ilustrasi
ilustrasi
Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo mengatakan, pihakÂnya masih tetap menggunakan stiker yang ditempel pada kenÂdaraan dinas. Alasannya, pelakÂsanaannya tertera dalam PerÂaturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 12 Tahun 2012.
“Penempelan stiker itu untuk meÂnandai kendaraan dinas yang tidak boleh menggunakan BBM berÂsubsidi,†kata Susilo saat SoÂsialisasi Permen Nomor 1 Tahun 2013 di kantornya, kemarin.
Berdasarkan pantauan Rakyat Merdeka di tempat parkir KeÂmenÂÂterian ESDM, kualitas stiker yang ditempel pada kendaraan dinas tersebut mudah rusak dan ada beberapa yang luntur.
Kepala Badan Pengatur KeÂgiatan Hilir Minyak dan gas bumi (BPH Migas) Andy Noorsaman Sommeng juga mengakui, kuaÂlitas stiker yang ada saat ini kuaÂlitasnya kurang bagus. “Iya, meÂmang jelek,†kata Sommeng.
Dia juga kesal ketika mengeÂtahui buruknya kualitas stiker pembatasan BBM untuk pemeÂrintah maupun BUMN se-JaboÂdetabek. Disamping mudah meÂngeÂlupas, warna stiker pemÂbaÂtasan BBM juga mudah pudar. Pihaknya menjanÂjikan kualitas stiker untuk pemÂbatasan di Jawa dan Bali akan lebih baik.
Sebelumnya, Sommeng meÂngaÂtakan, anggaran yang dikeÂluarkan tahun lalu untuk 200 ribu stiker di Jawa-Bali sekitar Rp 2 miliar. Adapun pemaÂsanganÂnya akan ditempel di sisi dalam kaca mobil sehingÂga tidak mudah rusak.
Menurutnya, efek penggunaan stiker untuk pembatasan konÂsumÂÂsi BBM masih belum besar. â€Jika ingin pembatasan efektif, stiker harus dilengkapi chip Radio FreÂquency Identification (RFID),†usul Andy.
Pengamat energi dari ReforÂMiner Institute Komaidi NotoÂnegoro mengatakan, perlu adaÂnya audit terkait buruknya kuaÂlitas stiker tersebut.
“Seperti yang terÂlihat seÂkarang, stiker itu sudah diÂrudung masalah seperti pengaÂwasan dan operaÂsional lainÂnya,†kata Komaidi.
Menurutnya, perbaikan kebijaÂkan BBM harus dimulai dari peÂnataan mobil pribadi dan keÂnaikÂan harga. “Tapi dengan pemÂbaÂtasan seperti ini (stiker) yang diÂhemat tidak seberapa, justru mengÂhambur-hamburkan uang APBN,†tegasnya.
Anggota Komisi VII DPR Satya W Yudha mengatakan, renÂcana pengendalian konsumsi BBM bersubsidi tidak akan efekÂtif dengan mekanisme meÂmaÂsang stiker. Untuk itu, dia akan meÂminta keterangan pemerintah samÂpai sejauh mana keefektifan penggunaan stiker ini. Termasuk soal pembuatan stiker yang meÂmakan anggaran besar tapi kuaÂlitasnya buruk.
“Ini kebijakan pemborosan. Kita akan terus evaluasi pelakÂsanaannya. Apalagi stiker terÂsebut sangat mudah digandakan atau dipalsukan,†kata Satya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09