Masa Kontrak Asing Mau Habis, Pemerintah Belum Putuskan Blok Blok MaÂhaÂkam
Masa Kontrak Asing Mau Habis, Pemerintah Belum Putuskan Blok Blok MaÂhaÂkam
Kepala SKK Migas Rudi RuÂbiandini menegaskan, huÂbuÂngan dengan Total tidak hanya sampai di sini atau berakhirnya kontrak pengelolaan Blok MaÂhaÂkam sampai tahun 2017 saja.
Menurutnya, kehadiran Total E&P Indonesie yang sudah berÂpuluh-puluh tahun mengelola Blok Mahakam sudah sangat memberikan manfaat bagi ekoÂnomi nasional. Apalagi saat ini produksi gas Indonesia terÂganÂtung pada perusahaan minyak dan gas (migas) asal Prancis itu.
Rudi mengatakan, Indonesia tidak bisa arogan untuk meÂngeÂlola blok migas sendiri. SeÂbab, keÂmampuan sumber daya alam (SDA) saja tidak cukup, tapi harus memiliki teknologi dan investasi yang besar.
“Karena itu, kita tidak bisa jaÂlan sendiri dan menutup diri daÂlam pengelolaan migas,†kata Rudi di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis malam (17/1).
Kendati begitu, bekas Wakil Menteri Energi dan Sumber DaÂya Mineral (ESDM) itu meÂngaÂtakan, SKK Migas hanya peÂlaksana dan akan menÂjaÂlanÂkan sepenuhnya keputusan peÂmeÂrintah terkait nasib Blok MaÂhakam.
Total E&P Indonesie juga tiÂdak diam. Perusahaan asal PranÂcis itu terus melakukan lobi keÂpada pemerintah. President Director and General ManaÂger Total E&P Indonesie EliÂsabeth Proust mengeluhkan ketidakpasÂtian investasi Total di Indonesia setelah masa kontrak habis 2017. Hinggi kini piÂhakÂnya maÂsih melakukan diskusi deÂngan pemerintah soal keÂpastian nasib Total setelah 2017.
Dia juga menyayangkan deÂngan adanya politik perusahaan asing dan nasional. Padahal, Total E&P Indonesie merupakan perusahaan Indonesia dan mulÂtinasional, dengan pegawai loÂkal mencapai 3.700.
“Saya sedih mendengar kata asing,†curhat Proust.
Proust mengatakan, Total meÂrupakan investor migas terÂbeÂsar di Indonesia. Untuk tahun lalu, pihaknya mengeluarkan invesÂtasi Rp 25 triliun dan baÂgian neÂgaranya mencapai Rp 67 triliun. Hingga saat ini, dari Blok MaÂhakam pemerintah telah meÂnerima Rp 830 triliun. ArÂtinya, 80 persen keuntungan diterima negara.
Pengamat energi Sofyano ZaÂkaria mengatakan, SKK MiÂgas harusnya pro kepada keÂpenÂtingan nasional.
“Saya duÂkung pernyataan Menteri ESDM Jero Wacik yang meminta SKK Migas yang diÂpimpin Rudi Rubiandini lebih pro nasional,†katanya
Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Awang Farouk meÂngatakan, aliansi masyarakat Kaltim sudah meminta ke DPR agar Blok Mahakam dikelola daerah. Saat ini, pihaknya meÂnunggu putusan DPR.
Untuk pengelolaan Blok MaÂhakam bisa mencontoh Riau. Di sana lapangan eks Caltex yang habis kontraknya dikuasai PerÂtamina 50 persen dan BUMD 50 persen. “Mereka lihat itu bisa dilakukan di Blok Mahakam. Kontrak Total tidak perlu diperÂpanjang tapi diberikan blok miÂgas baru,†kata Awang. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09