ilustrasi, Banjir
ilustrasi, Banjir
Bisnis ritel Indonesia mengaÂlami kerugian sebesar Rp 460 miÂliar akibat dari banjir yang meÂlanda DKI Jakarta dalam bebeÂrapa waktu terakhir.
“Distribusi yang terhambat akibat banjir Jakarta mengakiÂbatkan kerugian sebesar Rp 460 miliar,†kata Wakil Sekretaris Jenderal AsoÂsiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Satria Hamid Ahmadi Jumat (18/1).
Dia mengatakan, nilai kerugian akibat banjir yang melanda JaÂkarta tersebut sebesar 30 persen dari total kerugian distribusi unÂtuk seluruh wilayah Indonesia.
“Untuk kerugian akibat hamÂbatan distribusi secara nasional sekitar Rp 1,2 triliun, karena benÂcana bukan hanya terjadi di JaÂkarta,†jelas Satria.
Kerugian tersebut, lanjutnya, akibat dari para pemasok mengaÂlami kesulitan akses untuk meÂngiÂÂrimkan produk-produkÂnya, terutama sayuÂran dan buah.
Berdasarkan data Aprindo, paÂsokan buah dan sayur selama satu hari sebanyak lebih dari 467 ribu ton. Namun, akibat cuaca eksÂtrim dan bencana banjir di beÂberapa daeÂrah selama bebeÂrapa hari itu, paÂsokan menurun menÂjadi sekitar 396 ribu ton per hari.
“Pasokan berkurang sebesar 10 sampai 15 persen, atau kaÂpasitas hilang kurang lebih 70 ribu ton per hari. Selain cuaca buÂruk dan bencana banjir, hal itu juga akibat infrastruktur yang kurang memaÂdai,†ujar Satria.
Hal yang sama dirasakan pengÂusaha makanan dan miÂnuman (mamin). “Sebenarnya, kerugian secara pasti belum diketahui kaÂrena beÂlum ada laporan dari angÂgota kaÂmi. Namun banjir yang terjadi di Jakarta dan beberapa daerah memÂbuat omzet industri mamin turun 40 persen dari total omset per harinya,†kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman IndoneÂsia (GAPMMI) Adhi S Lukman.
Adhi menjelaskan, secara nasional omzet industri mamin mencapai Rp 2 triliun per hari. Jika menurun 40 persen, berarti industri ini kehilangan omzet sekitar Rp 500 miliar. Pihaknya memÂprediksi kerugian masih terjadi Jumat (18/1) karena disÂtribusi masih terkendala. “KemaÂcetan dan banjir masih terjadi hari ini, termasuk di jalan tol Jakarta-Cikampek. Tapi, kalau normal omzet tahun ini mencapai Rp 2 triliun per hari,†jelasnya.
Wakil Ketua Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) DKI JaÂkarta Sarman Simanjorang meÂngaÂtaÂkan, sebagai pusat perekoÂnomiÂan nasional, ekonomi JaÂkarta saÂngat terganggu dengan musibah banjir ini. “Bencana ini tidak terÂduga dan membuat shock kalaÂngÂan pelaku usaha,†katanya.
Yang justru membuatnya seÂdih, pemerintah belum punya soÂlusi untuk mengatasinya. Ia mempredksi, kerugian ekoÂnomi Jakarta jika diakumulasiÂkan secara umum bisa mencapai Rp 1miliar -Rp 1,5 miliar per jam.
“Banjir yang melanda Ibukota Jakarta memÂbuat aktivitas ekoÂnomi lumÂpuh total dan akan mengÂÂganggu perÂtumbuhan ekoÂnomi Jakarta. Pelaku usaha akan menÂdukung penuh program PemÂprov DKI Jakarta untuk meÂngatasi masalah ini. Lebih cepat akan lebih baik,†ujar Sarman kepada Rakyat Merdeka.
Sarman menyatakan, beÂbeÂrapa dampak menonjol yang dirasaÂkan penguÂsaha adalah tergangÂgunya distribusi barang dan akÂtivitas logistik, tersendatÂnya tranÂsaksi keuangan dan bisÂnis, terÂsenÂdatÂnya proses produksi dan aktivitas kantor yang tidak berÂjalan akibat karyawan yang tidak masuk, keÂrusakan infraÂstruktur dan lainnya.
“Yang patut diingat, 70 perÂsen perputaran uang nasional ada di Jakarta. Jika ibukota lumÂpuh, maÂÂka dampaknya bisa naÂsional,†warning Sarman.
“Kita sangat beharap Pemprov DKI Jakarta dengan dukungan penuh pemerintah pusat sudah harus segera merumuskan deÂngan serius dan fokus untuk meÂnyeÂlesaikan permasalahan banjir di Ibukota. Masalah banjir ini sangat merugikan dunia usaÂha dan masÂyarakat serta akan mengganggu pertumbunan ekoÂnomi Jakarta,†pintanya.
Banjir besar ini diperkirakan akan ikut menambah potensi beÂban inflasi serta mempengaÂruhi iklim investasi. Menurut ekoÂnom Samuel Sekuritas IndoÂnesia Lana Soelistianingsih, poÂtensi beban inflasi terjadi kaÂrena banÂjir melumpuhkan seÂbagian besar kegiatan ekonomi terutama di sektor perdagangan, ritel, transÂportasi, manufaktur, logistik dan asuransi.
“Harga baÂhan makanan diperÂkirakan menÂjadi andil inflasi terÂbesar,†ujarnya Jumat (18/1).
Banjir besar sebelumnya terÂjadi pada Januari 2007 dengan keÂruÂgian ekonomi diperkirakan menÂcapai Rp 2,2 triliun. SebeÂlum banÂjir Jakarta ini, badai sikÂlon sempat membuat jalur peÂlayaran tergangÂgu. Nelayan tiÂdak melaut dan terÂputusnya disÂtribusi Jawa-SumaÂtera. Ada keÂkhawatiran terÂgangÂgunya supÂlai bahan makaÂnan.
Menurut Lana, sektor berbasis makanan jadi dan obat-obatan akan diuntungkan dalam jangka pendek ini. Selanjutnya, sektor berÂbasis perbaikan rumah, peraÂlatan rumah tangga (elektronik) dan infrastruktur juga akan diÂuntungkan pasca banjir ini.
Menteri Keuangan Agus MarÂtowardojo memperkirakan, banjir akan memicu inflasi menÂdekati 1 persen pada Januari 2013 dibanÂding bulan yang sama pada 2012.
“Jadi saya melihat bahwa kita mesti ambil range di atas. Kalau kita lihat, range bisa di bawah tengah atas, mungkin range di atas mungkin bisa sampai menÂdekati 1 persen,†ujarnya.
Agus mengakui, hujan banjir sudah mulai mengkhawatirkan pemerintah karena akan meÂngaÂkibatkan transportasi tidak lanÂcar. Hal ini yang kemudian berÂdamÂpak pada inflasi nasioÂnal. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09