.Fitch Ratings mengapresiasi stabilitas iklim investasi Indonesia. Namun, Pemerintah diingatkan tidak terlena karena peringkat tersebut disinyalir justru bisa berdampak negatif terhadap perekonomian.
Lembaga pemeringkat kredit, internasional Fitch Rating, meÂneÂÂtapkan peringkat utang IndoÂnesia berada di posisi BBB miÂnus. ArtiÂnya, Indonesia masih diÂpandang negara layak investasi.
Deputy Commisioners of CaÂpiÂÂtal Market Supervisory AgenÂcy II Noor Rachman meÂngataÂkan, penilaian itu sangat positif kaÂrena semua masih berÂjalan seÂsuai renÂcana. Mulai dari perÂtumÂbuÂhan ekonomi, kebijaÂkan fiskal dan kondisi maÂkro ekoÂnomi.
“Kredit
rating Indonesia maÂsih baÂgus dan diharapkan akan lebih baÂgus lagi pada akhir 2013. HaraÂpanÂÂnya kan kalau bisa lebih, dan tentuÂnya korÂpoÂÂratÂnya bisa mengiÂkuti,†jelas Noor di JaÂkarta, keÂmarin.
Namun diakui, masih baÂnyak keÂmudahan usaha yang harus diÂbenahi oleh pemerintah IndoÂneÂsia. Antara lain, peringÂkat utang di pasar saham dan obliÂgasi.
Dia optimistis, peringkat utang akan membaik karena peÂÂÂÂnilaian terhadap iklim invesÂtasi juga poÂsitif. Dengan peÂringÂkat terÂsebut, investor makin yaÂkin menaÂnamÂkan modalÂnya di IndoÂnesia.
Wakil Menteri Keuangan MaÂhendra Siregar menilai, peringkat utang diberikan Fitch Rating keÂpada Indonesia bisa lebih baik bila pemerintah mampu mengÂhaÂdapi tantangan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Tantangan itu disebutkan MaÂhendra ada tiga. Yaitu, perbaikan infrastruktur, menghaÂpus subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan memperbaiki tata kelola birokÂrasi (
good governance).
“Dari ketiga faktor itu, poin yang terakhir (
good governance-red) paling penting. Kalau itu bisa,
rating-nya bisa AAA,†kata MaÂÂhenÂdra di Jakarta, kemarin.
Pengamat pasar modal Yanuar Rizky mengingatkan, pemerintah jangan terlalu terlena dengan peÂringkat diberiÂkan Fitch Rating. Sebab, patut dicurgai di baliknya ada permaiÂnan yang sedang diÂjalankan pemÂberi
rating.
Menurut Yanuar, pemerintah harus mengkajinya lebih jauh bila ingin jadikan penilaian
rating seÂbagai rujukan investasi.
“Apakah pasar modal bergerak karena lembaga rating? Atau seÂbaliknya, rating yang menggeÂrakkan pasar modal? Apakah peÂnilaian itu memberikan dampak poÂsitif? Ini semua masih rancu dan belum jelas ukuran dan buktiÂnya,†urai Yanuar kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Kemarin, perdagangan saham mencatat rekor tertinggi lagi. MeÂnutup perdagangan, InÂdeks Harga Saham GaÂbungan (IHSG) melaju 19,535 poin (0,44 persen) ke level 4.498,976. SeÂÂmenÂtara Indeks LQ45 menanÂjak 3,000 poin (0,39 persen) ke level 769,849.
Posisi indeks tersebut meruÂpaÂkan rekor tertinggi setelah baru saja Senin keÂmarin menÂceÂtak rekor di level 4.490,565 seteÂlah naik 8,931 poin (0,20 perÂsen). Investor asing lagi-lagi berÂperan banyak dalam pencetaÂkan rekor ini. Investor asing terÂcatat melaÂkukan pemÂbelian berÂsih (
foreign net buy) senilai Rp 462,89 miliar di seÂluruh pasar. [Harian Rakyat Merdeka]