Kementerian ESDM
Kementerian ESDM
Wakil Menteri Energi Sumber DaÂya Mineral (ESDM) Rudi RuÂbiandini menegaskan, pihaknya siap disalahkan terkait program tersebut. Namun, pengendalian BBM subsidi akan tetap dilaÂkuÂkan terhadap kendaraan dinas peÂÂmerintah yang mulai diberÂlaÂkukan awal tahun ini.
“Kami sih terima saja disaÂlahÂkan,†kata Rudi, kemarin.
Menurut dia, jika tidak ingin diÂsalahkan, lebih baik kemenÂteÂrian tidak membuat program apaÂÂpun. “Jika ada pihak yang mengÂhujat, cukup diterima dengan hati terbuka,†imbuhnya.
Kesiapan Kementerian ESDM siap dihujat itu menanggapi perÂnyataan Kepala Badan KeÂbijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Bambang BrodjoneÂgoro yang menyebut kebijakan pembatasan BBM subsidi yang digembar-gemborkan KemenÂterian ESDM tahun lalu tidak maksimal dampaknya.
Jika menengok tahun lalu, suÂdah ada beberapa skema peÂngenÂdalian yang dijalankan KeÂmenÂterian ESDM. Seperti peÂlaraÂngan mobil dinas pemeÂrintah ‘miÂnum’ bensin subsidi, BUMN dan BUMD mengÂkonÂsumsi BBM bersubsidi lewat sistem stiker.
Kemudian melaÂrang kendaraÂan operasional di wilayah tamÂbang dan perkebunan mengkonÂsumsi BBM subsidi. Namun, kebijakan ini tidak memÂbawa dampak keÂpada pengheÂmatan konsumsi BBM subsidi.
“Jangan cuma sekadar janji, mau mengendalikan ini-itu, tapi tiÂdak ada efeknya,†cetus Bambang.
Tahun lalu, pemerintah harus melakukan dua kali penambahan kuota BBM bersubsidi. Awalnya disediakan kuota BBM subsidi 40 juta kiloliter (KL), kemudian diÂlakukan penambahan 4,04 juta KL dan ditambah lagi 1,2 juta KL sehingga realisasi tahun lalu 45 juta KL.
Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo juga meminÂta Kementerian ESDM serius meÂningkatkan pengendalian pengÂguÂnaan BBM subsidi. “PengenÂdalian BBM harus dapat dilakukan lebih baik dan konkret. Pembatasan haÂrus ditingkatkan, inisiatifnya ini ada di ESDM,†kata Agus.
Agus juga menegaskan, tahun ini tidak ada rencana menaikkan harga BBM subisidi.
Menteri ESDM Jero Wacik teÂtap optimis dengan terus berÂupaÂya menjaga besaran volume pengÂgunaan BBM subsidi sebaÂgaiÂÂmana ditetapkan APBN dengan mengeÂluarkan Peraturan Menteri ESDM No.1 Tahun 2013 TenÂtang Pengendalian Penggunaan Bahan Bakar Minyak yang berÂlaku sejak 2 Januari 2013.
Anggota Komisi VII DPR Teuku Riefky Harsya meminta pemeÂrinÂÂtah memperketat pengaÂwasan penggunaan BBM bersubÂsidi. Ia menyayangkan kinerja KeÂmenÂteÂrian ESDM yang masih sangat buruk. “Kuota BBM berÂsubsidi tahun 2012 lebih rendah dibanÂding proyeksi dalam APBN PeruÂbahan 2011 sebesar 40,4 juta KL. Tapi kok bisa berkali-kali jeÂbol, pemeÂrintah dua kali mengÂajukan peÂnambahan kuota BBM bersubÂsidi,†kata Riefky. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10
Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09