ilustrasi, Banjir
ilustrasi, Banjir
Greenomics Indonesia memÂperkirakan kerugian banjir yang melanda hampir sebagian besar wilayah DKI Jakarta ditaksir mencapai angka Rp 15 triliun. KonÂdisi tersebut didasarkan atas asumsi kedaruratan Jakarta akibat banjir dalam masa tanggap daÂrurat selama 10 hari (17-27 JaÂnuari 2013), yang berÂdamÂpak negatif pada sektor-sekÂtor ekoÂnomi dan perekonomian berbasis masyarakat. Hampir seÂmua senÂtra bisnis di Ibukota lumpuh.
Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi mengaÂtakan, lebih dari 70 persen ekoÂnomi Jakarta bertumpu pada sekÂtor tersier, yakni perdagangan, peÂngangkutan, keuangan dan jasa.
“Kalau selama 10 hari ini JaÂkarta berada dalam posisi daÂrurat akibat banjir dan sektor terÂsier tersebut berada pada posisi daÂrurat juga secara riil, maka seÂcara maksimal kerugian akibat banjir Jakarta bisa mencapai Rp 15 triÂliun,†ujar Elfian.
Untuk itu, pihaknya meminta Gubernur DKI Jakarta Joko WiÂdodo memberikan porsi beÂsar pada penciptaan keseimÂbangan ekologi Kota Jakarta. ApaÂlagi, selama ini Jakarta diÂanggap seÂbagai primadona dan pilihan utaÂma bagi para investor untuk meÂnanamkan modalnya.
Menghadapi berbagai keÂmungÂÂkinan bencana ditambah beban Upah Minimum Propinsi (UMP), kalangan pengusaha muÂlai meÂrancang untuk mereÂloÂkasi indusÂtriÂnya.
Ketua Umum Himpunan KaÂwasan Industri Sanny Iskandar mengatakan, relokasi industri yang dicanangkan oleh pemeÂrinÂtah akan membawa dampak poÂsitif bagi daerah-daerah baru. Tiga lokasi yang ditawarkan jadi alterÂnatif markas usaha adalah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Ketiga provinsi itu dianggap mampu karena secara geografis, tempatnya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Bahkan, sudah ada beÂberapa daerah yang meÂnyaÂÂtakan kesiapannya untuk menjadi loÂkasi relokasi industri dari JaÂkarta. Seperti daerah SukaÂbumi, BoyoÂlali dan Kendal.
“Daerah-daerah tersebut UMP-nya tidaklah sebesar seÂperti di Jakarta. Jadi di satu sisi akan mengÂuntungkan para peÂnguÂsaha. Tinggal penguÂsahanya yang melakukan penyeÂsuaian,†cetus Sanny di Jakarta, Jumat (25/1). Kata Sanny, upah di KenÂdal berkisar Rp 900.000-1,2 juta, sedangkan di Jakarta mencapai Rp 2 juta-2,5 juta.
Namun menurut Ketua Harian Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia (APGAI) Suryadi Sasmita, reÂlokasi inÂdusÂtri butuh biaya saÂngat besar. InÂvestor juga kesuÂlitan meÂminÂdahkan peralatan pabrik serta memindahkan tenaÂga kerja yang belum tentu berÂminat unÂtuk pinÂdah.
“Ketentuan relokasi ke kaÂwaÂsan industri masih memÂbeÂratkan, karena bukan hanya seÂkedar pinÂdah. Dibutuhkan kejeÂlian untuk menentukan akan pinÂdah ke loÂkasi yang mana. Supaya tidak terjadi salah pilih tempat yang bisa merugikan perusaÂhaan,†terangnya.
Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan, perluÂnya menciptakan daerah tertentu seÂbagai kota industri di Indonesia karena dinilai dapat mendukung pembangunan dan infrastuktur.
Hidayat bilang, pemeÂrintah teÂngah menerapkan pengÂgunaan konsep kawasan industri dengan mencontoh kota-kota industri seÂperti di negara lain. Salah satu contohnya adalah kota Shenzen di China. “Jadi apakah di Jatim atau di luar pulau Jawa yang lagi mau saya terapkan seÂkarang, itu nanti menggunakan konsep kaÂwasÂan industri atau seperti kota-kota industri,†jelas Hidayat.
Namun, Hidayat tak menÂjeÂlaskan kota mana yang laÂyak dijadikan kawasan koÂta inÂdustri karena khawatir terhadap masyaÂrakat yang akan melaÂkukan speÂkulasi tentang tanah. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09