ilustrasi, cpns
ilustrasi, cpns
Wakil Presiden (Wapres) BoeÂdiono meÂngatakan, bukan saatÂnya lagi perekrutan calon PNS dilakukan dengan cara titip meÂnitip. Cara itu sudah saatnya diÂhapus. Dia mengÂingatkan semua pihak agar meÂngedepankan obÂjektivitas untuk menghasilkan aparatur negara yang baik.
“Mari kita perbaiki cara-cara reÂkrutmen pegawai dengan obÂjekÂtif, tidak lagi diwarnai ruang atau celah-celah yang tidak baik,†pesan Boediono di JakarÂta, Jumat (25/1).
Selain menyinggung soal rekÂrutmen pegawai, Wapres juga meÂminta agar promosi jabatan dilaÂkukan dengan cara objektif. Hal semacam itu sudah seharusnya berani diterapkan dari sekarang guna membaiknya sistem birokÂraÂsi di pemerintahan. Perbaikan pelakÂsanaan birokrasi terÂutama di bidang perizinan, pengurusan akte kelahirÂan, imiÂgrasi dan taÂnah, juga harus dilakukan.
Perlu diketahui, sampai akhir 2012, jumlah PNS tercatat 4.462.982 orang atau setara deÂngan 1,90 persen dari hampir 241 juta jiwa penduduk IndoÂnesia. Jumlah ini masih ditambah peÂgawai honorer yang meÂnyeÂbabÂkan postur birokrasi tambun.
Menteri Pembedayaan AparaÂtur Negara dan Reformasi BiroÂkrasi (Menpan-RB) Azwar AbuÂbakar memastikan pelaksanaan tes penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tak ada lagi titipan, baik dari pejabat maupun dari pegawai kementerian.
“Orang sudah memahami tiÂdak bisa lagi melakukan itu, suÂdah diÂusahakan semaksimal mungkin tidak ada,â€kata Azwar.
Menteri asal Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga menjeÂlaskan, bagi para oknum yang keÂtahuan bermain dalam proses peÂnerimaan CPNS, akan segera diÂproses hukum. “Tangkap dan keluarkan saja,†tegasnya.
Azwar menjelaskan, saat ini setiap tahunnya PNS yang penÂsiun ada 30 ribu. Sedangkan yang baru diangkat menjadi PNS seÂkitar 60-70 ribu plus pegawai hoÂnorer. Oleh karena itu, dia berÂharap, melalui tes penerimaan CPNS ini dapat menyaring orang-orang pandai dan memiliÂki kapabilitas untuk bisa menjadi PNS di setiap kementerian dan lembaga pemerintahan.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani YusÂtika menilai, moratorium CPNS harusnya terus dilanjutkan untuk menekan besarnya belanja pegaÂwai saat ini, terutama di daerah.
“Gendutnya komposisi pegaÂwai masih terlihat dari besarnya alokasi belanja pegawai di setiap instansi,†kata Erani.
Erani mengatakan, jumlah peÂgaÂwai idealnya sesuai angÂgaran. Apalagi besarnya belanja peÂgaÂwai dinilai tidak produktif dari sisi pembangunan karena tidak diiringi perbaikan kebuÂtuhan peÂlayanan masyarakat. Karena itu, pemerintah sebaiknya mengeÂluarkan aturan besaran alokasi belanja pegawai.
“Moratorium harus tetap dilaÂkukan. Kaji betul-betul sejauhÂmana PNS menjawab kebutuhan pelayanan pada masyarakat,†ucapnya.
Menurut dia, belanja pegawai terutama di daerah telah menelan sebagian besar Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Belanja pegawai memakan porsi 42,33 persen pada APBN Perubahan 2012 atau sebesar Rp 261,15 triliun. SeÂmentara belanja modal hanya menÂdapat 22,28 persen atau Rp 137,43 triliun.
“Ini membuat pembangunan infrastruktur rendah, tidak ada terobosan untuk pembangunan daerah miskin,†tandasnya.
Menteri Keuangan Agus MarÂtowardojo membenarkan, akan ada perekrutan PNS tahun ini. Namun, perekrutan tidak akan dilakukan secara besar-besaran, melainkan sesuai kebutuhan seÂtiap instansi baik kementerian/lembaga dan Pemerintah Daerah (pemda). [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09