ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
“Pengendalian saja tanpa ada penyesuaian harga tidak bisa menekan subsidi BBM,†ujar Ketua Persatuan Insinyur InÂdoÂnesia (PPI) Said Didu kepada RakÂyat Merdeka, kemarin.
Menurut dia, yang harus dilaÂkukan pemerintah untuk menÂcegah terus melonjaknya subÂsidi BBM dalam Anggaran PenÂdaÂpaÂtan dan Belanja Negara (APBN) adalah menyelesaikan disparitas harga.
Said mengatakan, saat ini disÂparitas BBM subsidi dan non subÂÂsidi sudah hampir 100 perÂsen, sehingga kebijakan apapun dari pemerintah untuk mengenÂdaÂlikan BBM subsidi tidak akan berhasil. Sebab, masyarakat akan tetap membeli BBM subsidi.
Jika pemerintah ngotot meÂlaÂkukan pembatasan BBM subÂsidi untuk kendaraan pribadi, haÂnya akan memperluas kegiatan peÂnyelundupan. Pasalnya, keÂlomÂpok yang diperbolehkan akan menjualnya kembali.
“Angkutan umum dan nelayan bisa jadi penjual BBM subsidi, karena keuntungannya besar dari disparitas harga itu,†katanya.
Bekas Sekretaris Kementerian BUMN ini menilai, wacana pemÂbatasan BBM subsidi untuk kenÂdaraan pribadi hanya peÂngaÂlihan isu saja. Sebab, rencana pemÂbaÂtasan pengÂgunaan BBM subsidi untuk mobil pribadi buÂkan kali ini saja.
Dia juga mempertanyakan, siÂkap pemerintah yang masih beÂlum mau menyesuaikan harga. Padahal, saat ini 80 persen peÂnikÂmat subsidi adalah kalangan kelas menengah yang memÂpuÂnyai mobil pribadi. SemenÂtara maÂsyarakat desa yang tidak puÂnya motor dan mobil tidak memÂperÂolehnya.
Said menduga ada tekanan dari pihak tertentu kepada pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi. Tekanan tersebut bisa berasal dari importir BBM ke Indonesia. Kalau harga BBM subsidi dinaikkan, penjualan akan berkurang karena disparitas deÂngan harga BBM non subsidi keÂcil. Kondisi ini akan menguÂrangi jumlah impor BBM.
“Ini tentu mengganggu para imÂportir BBM. Saat ini kita impor premium dari Singapura dan kaÂpasitas kilang di sana sama deÂngan jumlah impor ke IndoÂneÂsia,†ungkapnya.
Padahal, kebijakan impor BBM sudah menyebabkan terjadinya defisit perdagangan Indonesia. Hal tersebut menyebabkan nilai tukar rupiah terus anjlok yang ujungÂnya berdampak pada inflasi.
Menteri Energi dan Sumber DaÂya Mineral (ESDM) Jero WaÂcik mengatakan, pihaknya masih mengkaji pembatasan BBM subÂsidi untuk mobil pribadi guna meÂnekan konsumsi.
Namun, pemerintah belum meÂmutuskan mekanisme peÂngenÂdaÂlian BBM bagi kenÂdaÂraan priÂbadi tersebut. PeÂmeÂrinÂtah sedang menÂcari formula agar dalam peÂlakÂsanaannya tidak menimbukan keributan di pom bensin.
Wacik juga mengaku selain peÂngendalian, pemerintah mengÂkaji opsi kenaikan harga BBM untuk menekan konsumsi. “KaÂlau tak ada sesuatu yang ekstrim misalÂkan pertumbuhan ekonomi baik dan investasi baik, mungkin tiÂdak perlu naik,†katanya.
Kepala Badan Kebijakan FisÂkal Kementerian Keuangan BamÂbang Brodjonegoro mengatakan, impor BBM ikut menyumbang defisit neraca perdagangan yang hingga November 2012 tercatat 1,33 miliar dolar AS.
“Walaupun impor BBM hanya 25 persen, tetapi ikut berkonÂtriÂbusi terhadap neraca perÂdaÂgaÂngan kita,†ujarnya.
Bambang menjelaskan, imÂpor tersebut meningkat pesat kaÂrena konsumsi BBM berÂsubsidi teÂlah melebihi kuota yang diteÂtapkan pemerintah dan kondisi ini dari segi fiskal diÂrasakan tiÂdak sehat.
Untuk diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor hasil minyak Januari-NoÂvember 2012 mencapai 10,1 miÂliar dolar AS dan impor miÂnyak mentah mencapai 26 miliar doÂlar AS dari keseluruhan imÂpor non migas 137,2 miliar doÂlar AS. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09