Berita

ilustrasi

Bisnis

PLN Desak Subsidi Listrik 55 Perusahaan Kakap Dicabut

Pengusaha Malah Ancam Perbesar Impor & Kurangi Setoran Pajak
SELASA, 29 JANUARI 2013 | 09:25 WIB

Pemerintah diminta menghapus subsidi listrik untuk perusahaan-perusahaan besar karena membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) subsidi listrik untuk kelompok industri besar tahun 2013 mencapai Rp 19,9 triliun. Angka ini sekitar 25 persen dari total subsidi listrik yang dianggarkan di APBN sebesar Rp 78,63 triliun.

Manajer Senior Komunikasi Korporat PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Bambang Dwiyanto mengakui industri masih menikmati subsidi listrik.


“Industri kecil dan besar masih menerima subsidi. Yang sudah dicabut adalah subsidi untuk bisnis,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Untuk pemberian subsidi sendiri, kata Bambang, itu merupakan keputusan pemerintah. PLN hanya sebagai operator.

Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman mengatakan, terdapat 55 perusahaan industri yang mendapatkan subsidi paling besar. Beberapa perusahaan di antaranya Krakatau Steel, Holcim, Asahimas, Indocement, Semen Indonesia, Suffindo, Ispatindo, Gunung Garuda dan Jakarta Prima.

Menurut dia, pemberian subsidi yang besar ini bukan tanpa alasan. Peningkatan subsidi listrik untuk 55 perusahaan tersebut karena volume pemakaian listrik yang signifikan di perusahaan itu.

Kendati begitu, kedepannya pemerintah optimistis dapat menurunkan subsidi listrik untuk kelompok ini. Jarman mengatakan, tahun ini saja khusus industri besar  pemerintah sudah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) 15 persen secara bertahap.

Menurut Jarman, keputusan untuk mencabut total subsidi secara langsung tidak mungkin dilakukan. Pencabutan seluruh subsidi akan berimbas pada masyarakat seperti kenaikan harga dan penurunan daya beli. Karena itu, tahun ini pihaknya baru bisa menghapus subsidi kelompok bisnis dan rumah tangga kaya saja.

Pengamat energi dari Reforminer Institute Komaidi Notonegero menambahkan, seharusnya subsidi untuk perusahaan besar itu dicabut jika pemerintah fokus mengurangi beban subsidi di APBN.

Ke depannya, subsidi listrik harus dikurangi yang dibarengi dengan peningkatan pelayanan listrik.  “Subsidi listrik untuk perusahaan besar lebih baik dicabut saja. Tapi semua itu ada di tangan pemerintah, berani nggak cabut subsidi untuk industri besar,” kata Komaidi.

Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarany mengaku masih ada perusahaan yang menerima subsidi listrik, meski dia tidak memiliki data lengkapnya.

Namun, dia menyoroti ketidakadilan pemerintah dalam menaikan TDL. Menurut Franky, para pengusaha sedari awal meminta agar kenaikan TDL 15 persen juga diberlakukan untuk pelanggan 450-900 kilo watt per jam (kwh).

Tapi yang terjadi, pemerintah lebih memilih kebijakan populis untuk tidak menaikkan listrik golongan itu. Padahal, golongan tersebut jumlahnya mencapai 40 juta dan industri yang harus menanggungnya.

Terkait usulan mencabut subsidi listrik untuk industri, Franky memprediksi akan berdampak pada industri dalam negeri. Apalagi saat ini mereka sudah dibebani kenaikan TDL mulai dari 10-15 persen, ditambah kenaikan upah minimum provinsi.

“Jika pemerintah mencabutnya akan berdampak pada penurunan produksi, sehingga pendapatan perusahaan akan berkurang. Akibatnya pendapatan pajak pemerintah dari perusahaan itupun akan berkurang,” katanya.

Namun, yang menghawatirkan adalah pengusaha dalam negeri akan lebih senang memilih impor barang jadi karena nol risiko dan tidak terkena beban apa-apa. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Sidang Bluray Cargo Ungkap Kode-kode Suap untuk Kementerian/Lembaga

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58

Duel Raksasa Eropa Prancis Hadapi Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37

Adian Napitupulu: Kehadiran Buku Anotasi KUHAP Penting bagi BAM DPR

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25

Pengacara Bantah Don Ritto Terlibat dalam Megakorupsi Bersama Febrie

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00

Harga Minyakita Masih di Atas HET, Kemendag Bakal Perketat Distribusi Lewat BUMN

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45

Revisi UU Zakat, FOZ Dorong Skema Zakat sebagai Pengurang Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37

Sinopsis Film Kung Fu Soccer, Comeback Stephen Chow Raup Rp1,3 Triliun dalam Dua Hari

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33

Menag Ajak Alumni PTKIN Berkontribusi di Pemerintahan Prabowo

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13

Ade Ginanjar Bela Bahlil: Polemik Batu Bara Jangan Digiring ke Ranah Politik

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10

Spesifikasi Lengkap Samsung Galaxy A27 5G Indonesia, Segini Harganya

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09

Selengkapnya