ilustrasi
ilustrasi
“Prediksi kami seperti itu. Kalau 2012 nilai kapitalisasi konstruksi nasional hanya Rp 360 triliun, tahun ini akan temÂbus Rp 400 triliun,†kata Ketua Umum Gapensi SoeharÂsojo di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, prediksi terseÂbut dikarenakan pertumbuhan ekonomi nasional tetap tumÂbuh. Ditambah kebutuhan pemÂbangunan untuk proyek inÂfraÂstruktur meningkat dari tahun ke tahun. “Kuenya besar sekali dan ini akan berlangsung terus hingga beberapa tahun ke deÂpan,†ungkapnya.
Soerharsojo juga meminta kepada pihak terkait agar pasar konstruksi yang demikian besar itu bisa dioptimalkan untuk keÂpentingan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh.â€Kami perlu duÂkungan penuh, khususnya oleh pemerintah,†katanya.
Gapensi mengakui, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Salah satunya, perlunya rantai pasok konÂsÂtruksi nasional diintegrasikan secara utuh.
“Kontraktor pada berbagai kelas baik besar, menengah dan kecil belum saling bermitra dan berkolaborasi yang saling meÂnguntungkan,†keluhnya.
Akibatnya, lanjut dia, dari segi penguasaan pangsa pasar konstruksi, sampai saat ini seÂbagian besar atau 85 persen niÂlai pasar konstruksi dinikmati oleh kontraktor non kecil yang berjumlah 13 persen dari total kontraktor nasional sebanyak 182.800 badan usaha. SedangÂkan 15 persen nilai pasar konÂstruksi diperebutkan oleh konÂtraktor kecil yang berÂjumlah 87 persen.
“Yang besar idealnya jadi pemimpin yang menggandeng kontraktor kelas menengah dan kecil. Ini namanya membentuk rantai pasok konstruksi nasioÂnal, termasuk untuk melawan kekuatan asing,†tandasnya.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto mengaÂtakan, masih banyak masalah yang perlu diperhatikan dari berbagai pihak. Misalnya, ranÂtai pasok konstruksi naÂsional saat ini belum terinteÂgrasi seÂcara utuh. Pelaku usaha jasa konstruksi dari berbagai skala usaha terlihat belum saling bekerja sama dalam suatu moÂdel kemitraan yang saling meÂnguntungkan.
Saat ini posisi kontraktor di skala kecil masih berada pada posisi yang belum seimbang dalam sistem sub kontraktor dengan perusahaan besar. PaÂdahal, kata Djoko, data naÂsioÂnal menunjukkan dari seÂluÂruh jumlah kontraktor 182.800 baÂdan usaha, yang memiliki kuaÂlifikasi kecil 87 perÂsen, meÂneÂngah 12 persen dan besar haÂnya 1 persen. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09