Berita

ilustrasi

Dunia

Pensiunan Penguasa Rame-rame Jadi Konsultan Perdamaian

Sorot Keinginan Filipina Bawa Laut China Selatan Ke Mahkamah Internasional
KAMIS, 24 JANUARI 2013 | 09:56 WIB

Meski sudah pensiunan, para bekas pembuat keputusan atau decision maker Asia tetap ingin berperan penting di dunia internasional. Pilihannya jatuh menjadi konsultan perdamaian.

Para eks penguasa ini berga­bung dalam Asian Peace and Reconciliation Council (APRC) atau Dewan Per­da­maian dan Rekonsisliasi Asia. APRC, lem­baga non pemerintah yang me­ngusahakan terjadinya perda­maian dan re­konsiliasi. APRC pertama kali diluncurkan pada pertemuan di Thailand, Sep­tember 2012.

Lembaga ini di­bentuk bekas pejabat yang ingin aktif mewu­judkan perdamaian dan rekon­siliasi. Saat ini, APRC diketuai bekas Wakil Perdana Menteri (PM) yang juga Menlu Thailand Sura­kiart Sathirathai.

Kehadiran lembaga yang di­di­rikan oleh para bekas pemimpin di Asia itu, melahirkan harapan ma­syarakat di kawasan (Asia) akan terjadinya perdamaian.

Kemarin, Gedung Sekretariat ASEAN di Jakarta jadi tempat per­temuan pertama APRC de­ngan para diplomat dan per­wa­kilan luar negeri yang ada di In­do­nesia, serta utusan tetap di ASEAN.

Dalam sambutannya, anggo­ta APRC yang juga bekas Men­lu Hasan Wirajuda menya­ta­kan, menghargai kesuk­sesan Indone­sia dalam melak­sanakan de­mok­­rasi.

“Kami me­ng­apresiasi In­do­­ne­sia dalam melaksanakan de­mok­rasi yang telah dimulai, ter­utama sejak reformasi,” katanya.

Hasan menilai, pembentukan lembaga ini merupakan sebuah re­aksi atas berbagai konflik yang tengah terjadi akhir-akhir ini, khu­susnya di kawasan Asia.

“Kami menginginkan agar se­tiap negara (yang sedang ber­kon­flik) mau me­nerima pende­katan yang dila­ku­kan pihak ke­tiga,” imbau Hasan.

Anggota APRC asal Indonesia lain, bekas Wapres Jusuf Kalla, menyampaikan panda­ngan­nya terkait konflik di suatu negara.

“Tidak ada negara yang be­nar-benar terbebas dari konflik. Ma­ka dari itu, konflik membu­tuh­kan dialog. Kami adalah kon­sultan perdamaian,” kata Kalla menje­laskan tujuan lem­baga yang didi­rikan para be­kas pe­mimpin itu.

Dia menekankan dialog seba­gai bentuk upaya penyelesaian konflik. “Dari dialog akan diha­silkan kepercayaan. Dari keper­cayaan akan lahir pengetahuan. Dari pengetahuan kita mem­bu­tuhkan jaringan untuk melak­sanakannya,” kata JK.

“Jadi konsultan perdamaian itu penting, sama seperti kon­sultan bisnis,” imbuhnya.

Bekas PM Pakistan Shau­kat Aziz turut menyatakan pen­da­patnya. “Perdamaian tidak akan kom­plet jika tidak diiringi de­ngan rekonsiliasi,” kata Aziz.

Anggota APRC asal Fin­lan­dia, Juha Christensen, me­nya­takan, kehadiran APRC pada da­­sarnya bukan untuk me­laku­kan inter­vensi terkait dengan konflik yang sedang terjadi di suatu wilayah.

“Kami berada di sini untuk me­layani dan melengkapi upaya per­damaian,” tukas Chris­tensen yang juga Ketua Peace Archi­tecture and Conflict Tran­forma­tion Alliance (PACTA).

Pertemuan itu mengangkat kasus sengketa di Laut China Selatan. Bekas Wakil PM Singa­pura Shunmugam Jayakumar mengutarakan pen­dapat priba­dinya mengenai seng­keta Laut China Selatan. Dia tetap menya­rankan kedua belah pihak agar tidak terus berprasangka buruk.

“Apa yang sangat dibutuhkan dalam sengketa itu adalah upaya damai untuk menyelesaikan ma­salah, mengurangi ketegang­an dan menin­dak­lan­jutinya ber­da­sar­kan Undang Undang Laut In­ternasioal atau UNCLOS,” te­rang Jayakumar.

“Harus ada langkah diplo­ma­tik. Jangan ada prasangka buruk me­ngenai kedaulatan,” katanya.

Jayakumar menyebut sikap Fi­lipina yang ingin membawa seng­­keta ilaut China Selatan ke ting­kat inter­nasional, sebagai sikap yang unilateral (se­pihak). Filipina disarankan meminta pen­dapat China terlebih dulu se­be­lum mem­bawa sengketa itu ke pe­ngadilan internasional.

“Kita belum tahu respons dari China mengenai hal ini. Cara yang paling efektif dalam me­ngatasi sengketa ini tetap dengan mengurangi ketegangan,” pung­kas Jayakumar.

Sebagai anggota  APRC, Jaya­kumar mengatakan bah­wa ku­rang baik untuk berko­mentar me­ngenai sengketa terse­but, ter­utama yang berkaitan de­ngan resolusi konflik. Pihak APRC ha­nya akan sepakat beker­ja bila kedua belah pihak yang berseng­keta menyetujui keha­di­rannya sebagai mediator konflik.

Sebagai salah satu organisasi yang mengkampanyekan per­da­maian, APRC pun siap mem­ban­­tu negara-negara lain di be­lahan dunia ini yang tengah di­landa konflik antar negara mau­pun konflik domestik.

Organisasi itu beranggotakan para pakar-pakar yang tak lain mantan negarawan ternama di dunia. Mereka juga dapat mem­buat rekomendasi kebijakan yang dapat dipertimbangkan untuk resolusi konflik.  [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

UPDATE

OTT Pegawai Pajak Jakarta Utara: KPK Sita Uang Ratusan Juta dan Valas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:14

Mendagri: 12 Wilayah Sumatera Masih Terdampak Pascabencana

Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:04

Komisi I DPR: Peran TNI dalam Penanggulangan Terorisme Hanya Pelengkap

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:33

X Ganti Emotikon Bendera Iran dengan Simbol Anti-Rezim

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:27

Trump Sesumbar AS Bisa Kuasai 55 Persen Minyak Dunia Lewat Venezuela

Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:10

Konten Seksual AI Bikin Resah, Grok Mulai Batasi Pembuatan Gambar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:52

Ironi Pangan di Indonesia: 43 Persen Rakyat Tak Mampu Makan Bergizi

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:41

Emas Antam Berkilau, Naik Rp25.000 Per Gram di Akhir Pekan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:34

Khamenei Ancam Tindak Tegas Pendemo Anti-Pemerintah

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:22

Ekonomi Global 2026: Di Antara Pemulihan dan Ketidakpastian Baru

Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:06

Selengkapnya