.Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menilai, target produksi minyak (lifting) tahun ini sebesar 900 ribu barel per hari (bph) sulit tercapai. Karena itu, pemerintah diminta merevisinya.
Hal itu disampaikan KeÂpala SKK Migas Rudi Rubiandini dalam rapat perdana dengan KoÂmisi VII DPR, kemarin. Rapat yang diÂmulai pukul 10.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB dipimÂpin Wakil Ketua Komisi VII DPR Zainudin Amali. Rapat tersebut memÂbahas struktur baru SKK MiÂgas dan produksi minyak 2013.
Rudi memprediksi, produksi miÂnyak 2013 hanya akan menÂcapai 830 ribu barel per hari (bph). Karena itu, pihaknya meÂminta pemerintah mengajukan revisi target lifting dalam AngÂgaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013 sebesar 900 bph.
“Hingga akhir DeÂsemÂber kita bekerja agar produksi 830.000 baÂrel tidak turun kemÂbali,†ujarnya.
Bekas Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu mengatakan, dalam rapat kerja peÂmerintah beberapa hari lalu, Unit Kerja Presiden Bidang PeÂngawasan dan PeÂngenÂdalian PemÂbangunan (UKP4) sudah mengajukan produksi minyak 850 ribu bph.
Menurut Rudi, dalam APBN Perubahan pemerintah akan meÂngajukan produksi minyak 850 bph ke DPR. Pasalnya, saat ini produksi minyak per Januari menÂcapai 826 ribu bph. PenuÂruÂnan produksi tersebut dikareÂnaÂkan sumur-sumur produksi miÂnyak yang sudah tua serta konÂdiÂsi cuaca yang buruk awal tahun ini.
Namun, dia optimis produksi miÂnyak pada 2014 akan melonjak lagi. Dia memprediksi, produksi minyak akan mencapai 900 ribu bph, sedangkan pada 2015 proÂduksi minyak akan mencapai 1 juta barel per hari. Tapi, itu bisa terwujud kalau Blok Cepu sudah mulai beroperasi.
Rudi mengaku, 70 persen laÂpaÂngan migas milik PT PertaÂmina (Persero) masih belum diÂeksploÂrasi. Dengan kondisi tersebut, dia meminta perusahaan minyak peÂlat merah itu menggenjot proÂduksi minyaknya hingga menÂcapai 200 ribu bph. “Pertamina memiliki lapangan yang 70 perÂsen masih virgin,†jelasnya.
Direktur Eksekutif Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis) SugiÂyanÂto menyayangkan penurunan tarÂget
lifting oleh SKK Migas.
“Dipegang SKK Migas target
lifting malah diturunin. AlasanÂnya selalu sama, sumur tua dan cuaca,†katanya.
Dia justru menilai, monopoli perusahaan minyak raksasa inÂternasional ditenggarai menjadi faktor utama penyebab turunnya produksi minyak di Indonesia. Karena, sebanyak 85 persen proÂduksi minyak nasional negara ini dikendalikan perusahaan asing.
Sugiyanto mengimbau SKK Migas belajar dari penurunan lifting dari tahun-tahun sebelumÂnya. Dia berharap, target lifting satu juta barel pada 2014 bisa tercapai.
Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo menyatakan, revisi target produksi minyak (lifting) harus disikapi hati-hati. “Saya mau hati-hati karena damÂpaknya ke fiskal,†ujar Menkeu.
Padahal, sebelumnya Presiden SBY meminta jajarannya untuk bisa merealisasikan target proÂduksi minyak 1 juta bph sebelum 2014. Bahkan, SBY sampai meÂngeluarkan Instruksi Presiden Nomor 2 tahun 2012 tentang PeÂningkatan Produksi Minyak BuÂmi Nasional.
Dalam Inpres itu dinyatakan bahwa dalam rangka pencapaian produksi minyak bumi nasional paling sedikit rata-rata 1,01 juta barel per hari pada tahun 2014 untuk mendukung peningkatan ketahanan energi, Presiden mengÂinstruksikan kepada jajarannya untuk melakukan koordinasi dan percepatan penyelesaian permaÂsalahan yang menghambat upaya peningkatan, optimalisasi dan percepatan produksi minyak buÂmi nasional. [Harian Rakyat Merdeka]