ilustrasi, gula
ilustrasi, gula
Wakil Menteri Pertanian (WaÂmentan) Rusman Heriawan meÂngatakan, target swasembada gula sulit tercapai pada 2014. MeÂnurutnya, swasembada baru bisa tercapai setelah 2014 karena terÂkendala masalah lahan.
“Swasembada gula diharapkan tidak hanya untuk memenuhi keÂbutuhan konsumsi, juga meÂmeÂnuhi kebutuhan industri dalam bentuk gula rafinasi (industri),†kata Rusman kepada Rakyat Merdeka, Jumat (18/1).
Namun untuk gula konsumsi, dia memprediksi bisa tercapai pada tahun tersebut. Sedangkan gula rafinasi, Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhannya dan masih tergantung kepada imÂpor. Saat ini industri gula keÂkuÂrangan lahan 300 ribu hektar untuk pengembangan produksi.
Bekas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) ini berharap, maÂsalah lahan selesai diatasi agar pemerintah bisa memenuhi keÂbutuhan gula dalam negerinya baik untuk konsumsi maupun industri tanpa perlu impor.
Untuk diketahui, pemerintah merevisi target swasembada gula yang sebelumnya 5,7 juta ton hingÂga 2014, menjadi 3,1 juta ton. Revisi target swasembada gula itu menurun hampir 45,6 persen.
Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengaku, pihaknya suÂlit mewujudkan perluasan areal tebu di luar Jawa karena gugatan para pemilik hak guna usaha (HGU) yang tidak ingin lahannya dijadikan areal tanaman tebu.
“Memang kita perlu 300.000 hektar lahan baru untuk tebu di luar Jawa, tetapi sulit diwujudkan karena lahan itu masih dikuasai rakyat. Sementara lahan HGU yang telantar juga terkendala dari sisi hukum,†katanya.
Suswono meminta peran swasÂta untuk terjun mencari terobosan agar swasembada gula bisa terÂwujud. Menurutnya, perluasan areal tebu merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proÂduksi gula dan hal itu juga menÂjaÂdi kendala di sejumlah pabrik gula.
Menteri Perindustrian (MenÂperin) MS Hidayat mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemÂbicaraan dengan Badan PertaÂnahan Nasional (BPN) dan KeÂmentan untuk mencapai target swasembada gula.
“Dalam rangka swasembada gula yang sudah terhamhat lebih dari dua tahun, kita membuÂtuhÂkan sekitar 300.000 hektar lahan yang sekarang coba direaÂlisasi,†kata Hidayat.
Menurutnya, BPN sudah meÂngajukan lahan seluas 300.000 hektar terdiri dari 18 lokasi yang seluruhnya berada di luar Pulau Jawa, yakni Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Menurut dia, tiap lokasi kurang lebih seÂkitar 20.000 hektar lahan dengan skema intiplasma agar maÂsyaÂraÂkat sekitar bisa ikut terlibat.
Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro mengatakan, untuk mencapai swasembada gula 2014, kurang lebih memerlukan gula 3 juta ton untuk gula konÂsumsi. KaÂrena itu, dia pesimis swaÂsembada gula pada 2014 bakal tercapai akibat tidak ada upaya perluasan lahan.
“Upaya mewujudkan swaÂsemÂbada gula 2014 dipastikan seÂmaÂkin sulit dan jauh dari mimpi, mengingat masalah terbesar upaÂya perluasan lahan tebu tidak peÂrÂnah dilakukan. Bahkan perÂiziÂnan lahan yang diajukan BUMN juga terus dipersulit,†ujar Ismet.
Swasembada itu akan diÂperÂoleh dari pabrik gula yang ada sebÂaÂnyak 2,57 juta ton, 1,32 juta ton daÂÂri pabrik gula Badan Usaha MiÂlik Negara (BUMN) dan 1 juta ton pabrik gula swasta. Selain itu, juga harus ada tambahan gula dari pemÂbangunan 10-25 pabrik gula baÂru sebanyak 2,13 juta ton. ProÂduksi pabrik gula BUMN dan swasÂta saat ini sudah bisa menÂcapai 2 jutaan ton, sehingga masih memÂbutuhkan sekitar 1 jutaan gula.
Pengawasan Gula Rafinasi
Dirjen Industri Industri Kecil dan Menengah (IKM) KemenÂperin Euis Saedah mengatakan, pihaknya akan melakukan pengaÂwaÂsan terhadap IKM yang menÂdapat pasokan gula rafinasi. PeÂngawasan itu dilakukan agar gula khusus industri itu tidak rembes ke pasaran. “Kita akan awasi keÂtat penggunaan gula rafinasi agar tidak terjadi penyimÂpaÂngan,†katanya kepada Rakyat Merdeka.
Menurut Euis, saat ini IKM sudah mendapat pasokan gula rafinasi dari Asosiasi Gula RaÂfinasi Indonesia (AGRI) untuk kebutuhan bahan bakunya. SeÂbab, selama ini mereka kesulitan untuk memperolehnya.
Ketua Umum AGRI Suryo Alam meÂngatakan, alokasi impor gula mentah (raw sugar) selama 2013 mencapai 2,26 juta ton. Jumlah tersebut lebih rendah 3,83 persen dari alokasi impor 2012 sebesar 2,35 juta ton. “Impor dilakukan secara bertahap per semester. 60 persen di semester perÂtama dan 40 persen di seÂmesÂter kedua,†tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09