PT Pos Indonesia
PT Pos Indonesia
Pengamat pasar modal Reza Priyambada menyayangkan teÂrus gagalnya rencana penawarÂan saÂham perdana (Initial PubÂlic Offering/IPO) BUMN.
Padahal, IPO tersebut diyakini akan memÂberikan dampak poÂsitif untuk pasar modal serta kinerja peruÂsaÂhaan pelat merah. Dengan IPO, kapitalisasi pasar modal bertamÂbah dan kondisi BUMN bisa makin sehat.
Menurutnya, masih ada pemiÂkiran jika melantai di bursa saÂham sama dengan menjual aset.
“Beberapa orang masih meÂnyaÂmakan antara IPO dan jual aset negara. Kalau masih beda perÂÂsepsi soal IPO, ya mendingÂan saÂmakan aja dulu persepsi IPO itu apa dan pelajari keunÂtungan IPO itu apa,†ujar analis dari Trust Securities ini.
Reza menegaskan, IPO bukanÂlah penjualan aset negara karena negara masih memiliki saham maÂÂyoritas. Selain itu, pemerinÂtah bisa membuat undang-unÂdang (UU) keÂÂpemilikan asing.
“Misalnya dari 100 persen saÂham 52-55 perÂsenÂnya tetap peÂmerintah dan sisaÂnya publik dan dari sisa 42-45 persen siÂsanya dipisah lagi asing cuma boleh misalnya 10 persen, kan sisanya tetap lokal,†jelasÂnya.
Awal tahun ini, Dahlan Iskan rencananya melakukan IPO terÂhadap tiga BUMN. Namun renÂcana itu dipastikan batal. Bahkan Dahlan menyebutkan tidak akan ada BUMN yang IPO tahun ini.
“Tidak IPO juga nggak apa apa,†cetusnya.
PT Pos Indonesia dan PT PeÂgadaian batal mencatatkan saÂham perdana di Bursa Efek InÂdonesia (BEI) tahun ini karena Komite Privatisasi tidak menyeÂtujui niat IPO kedua BUMN itu.
Dahlan mengatakan, pemerinÂtah tak memberi restu bagi PeÂgadaian melepas saham ke publik lantaran khawatir peran PegaÂdaian dalam membantu rakyat keÂcil terkikis karena terdorong mencetak laba yang besar. “Kalau PT Pos Indonesia, disebabkan perÂseroan harus melakukan revaÂluasi terlebih dahulu,†katanya.
Selama ini, lanjut Dahlan, aset PT Pos belum direvaluasi mengÂingat pajak yang harus diÂtangÂgung cukup besar. KemamÂpuan PT Pos juga diragukan untuk meÂnanggung pajak pasca revaÂluasi aset tersebut. Total nilai aset PT Pos kini mencapai Rp 7 triliun.
Setelah revaluasi, asetnya diÂpreÂdiksi membengkak jadi Rp 11 triliun. Di samping itu, PT Pos juga punya kewajiban sebagai perusahaan negara atau Public Service Obligation (PSO).
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito kecewa dengan kebijaÂkan pemerintah menunda privaÂtisasi tiga BUMN.
“Pemerintah tidak memiliki komitmen untuk mengemÂbangÂkan pasar modal Indonesia,†kata Ito seperti diÂkutip sebuah situs.
Selain menolak IPO kedua BUMN tersebut, Komite PrivaÂtisasi juga menolak rencana peÂnerÂbitan saham terbatas (rights issue) PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Penyebabnya adalah harga komoditas yang sedang turun. Jika Antam rights issue, maka hasil yang didapat tidak makÂsimal.
Harapan kini tinggal pada PT Semen Baturaja. Perusahaan ini tinggal menunggu restu Komisi XI DPR untuk melepas 35 persen sahamnya ke publik dengan tarÂget dana sebesar Rp 1 triliun. Dahlan mengaku, pihaknya juga sedang membuat daftar sejumÂlah anak usaha BUMN yang akan didorong masuk bursa.
“Saya berÂpikir, mungkin ReÂkin (PT Rekayasa Industri) bisa kami IPO kan, tapi ini baru peÂmikiran awal,†tandasnya.
Deputi Menteri BUMN Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis Pandu Djajanto mengaÂtakan, PT Semen Baturaja, Pos Indonesia dan Pegadaian direnÂcanakan IPO tahun ini. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09