ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
“Mereka (pemerintah) akan teÂtap menjaga citranya menuju Pemilu 2014†kata Wakil DiÂrektur Reforminer Institut KoÂmaidi Notonegroro kepada RakÂyat Merdeka, kemarin.
Padahal, kata Komaidi, wakÂtu yang tepat untuk menaikkan harga BBM subsidi adalah tahun lalu. Karena tidak dilakukan, alhasil, saÂat ini subsidi BBM dalam AngÂgaran Pendapatan dan BeÂlanja NeÂgara (APBN) terus memÂbengkak.
Menurut dia, subsidi BBM yang besar sudah sangat mengÂganggu pembangunan. Apalagi selama ini subsidi baÂnyak tidak tepat sasaran. Komaidi memÂprediksi, kenaikan harga BBM akan dilakukan setelah 2014.
“Mungkin pemerintah yang baÂru nanti berani ambil keputusan. Tekanan subsidi ini sudah sangat mengkhawatirkan,†katanya.
Komaidi mengatakan, jika peÂmerintah menaikkan harga BBM setelah Pemilu, maka keÂnaikannya akan besar karena subsidi juga teÂrus naik. “Bisa jadi naikÂnya dua kali lipat. Mestinya kan kenaikan itu dilakukan bertahap,†jelasnya.
Menurut dia, gara-gara peÂmeÂrintah tetap mempertahankan subÂÂsidi yang tidak tepat sasaran ini, berbagai program konversi BBM ke energi alternatif tidak berÂÂjalan. Masyarakat lebih meÂmiÂlih BBM karena harganya murah.
Pengamat ekonomi dari LemÂbaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) Latif Adam mengatakan, waktu yang tepat menaikkan harÂga BBM adalah awal tahun ini. Pasalnya, pemerintah bisa leluasa mengalokasikan anggaran untuk mendorong pertumbuhan ekoÂnoÂmi di tengah krisis global.
Namun, ia mengaku kebijakan ini akan menimbulkan risiko poÂlitik yang cukup besar, khuÂsusÂnya bagi partai penguasa dalam PeÂmilu. Sebab, kenaikan harga haÂnya selang satu tahun menÂjeÂlang pelaksanaan Pemilu 2014.
Hal berbeda disampaikan peÂngamat ekonomi Danareksa InsÂtitute Purbaya Yudhi Sadewa. MeÂnurutnya, kenaikan harga BBM tahun ini akan berpengaruh pada sosial, politik dan pertumbuhan ekonomi.
Dia menilai, bahaya yang timÂbul jika pemerintah mencabut subsidi BBM adalah apakah dana tersebut bisa tersalurkan untuk infrastruktur. Padahal, tahun ini adalah tahun politik dan rawan kebocoran.
Selain itu, kenaikan harga juga mengacu pada Indeks KepercayaÂan MasÂyarakat (IKM) dan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK). Kata Purbaya, khusus untuk IKM sudah di bawah 90 atau di baÂÂwah batas aman dan akan seÂmaÂkin meÂnurun. Padahal, keÂbijakan meÂnuÂrunkan harga BBM belum pernah diÂambil Pemerintah SBY-Boediono.
“Diprediksi jika pemerintah meÂÂnaikkan harga BBM, maka daya beli tidak kunjung kuat dan akan berpengaruh terhadap perÂtumbuhan ekonomi. Makanya indeks kepercayaan masyarakat akan anjlok,†terangnya.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa lebih memilih opsi pemÂbatasan dan pengendalian BBM dibanding menaikkan harga BBM bersubsidi tahun ini. “Sementara pikiran kita kendalikan dan kita batasi,†ujar Hatta, kemarin.
Menurut dia, saat ini Pertamina telah menyiapkan langkah peÂngendalian berupa penggunaan teknologi agar tidak terjadi keÂboÂcoran penggunaan BBM berÂsubÂsidi. “Pertamina yang akan meÂlaÂkuÂkan itu karena kita tahu daÂlam 46 juta kiloliter (KL) itu paÂling tiÂdak 10-20 persen terjadi keÂboÂcoÂran. KaÂlau kita kendalikan itu kan sudah luar biasa besar,†katanya.
Hatta menegaskan, langkah konÂkret dari pengendalian dan pemÂbatasan BBM subsidi ini diÂtenÂtukan oleh Pertamina. “NanÂti diÂpaparkan Pertamina, karena itu bisa mengawasi dari bawah samÂpai tiap pom bensin,†tandasnya.
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik meÂminta perusahaan besar memÂbanÂtu pemerintah menghemat pengÂgunaan BBM subsidi. Dia menÂcontohkan, PT Medco E&P telah mewajibkan karyawannya mengÂguÂnakan bahan bakar gas, terÂmasuk menyiapkan kenÂdaÂraanÂnya. Sementara PT Astra telah memerintahkan pegawainya tidak menggunakan BBM subsidi.
“PengÂhematan perlu dilakukan agar kuota BBM bersubsidi sebeÂsar 46 juta kiloliter tahun 2013 tiÂdak terlampaui,†kata Wacik. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09