rumah Sakit (SIRS) pada 2011, jumlah gang­guan refraksi sebanyak 198.036 pasien, katarak 94.582 pasien dan glukoma 25.176 pasien.


Menteri Kesehatan (Menkes), Nafsiah Mboi mengatakan, ma­salah gangguan penglihatan perlu mendapat perhatian serius. Gang­guan penglihatan pada orang dewasa akan mengganggu pro­duktivitas dan mengurangi ku­alitas hidup. Sedangkan, pada anak-anak akan mempengaruhi masa depannya, termasuk ke­mam­puan menyerap pelajaran.

“Pemerintah berkomitmen mewujudkan visi Mata Sehat pada tahun 2020. Tujuannya, agar setiap warga negara Indonesia terpenuhi haknya untuk mem­punyai penglihatan optimal,” ujar Mboi di acara peresmian rumah sakit mata Jakarta Eye Center (JEC) @ Kedoya, Jakarta, Sabtu (2/2).

Menurut Nafsiah, dari be­be­rapa penyakit mata yang dila­por­kan, kebanyakan adalah pe­nyakit mata katarak dan ako­mo­dasi.

“Total gangguan refraksi dan akomodasi mencapai 180.310 kasus atau 1,72 persen dari total kunjungan rawat jalan di rumah sakit yang berjumlah 10.466.415 kunjungan. Dari jumlah tersebut, Provinsi DKI Jakarta pe­nyum­bang terbanyak. Jumlahnya, men­capai 46.177 kunjungan da­lam se­tahun,” ungkapnya.

Katarak sendiri, kata Menkes, merupakan penyakit mata yang awalnya ditandai dengan keke­ruhan pada lensa mata dengan berbagai tingkatan dan pemicu. Saat ini, katarak itu salah satu penyebab utama kebutaan.

Data dari Badan Kesehatan Dunia (World Health Orga­ni­za­tion/WHO) 2012 disebutkan, pe­nyakit ini menyumbang sekitar 33 persen dari 39 juta kebutaan di dunia. Di Indonesia, katarak memberi kontribusi sebesar 70 per­sen dari total 3,6 juta angka kebutaan. Ini selaras dengan data SIRS 2011 yang merekam jumlah pasien rawat jalan katarak di Indonesia sebesar 94.582 orang.

Sedangkan kelainan refraksi (Ametropia), adalah penyim­pa­ngan sinar-sinar sejajar yang di­pantulkan dari benda yang kita lihat, di mana sinar-sinar terse­but dibiaskan oleh lensa mata dalam keadaan rileks tidak tepat pada retina.

Kelainan refraksi dapat diatasi dengan meng­gunakan kaca mata atau lensa kontak. Jenis refraksi yang umum dikenal antara lain rabun ja­uh (myopia), rabun dekat (hipermetropia) dan astigma­tis­ma atau mata silindris.

Menurut Direktur Utama JEC @ Kedoya, dr Darwan M Purba, jika seseorang mengalami ke­luh­an rabun pada mata, segera ber­konsultasi dengan dokter mata atau tenaga medis optik agar diberikan saran dan solusi untuk mengatasi masalah ter­sebut.

Orang Tua Harus Waspadai Gejala Gangguan Penglihatan Pada Anak

Orang Tua harus mewaspadai gejala gangguan penglihatan pada anak yang baru lahir. Pa­salnya, anak usia empat tahun gangguan mata malas (am­blio­pia) kerap menghalanginya. Gang­guan penglihatan ini dapat menghambat tumbuh kembang anak hingga dewasa.

“Jika perkembangan mata di usia tersebut terganggu, anak bisa mengalami katarak, refraksi atau pun mata minus, plus dan silinder ke depannya,” ujar dokter spe­sia­lis mata anak dari Jakarta Eye Cen­ter (JEC) Kedoya, Florence Ma­nurung, di Jakarta, Sabtu (2/2).

Menurut Florence, gangguan ini umumnya hanya mengenai satu mata. Namun, kadang bisa terjadi pada kedua mata.  Se­hingga ketika diobati tidak bisa langsung melihat secara jelas. Ini yang kemudian memberikan kesan mata mengantuk.

“Normalnya, pada usia empat tahun perkembangan otak yang memproses pengelihatan hampir lengkap. Namun bila otak ter­biasa dengan pandangan buram, maka akan sulit meningkatkan kemampuan melihat setelah per­kem­bangan otak selesai,” jelasnya.

Anak-anak, kata Florence, memiliki tahap pertumbuhannya sendiri. Menurutnya,  sistem peng­li­hatan anak berkembang pesat pada usia 18 bulan pertama dan kemudian menjadi sempurna pada usia 5 atau 6 tahun.

Pada saat lahir, bayi sudah dapat melihat pola terang dan gelap, tapi fokus penglihatannya masih ka­bur. Di usia 4-6 bulan, bayi akan menggerakan kepa­lanya untuk mengikuti objek bergerak. Se­dangkan di usia 6-8 bulan bayi sudah dapat melihat warna secara lengkap dan kedua matanya sudah terkordinasi de­ngan baik sehingga pergerakan mata mulai terkontrol.

Selanjutnya, pada usia 8-12 bulan, bayi akan menggunakan kedua mata bersama-sama untuk menilai jarak seiring pertum­buhan anak.

“Namun sayang, banyak orang­tua yang kurang menyadari ber­bagai masalah, yang menyangkut pertumbuhan penglihatan pada anak-anaknya ketika dilahirkan. Padahal ini penting bagi orangtua untuk dapat memahami tanda-tanda kelainan pada anaknya,” keluhnya. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya