Berita

ilustrasi

Bisnis

Rem Rupiah Blong

Terus Nyungsep & Nyaris Menyentuh Level Rp 10.000 Per Dolar AS
KAMIS, 10 JANUARI 2013 | 08:32 WIB

Rupiah hilang kendali. Kurs nasional ini mendekati Rp 10.000 per dolar AS. Kalangan analis pun kebingungan.

Mata uang rupiah seperti ke­hilangan rem alias blong, nilainya terus jatuh terhadap dolar AS. Pelemahan ru­piah ini termasuk yang terparah dibandingkan mata uang negara Asia Tenggara lain. Rupiah sudah melemah enam ha­ri penuh, menuju pelemahan ter­panjang sejak 15 September 2011.

Menurut data Bloomberg, ru­piah sempat tersungkur ke Rp 9,837 per dolar AS. Namun pada pukul 13.30 WIB, nilai tukar ru­piah membaik ke 9.743.

Direktur Currency Ma­nage­ment Group Farial An­war me­ngatakan, kejatuhan rupiah ter­golong paling parah di antara ne­gara Asia Tenggara lain­nya.

“Depresiasi rupiah sa­ngat ano­mali dengan pasar modal yang terus reli,” kata Farial.

Dia memprediksi, tekanan atas rupiah akan terus ber­lanjut, bah­kan bisa lebih keras diban­ding tahun 2012. Se­bab, kini pa­sokan dolar sa­ngat jauh lebih se­dikit diban­ding per­mintaan dolar AS yang me­lonjak tajam.

Selain faktor global, me­ning­kat­nya selera risiko dan kebu­tuh­an kor­­porasi akan dolar AS, dia me­lihat ancaman lain ber­asal da­ri kekhawatiran ma­sya­rakat yang berlebihan tentang isu re­de­­no­mi­nasi rupiah. “Telah terjadi panic buying karena me­reka takut de­ngan redenominasi, nilai ru­piah akan turun,” jelas Farial.

Dengan kecenderungan tek­ni­kal yang terus anjlok, Farial me­rekomendasikan pelaku pasar un­tuk ambil aksi beli dolar. Wa­lau­pun sepertinya bakal susah men­cari dolar AS.

Kepala Divisi Treasury, Nurul Etti Nurbaeti me­nyarankan pe­laku pasar yang me­megang dolar untuk am­bil aksi wait and see.

“Jual atau beli dolar AS sesuai ke­perluan saja,” saran Nurul.

Nurul bilang, saat ini keseim­bangan ru­piah masih di level 9.700-9.800-an per dolar AS. Dia berharap, regulator men­cegah ru­piah ke arah Rp 10.000.

Berbeda dengan Nurul, Farial melihat ada peluang rupiah terus anjlok ke Rp 10.000 per dolar AS. “Bank indonesia (BI) ten­tu­nya akan terbatas meng­gu­na­kan ca­dangan devisa untuk me­nye­la­matkan rupiah, walaupun mes­tinya ada beberapa kebijakan mo­neter yang lain untuk menye­la­mat­kan rupiah,” terang Farial.

Analis Divisi Trea­sury BNI Raditya Ariwibowo meng­atakan, intervensi BI mem­batasi rupiah melemah, ke­marin. Dari ekster­nal, data non­ farm payrolls Ame­rika Serikat yang positif men­jadi alasan pelaku pasar cen­derung memegang dolar AS.

Analis Monex Investindo Futures Zulfirman Basir meng­analisa, data eksternal lainnya membuat ru­piah bisa terangkat. Salah sa­tu­nya hasil pen­jualan ri­tel di Eropa yang diperkirakan mem­­baik dari -1,2 persen men­jadi 0,3 persen. Selain itu, nera­ca per­da­gang­an Jerman dipro­yeksi meningkat.

Membingungkan

Pergerakan nilai tukar rupiah yang terus melemah beberapa ha­ri belakangan ini diakui mem­bi­ngungkan. Pasalnya, dana asing yang masuk di Indonesia (inflow) tetap mengalir.

“Inflow dalam beberapa hari terakhir banyak tetapi entah ke­napa nilai tukar justru terus ter­tekan,” ungkap Ekonom Bank Da­­namon Anton Gunawan.

Nilai tukar di beberapa negara di satu kawasan, tambah Anton, juga tidak ada yang meng­alami pelemahan seperti rupiah.

“Kemarin waktu pemerintah me­ngumumkan spending belanja (Ke­menterian dan Lembaga 2012) agak rendah, memang jadi sen­ti­men negatif sebentar. Na­mun in­flow tetap masuk,” kata Anton.

Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo berpenda­pat, nilai tukar rupiah yang men­capai Rp 9.700 per dolar AS di­nilai me­miliki dampak positif bagi eks­por, karena akan me­ning­katkan daya saing terhadap pro­duk do­mes­tik.

“Kalau kita punya nilai tukar rupiah di (kisaran) Rp 9.500-9.700 per dolar AS, ya, dam­pak­nya ke ekspor-impor Month to Month (MTM). Kelihatan tidak terjadi peningkatan impor yang tinggi. Tapi ekspor justru ada pe­ningkatan, karena eksportir me­rasa ada faktor nilai tukar ru­piah, sementara importir me­rasa ada kemahalan kalau dia me­lakukan impor,” ujar Agus. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Sidang Bluray Cargo Ungkap Kode-kode Suap untuk Kementerian/Lembaga

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58

Duel Raksasa Eropa Prancis Hadapi Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37

Adian Napitupulu: Kehadiran Buku Anotasi KUHAP Penting bagi BAM DPR

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25

Pengacara Bantah Don Ritto Terlibat dalam Megakorupsi Bersama Febrie

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00

Harga Minyakita Masih di Atas HET, Kemendag Bakal Perketat Distribusi Lewat BUMN

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45

Revisi UU Zakat, FOZ Dorong Skema Zakat sebagai Pengurang Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37

Sinopsis Film Kung Fu Soccer, Comeback Stephen Chow Raup Rp1,3 Triliun dalam Dua Hari

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33

Menag Ajak Alumni PTKIN Berkontribusi di Pemerintahan Prabowo

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13

Ade Ginanjar Bela Bahlil: Polemik Batu Bara Jangan Digiring ke Ranah Politik

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10

Spesifikasi Lengkap Samsung Galaxy A27 5G Indonesia, Segini Harganya

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09

Selengkapnya