.Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini terus melemah. PeÂngaÂmat ekoÂnomi Aviliani mensinyalir, ruÂpiah melemah diseÂbabkan akiÂbat banyak perusahaan kakap di Indonesia memÂbeli baÂrang modal atau impor produk dari luar negeri.
Dia menyebutkan antara lain, impor minyak yang dilaÂkukan Pertamina dan pembelian pesawat oleh maskapai dalam negeri seperti Garuda IndoÂnesia.
Ketika dikonfirmasi, Vice President Corporate ComÂmuÂnication PT PertaÂmina Ali MunÂdakir ogah disalahkan. Menurutnya, melemahnya rupiah bukan hanya akibat kegiatan impor minyak mentah.
“Kita sudah konsultasi deÂngan Bank Indonesia (BI). Faktor melemahnya rupiah bukan dari Pertamina saja,†kataÂnya kepada Rakyat Merdeka.
“Kita sudah konsultasi deÂngan Bank Indonesia (BI). Faktor melemahnya rupiah bukan dari Pertamina saja,†kataÂnya kepada
Rakyat Merdeka.
Dia menegaskan, pihaknya sudah lama tidak memborong dolar. Jadi jangan saat rupiah meemah langsung tuduhan diaÂrahkan ke Pertamina.
Mundakir menerangkan, untuk muncukupi kebutuhan dolar, Pertamina tidak hanya mengandalkan BI. Selama ini ada tiga bank BUMN yang memÂbantu PertaÂmina, yaitu BRI, BNI dan Bank Mandiri.
Namun, anggota Komisi XI DPR Achsanul Qosasih meÂngaÂtaÂkan, tiÂdak menutup kemungkinan Pertamina dan Garuda jadi penyebab pelemahan rupiah. Tapi kegiatan perusahaan itu harusnya tidak dipermasalahkan karena keÂgiatan Pertamina impor minyak dan Garuda beli pesawat memang kegiatan rutin mereka.
“Kalau akibat kegiatan perusahaan itu rupiah melemah, ini tiÂdak bisa dibiarkan. Harus dicariÂkan jalan keluarnya,†kata politisi Demokrat itu.
Achsanul meminta BI bisa segera menstabilkan rupiah karena fluktuasi rupiah tidak bagus untuk dunia usaha, teruÂtama imÂportir. Mereka harus mengeluarÂkan biaya lebih beÂsar untuk memperoleh sebuah produk.
Menurut Aviliani, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi akan meÂlanÂjutkan trend negatif mengikuti pelemahan tajam nilai tukar yen.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengaÂtakan, para pelaku pasar meÂnunggu rilis pertumbuhan AS serta perbaikan data-data ekonomi secara bertahap pada Eropa dan AS.
Namun di sisi lain,
core CPI Jepang dan adanya harapan akan stimulus telah membuat nilai tukar yen berdepresiasi.
“Kemungkinan pelaku pasar masih wait and see terhadap iklim investasi, suku bunga, dan inflasi dalam negeri seÂhingga membuat perdagangan rupiah belum menguat,†jelas Reza.
KemaÂrin, nilai tukar rupiah bergerak melemah. Menurut kurs tengah BI, rupiah meleÂmah ke level Rp 9.680 per dolar AS dibandingkan sehari sebelumnya Rp 9.670. [Harian Rakyat Merdeka]