ASEAN Economic Community (AEC)
ASEAN Economic Community (AEC)
“Indonesia masih berpeluang memetik keuntungan di kawasan ASEAN dengan adanya perjanÂjian tersebut,†ujar Menteri PerinÂdusÂtrian (Menperin) MS Hidayat.
Alasannya, kata dia, sektor inÂdustri non migas terus meÂngÂalami pertumbuhan. Kinerja sekÂtor inÂdustri non migas sampai triÂwulan III tahun 2012 menunÂjukkan hasil yang positif dengan pertumbuhan 6,5 persen.
Menteri dari Partai Golkar itu mengatakan, beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan IndoneÂsia dari AEC adalah populasi penÂÂduduk ASEAN yang berjumÂlah 590 juta jiwa atau 8 persen daÂri total penduduk dunia dengan perÂtumbuhan Produk Domestik BruÂto (PDB) 5,6 persen. DitamÂbah adanya stabilitas makro ekonomi yang ditunjukkan deÂngan tingkat inflasi 3,5 persen.
“Itu memberikan peluang keÂpada industri nasional memperÂluas pasar produknya,†ucapnya.
Hidayat menyatakan, perjanjiÂan juga dapat mendorong arus masuk investasi ke dalam negeri sehingga menciptakan multiÂplier effect dan memudahÂkan joint veÂnture dengan peruÂsahaan ASEAN. Itu lebih memuÂdahkan akses bahan baku yang belum dapat dipasok dari dalam negeri.
Pemerintah telah memprioÂritaskan beberapa sektor industri untuk dikembangkan guna mengÂisi pasar ASEAN, seperti industri berbasis agro (CPO, kakao, kaÂret), industri produk olahan ikan, industri tekstil dan produk teksÂtil, industri alas kaki, kulit dan baÂrang kulit.
Namun, Hidayat mengaku AEC memÂÂberikan tantangan keÂpada pemerintah, yaitu masih leÂmahÂnya pengawasan masuknya proÂduk-produk impor di bawah stanÂdar kualitas, lambannya peÂngÂamanan dan perlindungan terÂhaÂdap praktik unfair trade.
Ketua Umum Himpunan PeÂnguÂsaha Muda Indonesia (Hipmi) Raja Sapta Oktohari mengatakan, AEC 2015 bisa membuka peluÂang sekaligus ancaman bagi InÂdoÂneÂsia. “Pasar kita berpotensi menÂjadi pasar negara lain,†katanya.
Okta mengatakan, dengan jumÂlah penduduk sekitar 247 juta jiwa, Indonesia menjadi yang terbesar di ASEAN. BeÂsarÂnya jumlah penduduk ini menjaÂdikan Indonesia incaran para pelaku ekonomi untuk meÂngeruk keunÂtungan sebesar-besarnya.
“Untuk itu, pemerintah dan pengusaha haÂrus bekerja sama lebih kreatif dan berusaha lebih keras menyeÂdiakan keÂbutuhan dalam negeri,†saran Okta.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Suryo Bambang Sulisto mengaÂtakan, pemerintah harus segera menyelesaikan masalah infraÂstruktur, birokrasi dan ketidakÂpastian hukum untuk bisa berÂsaing dalam AEC pada 2015.
“Menghadapi pasar bebas ASEAN 2015, kita harus cermati dengan seksama. Ini sudah meÂnyangkut pasar yang paling beÂsar dan siap diserbu. Kita harus tetap menjaga pertumbuhan ekoÂnomi yang baik dan tetap menÂjadi neÂgara berkembang yang paling menarik untuk tuÂjuan investasi meski ini tidak muÂdah,†tandas Suryo. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09